L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Aku gila kata mereka

Ah.. Mereka bilang aku gila. Hahahah,, tidak, tentu saja tidak.

Orang gila mana yang bangun sebelum subuh, memasak, mencuci, menjemur kain, dan beberes rumah sebelum semua anggota rumah
terjaga dari lelapnya. Kemudian mencuci piring ketika beberapa anggota rumah sudah sarapan dn berangkat kerja. Semua itu dilakukan sambil terus berjaga kalau2 anak2 terbangun dan mencariku. Anak Sulung ku berusia 3 tahun, yang kedua 1 tahun dan yang terakhir masih dalam kandungan berusia 5 bulan. Jika saja mereka mereka terbangun dan menangis, aku harus segera ke kamar.. Sebelum mertuaku datang dan mengomeliku tentang apa saja. Tidak jarang juga Ku gendong anak kedua sambil terus bekerja, sesekali manggendong anak pertama jika dia rewel ketika demam. Nah, orang gila mana yang manggendong dua anak dan terus memasak, menjemur kain, menyapu dan mengepel?

Setelah selesai mencuci piring sarapan, biasanya aku kembali sibuk didapur, membuatkan makanan untuk anak2ku.. Kemudian memandikan dan menyuapi mereka, lepas itu kembali aku harus merapikan barang2 yang tadi kupakai, mertuaku tak suka dapurnya berantakan.

Siang mulai terik ketika perutku terasa kram, kuletakkan anak kedua diatas kasur dan rebahan disampingnya.. Aku merasa sangat lelah,, tiba2 mertuaku datang, membawa anak Sulung yang tengah menangis dan terus mencubitnya, "anakmu menggunduli tanaman hias milikku, tak pandai kau mengajari anak..." Dan kalimat panjang lainnya tak berhasil kurekam sebab aku sudah sibuk menenangkan si sulung, tapi bukannya reda.. Malah anak keduaku ikut menangis melihat kakaknya. Telingaku bingung harus memilah antara kalimat mertua dan lengkingan tangis mereka, pun dengan perut yang masih kram.

Kini, dua bocahku sudah tenang, tak akan lagi merasakan cubitan.. Tamparan.. Dan bentakan..

Mereka sudah lelap, dan bahagia.

Aku juga tak harus lagi menjadi babu dari awal subuh hingga larut malam, menunggui suamiku yang sering pulang mabuk2an. Atau mendengar omelan mertuaku dan pandangan iba dari tetangga yang jarang kutemui dijalanan.

Aku sudah bahagia sekarang, manggendong anak ketigaku yang ajaibnya, tak pernah menangis, mengompol ataupun demam.

"bu, saatnya minum obat ya.." Seorang gadis manis nan wangi menghampiriku membawa nampan. Tersenyum sambil sesekali diikuti dua bocahku yang berlarian didekatnya.

Jalan Cinta Para Pejuang

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan.
Meloncati rasa suka dan tidak suka.
Melampaui batas cinta dan benci.
Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.
Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.
Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.
Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita.
-Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang-

Taat? Duhai beratnya, tertatih-tatih dalam perih. Ya, sejatinya ini hanya tentang kebodohan diri dan rasa iri pada mereka yang lebih leluasa berbakti pada orang tua. Bakti? Lagi-lagi ini tentang kebodohan diri yang merasa 'bakti' berbenturan dengan 'taat'. Ah, bodohnya.

"Di jalan cinta para pejuang. Allah lebih tahu tantang kita", Allah lebih tahu tentang kita! Ya, sesederhana itu sebenarnya: Allah lebih tahu betapa pedihnya dan betapa bodohnya, Allah lebih tahu betapa bencinya dan betapa cintanya, Allah lebih tahu betapa taat itu demikian berat tapi hikmah memang tak akan datang di awal pagi. Mengapa? Karena di jalan cinta para pejuang, Allah ingin melihat kesungguhan berjuang, Allah ingin mendengar rintihan ketika tersayat keharusan taat.


Allah lebih tahu tentang kita! Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Aku lelaki dengan dua cinta

Aku lelaki, yang memiliki cinta untuk dua perempuan berbeda.. yang satu adalah wanita tempat pertama kali cintaku tumbuh sedang  satu yang lain adalah wanita tempat cintaku berlabuh.

