L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Karena manisnya hidup, kita yang tentukan.

Mengutip pesan Tropicana,, mamang sejatinya kita yang menentukan manisnya hidup_ mungkin pernah suatu kali kita merasa hidup ini sangat pahit seperti kopi. Tapi jika kita berani sedikit saja menoleh,, ada hal yang akan membuat hidup kita terasa lebih manis, nama gula tersebut adalah orang-orang yang menyayangi kita, orang-orang yang tidak pernah menenggelamkan kita ketika terjatuh, orang-orang yang selalu punya senyum penyeka air mata kita, orang-orang yang selalu punya semangat ketika kita nyaris putus asa. Orang-orang dengan gelas penuh cinta untuk kita.

Namun dibalik itu semua, tetaplah diri kita sendiri sebagai kuncinya, diri kitalah yang menentukan apakah sang gula akan kita gunakan sebagai penawar pahit atau memilih mengabaikan manisnya gula dan tenggelam dalam pekatnya pahit. Apakah memilih untuk bangkit lagi dengan bekal bergelas-gelas cinta dari orang-orang yang menyayangi kita atau memilih berputus asa tanpa peduli bahwa pilihan tersebut menyakiti mereka,, sang gula.

*blank


Desember tanggal 1

Beberapa hari belakangan aku kacau sekali,, paling parah tadi pagi: aku sudah bangun sejak jam empat dan mandi pagi jam setengah delapan,, sebab hari ini aku masuk kerja jam 9. Kupikir rentang waktu tersebut sudah cukup untuk mengumpulkan kesadaran yang diperlukan untuk terjaga.. setelah sebelumnya menyuci pakaian dan menyetrika baju yang sudah kucuci kemaren. Kutenteng keranjang sabunku menuju kamar mandi, dan ritual yang setiap pagi kulakukan dimulai. Aku tersadar ketika busa dari bath sponge yang kugunakan tidak seperti biasa, kali ini busanya lebih kecil dan licin sekali dikulit, kesadaranku mulai terisi penuh ketika mencium baunya,, yaph.. aku bukannya menuangkan sabun cair pink milikku malah menuangkan shampo biru yang jelas-jelas kemasannya berbeda.

Sampai di kantor, aku langsung keruangan.. sedikit redup sebab diluar hujan mulai turun perlahan. Duduk sendirian dibelakang meja tanpa melakukan apapun, aku blank.. hingga seseorang mengetuk pintu, “kenapa lampunya tidak dinyalakan kak?” sapa OB tersebut dan menunggu reaksiku. “heh?? Ada lampu ya?” tanggapan paling konyol yang harusnya tidak kusampaikan. Si OB terdiam dan menekan saklar,, “ada kak” jawabnya tidak kalah polos.

Tidak lama berselang, beberapa teman kerja mulai berdatangan.. salah seorang bertanya penasaran, “hey.. apa yang kamu lakukan disini hari ini? Bukankah harusnya kamu di cabang Sutomo?” aku mengerjap,, mengingat kembali jadwal kerjaku yang berpindah-pindah di empat lokasi cabang,, dan dia benar, jadwalku tidak disini.

Jarum jam di tanganku menunjukkan 10.10,, masih panjangkah hari ini?? 

:menua:

Mendekati angka seperempat abad, ah_aku sudah mulai tua ternyata, kalau saja dulu aku menikah selepas sekolah lanjutan tingkat atas, tentu anakku sudah tiga dengan jarak masing-masing dua tahun. Hahah_ jika saja memang seperti itu,, tentu lemak sudah tebal menumpuk diperut dan bagian tubuh lainku, wajah gembul dengan rambut dipotong pendek, dipotong pendek?? Ya_ tentu saja sebab setiap pagi aku akan sibuk dengan sarapan untuk suami, itupun kalau dia bekerja dengan jadwal tetap seperti pegawai negeri. Atau aku akan sibuk dengan rentetan pertanyaan anak pertama mengenai perlengkapan sekolahnya (dengan asumsi sudah kelas 1 SD),  anak kedua merengek minta perhatian dan anak ketiga menangis dengan nyaring kehausan, dan bapaknya masih bergelung dibawah selimut tipis dan lusuh. (ah.. imajinasiku terlalu berlebihankah?)

