L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Tampilkan postingan dengan label Dziya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dziya. Tampilkan semua postingan

170221

Petang, dalam perjalanan menuju rumah.

"Bundo, Hauna mau ulang tahun"

"Boleh, tapi kenapa mau diulang? Ada yg salah na?" Lekas Bundo menanggapi.

"Bukan tapi seperti teman2 itu Ndo, ada kuenya, ada lilinnya, ada kadonya" intonasinya menaik diakhir kalimat.

"Kue, lilin dan kado? Hauna kan sering Bundo kasih kado, kasih kejutan, Abi juga sering kasih. Hauna lupa?".

"Gak sih" dia berfikir sejenak.

"Maksud Hauna, seperti ulang tahun yang ada di film upin ipin itu, Ndo" lanjutnya kemudian.

"Oo".

"Kenapa kita gak pernah merayakan ulang tahun?" Gumamnya kemudian.

"Karena Rasulullah salallahu alaihi wasallam gak pernah sekalipun merayakan ulang tahun. Gak pernah!".

"Terus? Apa hubungannya dengan kita?" Respon Hauna cepat.

"Hubungannya ... Karena kita islam dan Rasulullah itu panutan kita, Rasulullah itu suri teladan kita, Rasulullah itu manusia
terbaik
yang patut kita contoh".

"Kawan Hauna yang islam merayakan ulang tahun. Apa gak boleh sekali aja Bundo".

"Nak, nanti Hauna akan tahu bahwa banyak persoalan dalam penerapan agama ini, sungguh sangat banyak. Tapi Bundo dan Abi setuju bahwa kita gak merayakan ulang tahun dalam bentuk apapun, maaf ya".

"Banyak persoalan? Ah ... Hauna pusing". Dia menjatuhkan diri ke arah dziya.

"Jadi kapan kita ulang tahun, Kakak?" Celetuk dziya.


"Dek, nabi kita salallahu, salallahu ... Apa bundo?"

Dan begitulah, Hauna kemudian menjelaskan pada adiknya dan ditanggapi huruf 'O' yang benar2 bulat. Terlepas dari mereka sudah paham atau belum, setidaknya Bundo sudah menjelaskan dan tak ada pertanyaan lanjutan dari mereka.

"Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)

220221

Perjalanan menuju sail.

"Adek, kemaren kakak dengar gini, 'berdosa kalau yang gak patuh sama orang tuanya, Allah gak suka. Nanti dimasukan ke neraka, dicelup trus diangkat lagi, celup lagi, angkat lagi' gitu dek," tutur Hauna ketika adiknya gak mau dikasih tau untuk pakai sabuk pengaman.

Seperti biasa Dziya cuek, pura2 gak dengar.

"Nanti kalo gak patuh sama orang tua, dibakar di neraka, panas apinya," lanjut hauna, sembari menunggu respon adiknya.

Dziya kasih cuek, sibuk menatap keluar jendela.

"Mau adek dibakar? Mau? Dicelup2 ke api yang panas." Hauna masih bergerilya, kali ini sambil mencolek pundak adiknya.

"Aku siyam apinya, wus ... wus ...." tetiba Dziya teriak, meradang kena colek.

"Ayok Bundo, pasang sabuk kapangan*," lanjutnya kemudian sambil duduk manis.

Hahahaha, indikator Dziya masih kecil itu salah satunya mau 'nyiram api neraka'.


*Sabuk pengaman
Entah kenapa Dziya sulit sekali melafalkan 'pengaman'.

230221

Usai menunaikan amanah.

"Bundo, Hauna digigit Dziya" rengek Hauna ketika melihatku menuruni tangga, sepertinya sudah cukup lama dia menunggu di lantai satu.

"Astaghfirullah ... Dziya" Gumamku melihat lengan Hauna yang mulai berwarna biru gelap.

"Sakit ya, Nak? Bundo tiup ya".

"Hah, ada apa?" Dziya berlari mendekat, wajahnya polosnya tampak penasaran.

"Lengan kakak sakit, Dziya gigit?".

"Iyayah" cepat dia menjawab.

"Kenapa, Nak?"

"Kakak papaye papaye" ujarnya dengan nada jengkel.

"Kakak ... " Bundo beralih menatap Hauna.

"Gak ada, kakak main-main aja" kilahnya.

"Boleh salah, tapi gak boleh bohong"

"Kakak papaye papaye" lagi, Dziya mengulang kalimatnya.

"Gak boyeh bohong, nanti yidahnya digunting, dijemu, digoyeng" ujar Dziya berapi-api.

"Benar kakak papale papale?" Hauna menunduk, senyum-senyum.

"Hauna tahu kan, Bundo dan Dziya gak suka kalau Hauna bilang 'tapi boong, papale papale' itu. Sungguh jengkel sekali Bundo". Senyum Hauna hilang sempurna.

"Boleh main, boleh bercanda ... Tapi gak boleh bohong. Rasulullah gitu, ketika bercanda pun gak pernah bohong".

"Maaf, Bundo" pelan sekali suara Hauna.

"Tuh, gak boyeh papaye papaye" Dziya merasa di atas angin.

"Adek juga, jangan gigit. Sakit sama Kakak. Adek mau Bundo gigit juga kalo berbuat salah?". Matanya berkedip-kedip.

"Layiiii" teriaknya menjauh dengan kaki kecil yang menggemaskan.


Kami gak punya Tiktok, tapi pergaulan dan lingkungan memperkenalkan Hauna pada banyak istilah-istilah itu.

080421

Menjelang tidur.


"Bundo, pilih warna pink atau ungu," ujar Dziya tanpa mengalihkan matanya dari majalah Bobo.

"Ungu." Bundo yang duduk agak jauh sebenarnya tidak tahu apa yang dibicarakan Dziya.

"Oo, ungu gak ada, maaf ya." Intonasinya datar saja, tanpa unsur merasa bersalah untuk kata 'maaf', atau unsur bergurau untuk 'ungu gak ada' padahal sebelumnya dia menawarkan opsi itu.


"Hahahahhahaha," seketika tawa Hauna pecah, menertawakan kami berdua sepertinya.