Sepenuh bakti untuk cinta pertamaku, perempuan yang berusaha mengabulkan setiap pintaku meski dengan peluh, Perempuan yang mencukupkan semua keperluanku meski  harus bersakit-sakit, perempuan yang bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi hidupku dan perempuan itu kupanggil ibu.

Sepenuh cinta untuk wanita terakhirku, yang terlihat kuat meski kutahu kerap menangis, wanita yang bersedia mendampingiku dan merelakan perpisahan dengan orang-orang yang jelas memiliki cinta tulus untuknya, orang-orang yang sejak kecil disebutnya keluarga. Dia memilihku, aku tahu bahwa dia punya cinta yang tak pernah berhasil diungkapkannya dengan kata-kata untukku. Wanita penyempurna agamaku.

Dan tahukah? Tak pernah kukira serumit ini. Ada satu penghubung yang belum kutemukan diantara cinta segitigaku. Ketika seorang anak diperintahkan dan diulangi hingga tiga kali untuk menghormati ibunya, kuyakin ini bukan perintah sembarangan (itu sisi pertama); ketika seorang manusia diizinkan sujud kepada manusia yang lain maka akan diperintahkan istri untuk sujud pada suaminya, (ini sisi kedua); lalu mana sisi ketiganya? Mana hubungan langsung antara kedua cintaku itu? Hubungan antara mertua dan menantu.

Aku lelaki, yang memiliki cinta untuk dua perempuan berbeda.. yang satu adalah wanita tempat pertama kali cintaku tumbuh sedang  satu yang lain adalah wanita tempat cintaku berlabuh.

Dua perempuan yang akan mengajarkanku untuk membuat sekeping mata uangku berdiri gagah dengan dua sisinya tetap tegak (meski kerap aku belum berhasil melakukannya). aku tidak mungkin membiarkan cinta terakhirku berada di bawah, itu akan menyakitinya. Dia yang telah menyerahkan baktinya untukku tidak akan kusia-siakan. Tapi lebih tidak mungkin lagi kubiarkan cinta pertamaku yang berada dibawah, padahal kutahu cintanya tanpa cela untukku: purna, selain juga ketidaksanggupanku menidakkan perintahnya.

Ah.. ini rumit, haruskah selalu kumintai pengertian dari cinta terakhirku? Dan bagaimana caranya agar cinta pertamaku bersedia membagi aku pada cinta terakhirku?

Aku lelaki, yang memiliki cinta untuk dua perempuan berbeda.. yang satu adalah wanita tempat pertama kali cintaku tumbuh sedang  satu yang lain adalah wanita tempat cintaku berlabuh.

Rokok

“Setiap kali aku melihatnya merokok, setiap kali itu pula aku merasa kalah. Dia tahu betapa bencinya aku pada kegiatan itu, dan betapa sangat seringnya aku mengeluhkan dan memintanya berhenti. Tapi tidak sekalipun dia mendengarkanku, tidak sekalipun”

Aku diam, menunggu kalimat selanjutnya.

“dan perkara rokok itu pula, untuk pertama kalinya dia mengingkari janjinya sendiri, sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebelumnya dan setelahnya hingga saat ini”

“apa sebelum menikah, kakak tidak mengetahuinya?”

“beberapa hari sebelum menikah, dan bodohnya aku jumawa sekali, merasa yakin bahwa dia akan berubah demi ‘aku’. Merasa bahwa ‘aku’ bisa menjadi alasannya untuk meninggalkan batang haram itu. Ah, betapa bodohnya aku. Tapi dia pernah berjanji untuk berhenti, pernah”

Aku merasakan emosi dalam kalimatnya.

“kapan kak?”

“berhenti maksudmu? Entah..entah kapan. Sebenarnya bapakku perokok aktif, dan aku merasa tersiksa sekali ketika nyaris setiap malam beliau batuk-batuk, aku membayangkan betapa lelahnya beliau. karena itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencari suami yang tidak merokok, sekian lama perkenalan kami, tapi aku baru mengetahuinya beberapa hari sebelum menikah. Kau tahu betapa menyakitkannya itu dik?”