Tidak..tidak.. aku bersyukur hari ini masih bisa menikmati kesendirianku, meski akhir-akhir ini aku sudah harus berfikir untuk memilih pendamping hidup.  Akhir-akhir ini? Memilih? Ya_ sebab aku sudah mulai tua, dan diusia ini aku tidak lagi punya kesempatan untuk mencari, aku hanya harus memilih (sebelum akhirnya usiaku bertambah dan ikhlas untuk dipilih). Hahah_ sekali lagi aku berandai-andai, kalau saja aku masih belum menikah hingga 18 November tahun depan.. pasti senyumku mulai miring menanggapi pertanyaan dari keluarga, karib-kerabat, teman-teman, orang-orang yang telah berjasa untuk hidupku, dan kaum muslimin dan muslimat yang peduli dengan status ‘available’ku #jiaahhh.

Awal tahun ini, telah kutulis rencana menikah, tapi sepertinya penghapus yang kuserahkan pada-Nya dipergunakan dengan baik sehingga mendekati akhir tahun,, belum kutemukan tanggal yang tepat untuk rencana tersebut. Mengenai keinginanku setelah melewati usia 25 tahun-pun sudah kurancang dari sekarang dan tak lupa pula kuserahkan pada-Nya penghapus agar Dia bisa mengganti bagian-bagian yang tidak sesuai dengan hal-hal terbaik yang tentu sudah dipersiapkan-Nya untukku (bukankah Dia sesuai dengan persangkaan hamba-Nya *luv U Rabb)
n alhamdulillah ^^

kau milik-Nya


Hari ini sahabatku meninggal dunia, meninggalkaan jagoan kecil yang bahkan belum bisa memanggilnya bunda. Selamat jalan teman, senang bisa sekamar denganmu selama dua tahun lebih, senang bisa mengenalmu dan belajar banyak dari kisahmu.. semoga amal ibadahmu diterima, dosa-dosamu diampuni serta diberi tempat yang layak disisi-Nya.
Aku kehabisan kata,, semoga kita dapat bertemu lagi nanti.. dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Amiin

*Fiyanda

Rahasia dua lelaki


Dari balik tabir, kudengarkan wanita itu bicara
mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru

“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita
dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
aku menerka demikian pula wajahnya

“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
jika mereka punya kehendak”

“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”

“lelaki pertama berparas titisan yusuf,
hartanya warisan sulaiman, gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya

aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku

“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,

“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan
bercakap dengan insan paling bijaksana”

aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum

“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
merasa menjadi wanita paling jelita
merasa diriku perempuan paling cendikia”

“jadi di antara mereka”, tanyaku sambil mengepalkan jemari

“siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?”

kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali

“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
dia bersukacita saat menebarkan pesona
dia bahagia ketika banyak hati memujanya”

“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya
daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”

“jadi”, aku menyimpulkan perlahan, “kau memilih yang kedua?”

dia tersenyum lagi, “aku telah mendapatkan yang ketiga”

“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku
dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya
dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan isterinya
meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”

aku tersenyum kini, “tunggu, apakah engkau ini isteriku?”
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah 

Namamu, sang Rasul


Dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebutNya
dan kisahmu yang bertebar merambah hampir tiap surah
bahkan Allah menetapkan; kau terkisah untuk menguatkan jiwa
hati dan rasa seorang Nabi penutup masa

ya, kini aku tahu.. betapa tak mudah menjadimu hai Musa
mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh
maka saat wahyu turun, air matamu menitik, tubuhmu berpeluh
dalam kesadaran akan beratnya beban, kau mengeluh
“bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh”