“ya, sebab pernikahan tak mungkin dibatalkan lagi” aku memberi simpulan

***

“hari ini aku merokok”

Aku tersedak kopi yang kuminum.

“lucu sekali candaanmu kakak”

“tidak, aku tidak sedang bercanda dik, aku tidak main-main perkara rokok”

“bagaimana aku bisa yakin, aku tahu betapa bencinya kakak pada rokok”

“ya, tapi kenyataannya aku merokok, aku memutuskan untuk merokok. Aku lelah dik, lelah memintanya untuk berhenti, jadi kupuskan untuk mengikutinya. Terdengar bodoh memang, tapi begitulah”

**

Sekian lama aku tidak mendengar kabarnya lagi, pertanyaan terakhirku tentang respon suaminya tak kunjung dijawab. Mungkin kini mereka sedang kompak batuk-batuk, atau malah kompak sakit-sakitan. Aku juga benci sekali dengan rokok, sangat benci. Hingga sering kali aku berdoa agar sejarah rokok hilang dari peradaban manusia. Ah, sebenarnya doaku sudah terkabul, mana ada rokok dalam sejarah manusia beradab. Haha

aku jadi penasaran sendiri, senikmat apa rokok tersebut, sehingga para perokok seperti menutup mata, telinga dan hati terhadap kebenaran bahaya rokok, bahkan fatwa haram pun tetap membuat mereka bergeming. Untuk para gadis yang sedang menunggu belahan jiwa, pikirkan berkali-kali menjadikan para perokok tersebut menjadi tambatan hati, sebab bagaimana mereka akan menjagamu sedangkan untuk menjaga diri mereka sendiripun mereka tidak mampu. bagaimana mereka akan melindungimu dan anak-anakmu kelak, sedangkan melindungi jantung, hati dan seluruh titipan Tuhan berupa tubuh saja mereka tidak mampu.

Note: untuk si kakak,, sejatinya aku ingin untuk tidak tahu kabar terakhir yang kau kirim, menyakitkan ketika tahu bahwa kau juga merokok kak. 

Karena manisnya hidup, kita yang tentukan.

Mengutip pesan Tropicana,, mamang sejatinya kita yang menentukan manisnya hidup_ mungkin pernah suatu kali kita merasa hidup ini sangat pahit seperti kopi. Tapi jika kita berani sedikit saja menoleh,, ada hal yang akan membuat hidup kita terasa lebih manis, nama gula tersebut adalah orang-orang yang menyayangi kita, orang-orang yang tidak pernah menenggelamkan kita ketika terjatuh, orang-orang yang selalu punya senyum penyeka air mata kita, orang-orang yang selalu punya semangat ketika kita nyaris putus asa. Orang-orang dengan gelas penuh cinta untuk kita.

Namun dibalik itu semua, tetaplah diri kita sendiri sebagai kuncinya, diri kitalah yang menentukan apakah sang gula akan kita gunakan sebagai penawar pahit atau memilih mengabaikan manisnya gula dan tenggelam dalam pekatnya pahit. Apakah memilih untuk bangkit lagi dengan bekal bergelas-gelas cinta dari orang-orang yang menyayangi kita atau memilih berputus asa tanpa peduli bahwa pilihan tersebut menyakiti mereka,, sang gula.

Mendengarkan

Seni berbicara itu adalah mendengarkan.
Hehe.. entahlah, tiba-tiba terfikir kalimat janggal itu di kepalaku yang penjelasannya saja aku tidak mengerti bagaimana. Yang pasti menurutku, seorang pembicara yang baik haruslah seorang pendengar yang baik, sehingga dia bisa paham bagaimana rasanya mendengar kalimat-kalimat yang dibicarakan, menghindari kalimat berulang dengan makna sama meskipun untuk penekanan, memilih kalimat-kalimat efektif yang meski tidak banyak tapi tepat sasaran.

susahkah menjadi pendengar?? sejatinya tidak_ sebab anotomi tubuh manusia sudah membantu agar hal tersebut menjadi mudah, dengan ketersediaan dua telinga, seharusnya kita lebih mudah untuk mendengarkan daripada berbicara tapi sayangnya kebanyakan kita menafikan hal itu.

contoh sederhana, betapa seringnya kita memotong pembicaraan orang lain tanpa sempat menunggu dia selesai berujar padahal kalimatnya tidak terlalu panjang.

dua telinga dikalahkan oleh satu mulut..! dan akibatnya, pesan menarik yang harusnya dapat kita tangkap menjadi tidak sampai.

kemudian, hal lucu yang seringkali terjadi adalah

hahaha.. lucu bukan? merasa menjadi orang paling menderita seantero jagad. padahal mungkin lawan bicara punya masalah lebih penting yang akan diperdengarkan.

'memberi tanggapan',, juga termasuk salah satu kesulitan kebanyakan pendengar, 
dan parahnya..

 lebih parah lagi jika..

ah.. ternyata tidak mudah memang jadi pendengar,, jadi solusinya mungkin:

*gambar diambil disini

Seberapa Pantas

Aku kembali keatas kasur, setelah menyelesaikan subuh dan mencuci sekaligus menjemur tumpukan pakaian sejak dua hari yang lalu. Pintu kamar terkuak dan kulihat teman sekamarku masuk sambil menanggalkan headset dari telinganya, tidak lama.. sebuah lagu mengalun dari speaker hape yang diletakkannya di atas lemari. Lagu lama tapi baru kali ini sangat mengena..

Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu
Cukup indahkah dirimu untuk s'lalu kunantikan
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku
Mampukah kita bertahan disaat kita jauh

Seberapa hebatkah kau untuk kubanggakan
Cukup tangguhkah dirimu untuk s'lalu kuandalkan
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang
Sanggupkah kau meyakinkan disaat aku bimbang..

Aku tersenyum sendiri mendengarnya.. sindiran apa ini..! niat awal untuk kembali tidur-tiduran urung kulakukan.

sederhana yang rumit

Hal yang selalu berusaha kupahami adalah: cinta kita sederhana.. namun rasanya tidak sesederhana itu, ada kerumitan yang kadang hanya bisa diakhiri dengan air mata.. tanpa kutahu penyelesaiannya.

Maka kali ini biar kukatakan bahwa: aku mencintaimu dengan segala kerumitan, dengan rindu dan kesal, dengan harapan dan keikhlasan, sebab tak mungkin aku berharap tanpa sekaligus mengikhlaskan.


Belati

Aku lebih mampu menikam perasaanku, berkali-kali.. daripada menggores hati orang tuaku sendiri.
Mereka terlalu indah untuk untuk kabar sepahit ini..!

aku dan 'Kajian'


Baiklah.. padang mulai rintik, seperti petang beberapa hari terakhir yang selalu meneteskan hujan.. aku baru saja mengajar dikelas pada lokasi cabang terjauh, yang mengharuskanku bertukar angkot hingga dua kali untuk mencapai tempat ini (syukurlah tidak perlu melintasi tujuh sungai dengan jalan kaki *ingat kisah teman-teman SM3T)

Ah.. yang hendak kubahas bukan tentang semua itu tapi tentang kesibukanku akhir-akhir ini. Kesibukan?? Yaph_ belakangan aku mulai sibuk mengagumi kenalan-kenalan baruku di salah satu kajian yang kuikuti (lebih tepatnya mengagumi pengetahuan mereka),, meski tidak langsung kuutarakan, tapi sungguh mereka ‘keren’ sekali,, ‘keren?? Ya..! sungguh keren pengetahuan mereka tentang topik-topik yang dibahas sehingga aku tidak berani bersuara (aku tidak yakin untuk memakai kata ‘belum’ untuk menggantikan kata ‘tidak’). Bukan bermaksud mengaku sebagai katak tapi memang mereka membuka ‘tempurung’ku, bahwa ternyata duniaku tidak sedamai di dalam tempurung, bahwa ternyata  ada banyak hal di luar sana yang kupikir selama ini baik-baik saja. Tahukah.. setelah membaca penjelasan demi penjelasan, aku akan termangu beberapa jenak, merasakan lompatan-lompatan dalam listrik antar ujung syaraf dalam otakku (dan itu membuatku selalu ketinggalan untuk berkomentar), untuk kemudian melanjutkan membaca komentar lain dari mereka.