ya, kini aku tahu, sungguh tak mudah menjadimu
sebab dalam keterbatasan itu, Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas, tentaranya perkasa
punggawanya setia, lagi taat buta
mengaku tuhan tertinggi, dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
dan kau.. kau terhutang budi masa kecil padanya
dan tahukah kau duh Musa, kelak kaum yang kau pimpin
yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka
akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?
malam ini kususuri kisahmu, dan aku takjub atas takdirNya, masa lalumu tak sempurna
kau terpilih memikul risalah suci, dan kau didustakan
sedang Muhammad dipilihNya dari pribadi yang terjaga sempurna
dia memikul risalah dengan gelar al amin yang masyhur sudah
tapi diapun tetap didustakan
mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya
di saat-saat berat, Muhammad mengenangmu dan melirihkan gumam
“semoga Allah menyayangi saudaraku Musa..
sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”
malam ini duhai Musa, kususuri kisahmu

aku tersenyum, alhamdulillah, kau membuatku merasa
beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
tapi di sisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah
“ahh.. surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”

sepenuh cinta,

(don't) be original


Aku memutuskan untuk menjadi perempuan, ah.. jangan kau tanyakan makhluk apa aku sebelum ini, akupun ragu untuk mendeskripsikannya, tapi baiklah_ biar kucoba.

Aku terlahir sebagai muslimah, telah sejak lama juga kugunakan hijab untuk auratku, tapi point pentingnya adalah aku jauh dari kata anggun, aku adalah jenis manusia yang suka berlari, rasanya aku bisa menghemat waktu dengan berlari, sampai-sampai menaiki tanggapun aku berlari, pernah di gedung kampusku yang empat lantai, aku lomba lari dengan seorang teman untuk naik dan turun tangga_ dan kau pasti sudah tau siapa pemenang untuk mendapatkan seplastik gorengan itu: yaph.. tentu saja aku. Tapi berita baiknya adalah aku tidak suka bola kaki, jadi kau tidak akan menemukanku di lapangan hijau ketika sore di kampungku.

Deskripsi lain tentangku adalah: aku bukan jenis manusia yang suka berteman dengan banyak orang, meski bisa cepat akrab dengan siapa saja tapi mereka kukategorikan, kuberi label setiap nama untuk besaran lingkaran yang kuberikan, dan sayangnya lingkaran-lingkaran temanku kebanyakan laki-laki, perempuan? Tentu saja ada tapi cuma sedikit sebab aku tidak mengikuti perkembangan ke’cewek’an dizamanku, mana kukenal dengan artis korea? Dengan boyband-nya yang suka berdandan, aku juga kurang update tentang mode, gossip, dll. Dan yang terpenting, mereka jarang connect jika aku berceloteh tentang anime one piece, fairy tail, SAO, dll.. (yang hari ini sudah kuhapus dan kubuang semua)

Ah,, sudahlah_ yang jelas aku jauh dari sosok perempuan idaman, yang punya pandangan teduh, yang keibuan, yang anggun, yang apapun yang kata teman-teman laki-lakiku adalah kriteria terbaik untuk ibu dari anak-anak mereka, apa peduliku (ketika itu)..!

Namun hari ini, aku memutuskan untuk menjadi perempuan, mengurangi tawa terbahak-bahak (meski haftsah binti ‘umar seperti itu), mengurangi volume suara (kebiasaan berebut bicara dengan teman-teman, mana bisa menyaingi suara bass mereka kecuali dengan teriakan), mengurangi aktivitas lari-lari gak jelas, belajar untuk anggun dan keibuan (Aamiin…..), dan hal lain yang diperlukan.

Dan hari ini, aku memakai pashmina ungu, kupikir cantik tapi seseorang mengatakan bahwa hijabku seperti taplak meja (golok mana golok..) dan kuhabiskaan banyak waktu untuk memakainya sebelum berangkat kerja tapi seseorang mengatakan aku mirip ibu-ibu. Awalnya “benarkah? Mirip ibu-ibu arisan? Mirip ibu-ibu mau pergi kondangan?” pelbagai kesimpulan menari tanpa nada diotakku hingga akhirnya satu kutangkap dan kupegang kuat “ya jelas mirip ibu-ibu kan ya? Kalo bapak-bapak mah gak pake pashmina atuh” (kenapa bahasa sunda???)