Malu sebenarnya pada diri, rasanya otakku seketika terseok-seok mengikuti pengetahuan baru tersebut hingga setiap kali mengerjakan quiz dari kajian, aku harus mengulang membaca lagi, memahami lagi dan menjawab seadanya, tidak rinci, tidak tajam dan (mungkin) jauh dari jawaban yang seharusnya. Tapi sekali lagi, meski merasa jadi orang paling tolol disana, aku bersyukur bisa bergabung, membuka mata lebih lebar bahwa islam itu indah dan bahwa ‘perang sudah dimulai’ dengan atau tanpa (mu),, jadi sebaiknya segera masuk barisan,, kenali strategi lawan dan asah tajam pedang(mu) serta jangan lupa terus belajar.

Hahaha_ jadi kajian apa itu? (baru sadar setelah berceracau panjang).. begini kawan_ aku mengikuti kajian kristologi (oopz_ jangan dulu berkomentar,, sebelum dapat penjelasan).. disana aku belajar mengenai bible yang bukan injil dan juga bukan al-kitab, belajar tentang (mirisnya) konsep Tuhan, nabi, dan Malaikat didalam bible tersebut. Pun bentuk ‘perang pemikiran’ yang sudah lama digencarkan terhadap umat islam.. penistaan al-quran, penghinaan terhadap Rasulullah _ ah,, masih banyak yang lain..

Sudah ya,, aku mau pulang, maghrib hendak datang,, aku tidak ingin berada dijalan ketika adzan berkumandang.

:menua:

Mendekati angka seperempat abad, ah_aku sudah mulai tua ternyata, kalau saja dulu aku menikah selepas sekolah lanjutan tingkat atas, tentu anakku sudah tiga dengan jarak masing-masing dua tahun. Hahah_ jika saja memang seperti itu,, tentu lemak sudah tebal menumpuk diperut dan bagian tubuh lainku, wajah gembul dengan rambut dipotong pendek, dipotong pendek?? Ya_ tentu saja sebab setiap pagi aku akan sibuk dengan sarapan untuk suami, itupun kalau dia bekerja dengan jadwal tetap seperti pegawai negeri. Atau aku akan sibuk dengan rentetan pertanyaan anak pertama mengenai perlengkapan sekolahnya (dengan asumsi sudah kelas 1 SD),  anak kedua merengek minta perhatian dan anak ketiga menangis dengan nyaring kehausan, dan bapaknya masih bergelung dibawah selimut tipis dan lusuh. (ah.. imajinasiku terlalu berlebihankah?)

Tidak..tidak.. aku bersyukur hari ini masih bisa menikmati kesendirianku, meski akhir-akhir ini aku sudah harus berfikir untuk memilih pendamping hidup.  Akhir-akhir ini? Memilih? Ya_ sebab aku sudah mulai tua, dan diusia ini aku tidak lagi punya kesempatan untuk mencari, aku hanya harus memilih (sebelum akhirnya usiaku bertambah dan ikhlas untuk dipilih). Hahah_ sekali lagi aku berandai-andai, kalau saja aku masih belum menikah hingga 18 November tahun depan.. pasti senyumku mulai miring menanggapi pertanyaan dari keluarga, karib-kerabat, teman-teman, orang-orang yang telah berjasa untuk hidupku, dan kaum muslimin dan muslimat yang peduli dengan status ‘available’ku #jiaahhh.

Awal tahun ini, telah kutulis rencana menikah, tapi sepertinya penghapus yang kuserahkan pada-Nya dipergunakan dengan baik sehingga mendekati akhir tahun,, belum kutemukan tanggal yang tepat untuk rencana tersebut. Mengenai keinginanku setelah melewati usia 25 tahun-pun sudah kurancang dari sekarang dan tak lupa pula kuserahkan pada-Nya penghapus agar Dia bisa mengganti bagian-bagian yang tidak sesuai dengan hal-hal terbaik yang tentu sudah dipersiapkan-Nya untukku (bukankah Dia sesuai dengan persangkaan hamba-Nya *luv U Rabb)
n alhamdulillah ^^

Daun Kelor Vs Dunia

“Dunia tak selebar daun kelor”. Sejak berseragam putih-merah, nama kelor sudah tidak asing lagi ditelingaku, seolah daun itu sebagai mantra penyelamat ketika guru bahasa Indonesia memerintahkan untuk memberi satu contoh peribahasa.