Hm.. memang ya, tidak mudah menjadi perempuan, bahkan ketika aku sudah benar-benar berniat untuk menjadi perempuan versiku. Kembali kata-kata seseorang muncul untuk dipertimbangkan: “Adalah konyol memaksakan diri menjadi orang lain setelah ‘hijrah’ dengan berjilbab. Alangkah sunyi dunia jika semuanya seragam, biarkan semuanya sesuai karunia karakter yang Allah lekatkan pada diri kita, maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nushaibah binti ka’ab yang melindungi Rasulullah kemanapun beliau bergerak dalam perang, akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti ummu Hani’ binti Abu Thalib. Akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti ‘Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah. Akan tetap ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah.. jilbab bukan lakon sandiwara yang membuat kita harus jadi orang lain ketika memakainya. Sekali lagi,, jangan sirnakan keunikan diri. Biarkan keindahan warna-warni itu hidup dan meronai dunia dengan pelangi akhlaq.

The princess diaries

The princess diaries.. pernah membaca novel tersebut? Buku yang memiliki delapan seri karya Meg Cabot ini bercerita tentang Mia Thermopolis, gadis 14 tahun yang tinggal bersama ibunya, Helen, dan seekor kucing gendut, ft louie di San Fransisco. Hingga remaja, dia menjalani hidup seperti halnya gadis normal lain di kelas, gadis paling jangkung dan gemar menulis ini sempat berfikir bahwa namanya masuk kelas anak berbakat adalah sebuah kesalahan besar sebab baginya dia adalah seorang gadis biasa tanpa bakat apapun. Kehidupannya langsung berubah total ketika Queen Clarisse, mengundangnya ke kedutaan besar Genovia, hingga akhirnya terungkap bahwa ayahnya adalah seorang putra mahkota kerajaan genovia. Singkat cerita.. dialah pewaris tunggal dari kerajaan makmur tersebut, karena sang ayah sudah meninggal dunia.

Belum usai keterkejutan, mia harus menjalani pelajaran-pelajaran untuk menjadi sang puteri, mulai dari cara berjalan, cara berbicara bahkan ekspresi wajah. Mia yang dibesarkandi kebebasan amerika merasa bahwa aturan-aturan kerajaan terasa aneh dan kaku, sehingga  tidak jarang sifat remaja yang easy going dan ekspresifnya terlihat. Akhir kisah_ mia memang memilih untuk menjadi seorang puteri, penerus kerajaan Genovia, meski awalnya dia sempat berfikir untuk melarikan diri, pun akhirnya dia menemukan seorang laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus.. tidak seperti calon lain yang ditemuinya dilantai dansa ketika perayaan ulang tahun ke-21 yang memang mengharuskannya mencari pendamping hidup sebelum diserahi mahkota kepemimpinan.

Phuuft.. resensi novel selesai, singkat memang_ sebab itu saja yang berhasil kuingat dari novel yang pertama kali kubaca dibangku SLTP itu. Kabarnya novel tersebut sudah difilmkan tahun 2001.. tapi sampai sekarang aku tidak menontonnya dan pun tidak berniat menontonnya, sebab tidak ingin gambaran dalam kepalaku dikacaukan oleh imajinasi sutradara yang tertuang dalam layar.

Dalam kepala kanakku dulu, bagaimana rasanya tiba-tiba menjadi seorang puteri, dimana semua hal yang akan dilakukan telah memiliki aturan baku, harus gini, gak boleh gitu, de el el. Pasti akan sangat merepotkan.. tidak bebas berekspresi, tutur kata harus teratur, baju ini dipakai untuk acara ini, dan model baju seperti itu untuk acara itu. Aarrgghhh_ apa tidak mungkin seorang puteri, penerus kerajaan itu tetap menjadi seorang gadis biasa? Betapa memuakan dan membosankannya hidup dalam aturan-aturan mengikat seperti itu.