Pernah suatu kali aku bertanya pada guru bahasa indonesia “daun kelor itu selebar apa?” dan jawaban yang kuterima: “yang pasti tidak selebar dunia”.. ah_ jawaban yang tepat.. jawaban yang membuatku sangat penasaran akan lebarnya dunia, jawaban yang membuatku berjanji untuk mengenal daun kelor lebih dekat: mengapa dia yang dijadikan perbandingan dunia, bukan daun bawang, daun singkong atau daun seledri,, kan lebih mudah dikenal ketimbang daun antah berantah yang kutaksir guru bahasa Indonesia-ku saja tidak tau. *maaf ya pak-buk..

Baiklah,, daun kelor: dengan nama latin morenga oleifera,, mirip daun katuk dan dibeberapa daerah dijadikan sebagai sayuran,  obat-obatan dan ternyata juga berfungsi untuk menahan longsoran tanah karena system akar tumbuhan kelor. *terima kasih untuk yang buat peribahasa.

Menurut penelitian:
Perbandingan gram, daun kelor mengandung:
7 x vitamin C pada jeruk
4 x calcium pada susu
4 x vitamin A pada wortel
2 x protein pada susu
3 x potasium pada pisang

Organisasi ini juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib setelah melakukan studi dan menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah selama 40 tahun ini di negara-negara termiskin di dunia. Pohon kelor memang tersebar luas di padang-padang Afrika, Amerika Latin, dan Asia. National Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008 mengatakan, bahwa pohon kelor “Telah digunakan sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan ayurveda India kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun moringa oleifera.

Manfaat utama daun kelor adalah
  1. Meningkatkan ketahanan alamiah tubuh
  2. Menyegarkan mata dan otak
  3. Meningkatkan metabolisme tubuh
  4. Meningkatkan stuktur sel tubuh
  5. Meningkatkan serum kolesterol alamiah
  6. Mengurangi kerutan dan garis-garis pada kulit
  7. Meningkatkan fungsi normal hati dan ginjal
  8. Memperindah kulit
  9. Meningkatkan energi
  10. Memudahkan pencernaan
  11. Antioksidan
  12. Memelihara sistem imunitas tubuh
  13. Meningkatkan sistem sirkulasi yang menyehatkan
  14. Bersifat anti-peradangan
  15. Memberi perasaan sehat secara menyeluruh
  16. Mendukung kadar gula normal tubuh


Dari hasil analisa kandungan nutrisi dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Dengan mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan terbantu untuk meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya. Selain itu, daun kelor juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai keluhan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin dan mineral seperti kekurangan vitamin A (gangguan penglihatan), kekurangan Choline (penumpukan lemak pada liver), kekurangan vitamin B1 (beri-beri), kekurangan vitamin B2 (kulit kering dan pecah-pecah), kekurangan vitamin B3 (dermatitis), kekurangan vitamin C (pendarahan gusi), kekurangan kalsium (osteoporosis), kekurangan zat besi (anemia), kekurangan protein (rambut pecah-pecah dan gangguan pertumbuhan pada anak).
(dari Wikipedia ^^)

Nah.. rahasia besar yang hendak kubagi untuk remaja putri: daun kelor bisa menghilangkan flek hitam pada wajah,untuk ibu hamil: daun kelor dapat menstabilkan Hb darah, dan untuk ibu menyusui: sebagai pelancar ASI (selain daun katuk).

Tapi ingat: semua yang berlebihan itu tidak baik,, maka jangan mengkonsumsi daun kelor secara berlebihan sebab katanya sih dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal dan pembentukan sperma ketika dosis melebihi 1000 Mg/kg BB. 
*terima kasih lagi untuk yang membuat peribahasa.