Refleksi.. Bagaimana jika suatu kali, dikehidupanmu_ bertemu dengan Queen Clarisse dalam wujud lain, yang memintamu untuk berlaku layaknya seorang puteri agar dapat diserahi mahkota sebagai penerus kerajaannya. Apa yang akan kau lakukan jika saat itu terjadi? Memilih untuk ‘belajar menjadi’ dan itu berat sebab akhirnya meniadakan ‘kau’ yang selama ini. Atau memilih untuk tetap menjadi ‘kau’ dengan memohon pemakluman dari Queen Clarisse. Atau kemungkinan lain: melarikan diri seperti yang sempat terpikir oleh Mia Thermopolis (meski akhirnya dia tidak memilih opsi itu) .

untuk gadis kecil ayah

Untuk gadis kecil ayah:

Apa kabarmu disana nak?

Dikota yang berjarak dua jam perjalanan dari sini, apa kau masih mengingat orang tua renta ini? Yang setiap saat tak henti mendoakan segala yang terbaik untukmu.

Ah.. ayah ingat ketika siang itu, sebelum berangkat kekota, dengan wajah malu-malu kau bercerita tentang niat seorang laki-laki untuk meminangmu. Kau tahu nak_ sudah lama ayah bersiap untuk menanti kabar ini, kabar tentang seorang yang akan membawamu pergi jauh dari ayah. Kabar tentang laki-laki yang meminta pengalihan tanggung jawab dari ayah.. sungguh sudah lama ayah mempersiapkan diri. Tapi tetap saja siang itu ayah terkejut, meski mungkin tidak begitu terlihat diwajah ayah.

Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini.. biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak.. biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini.. biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah. 

Nak_ ayah tahu siang itu akan datang, siang yang mengharuskan ayah untuk menyadari bahwa putri kecil ayah akan segera menggenapkan setengah agamanya, dengan bakti pada dia yang belum ayah kenali. Padahal dimata ayah, kau masih gadis kecil yang beberapa waktu lalu merengek minta dibelikan benang untuk layangan, sebab teman-teman seusiamu yang rata-rata laki-laki sudah punya benang yang panjang untuk layangan mereka. Rasanya kau masih gadis kecil ayah yang mengadu dengan mata berkaca-kaca bahwa benang layangannya telah kusut, yang terkantuk-kantuk menunggui ayah memperbaikinya agar bisa bermain lagi esok paginya. Yang dulu melempar sepatunya kelaut sebagai alasan meminta ayah mengizinkanmu bermain air. Yang dulu membongkar tas ayah, mencari receh untuk celengan ayammu diatas lemari.

Dan kemarin, ketika dengan izin ayah, kau pergi berkenalan dengan keluarga besarnya. Kembali ayah harus segera menyadari bahwa binar yang kau bawa pulang itu tidak biasa, binar yang belum pernah ayah lihat ketika dengan antusias kau bercerita. Sebenarnya nak, ayah cemburu. ayah mencemburui dia yang tiba-tiba datang tapi sudah mampu menghadirkan getar-getar rasa yang terlihat dirona wajahmu. Tapi percayalah nak,, kecemburuan itu segera ayah tepis, ayah usir dengan keyakinan bahwa posisi ayah dan posisinya itu tidak disatu tempat. Bahwa warna cinta untuk ayah tidak sama dengan warna cinta untuknya. Ayah tidak salah, bukan?

Sedikit pesan ayah.. setelah nanti kau ayah serahkan dengan disaksikan oleh para malaikat. Jadilah pendamping yang patuh nak, yang  senantiasa bersyukur dan berterimakasih, yang menjaga diri dan hartanya, yang tidak mudah menuduh dan menyakiti hatinya, yang menyimpan rahasia dan menutupi aibnya. Sebab tidak mudah untuk menjadi seorang suami, tidak mudah untuk menjadi orang yang bertanggung jawab penuh terhadap orang lain, yang harus menjaga dirinya dan ahlinya dari api neraka. Jadi sekali lagi nak.. jangan bebani dia, tapi bantulah dia sesuai peran yang kau punya.

Hm.. sekian dari ayah_ mungkin akan ada lagi nanti nak..