L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Ketika Cinta Bertasbih

Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka

Kau mencintaiku
Seperti matahari
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa

Kau mencintaiku
Seperti air
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membersihkan lara
Tak pernah lelah
Menyejukkan dahaga

Kau mencintaiku
Seperti bunga
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menebar mekar aroma bahagia
Tak pernah lelah
Meneduhkan gelisah nya 

25 Tahun


Usiaku sudah beranjak dari seperlima abad, tapi masih banyak hal yang ingin kutahu, masih banyak tempat yang belum kudatangi dan masih belum beragam orang yang kutemui. Jiwaku masih senang berpetualang jauh, berkelana dari satu tempat ketempat lain untuk sekedar menyaksikan kebanyakan hal yang tak ada di desa kecilku.

ah…aku menyukai segala hal yang membuat adrenalinku terpacu, tapi tidak semua hal tersebut bisa dengan mudah kukantongi izinnya dari ibu, MAPALA..target pertamaku ketika dinyatakan lulus menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi harus digeser menjadi urutan terakhir sebab kebanyakan agenda milik kegiatan mahasiswa itu tak satupun mendapat restu dari ibu. Sama halnya dengan Pramuka, sejak seragamku putih-merah hingga tak perlu lagi harus memakai seragam..kata ‘boleh’ dari ibu tak kunjung kudapatkan. Tapi biarlah, aku menikmati cinta berbentuk larangan milik beliau, menikmati setiap akhir tahun dikamar tidur padahal teman-temanku tengah bersorak di puncak gunung sambil meluncurkan kembang api ditempat tertinggi itu.

“karena kebanyakan teman-temanmu itu laki-laki, makanya keinginanmu jadi aneh-aneh. Coba kalau kamu lebih sering berteman dengan perempuan, ibu yakin keinginanmu bukan panjat dinding gak jelas ataupun mengarungi sungai arus deras” jawab ibu sambil memotong sayur di dapur kami. Aku menghela nafas panjang, mencoba meredam permintaan untuk terbang layang yang belum sempat disampaikan.

“usiamu sudah berapa nak?” retoris ibu sore itu, “ibu ingin sebelum usiamu 25 tahun, menantu terakhir ibu sudah ada dirumah ini” aku menatap ibu dan berharap kalimat itu hanya sebuah lelucon. Tapi hingga ibu berbalik menatapku, tak kutemukan tanda-tanda yang kuharapkan “ayah, uda dan uni juga sudah sepakat” aku bergeming, semua rasa bercampur menjadi satu: marah sebab mereka tak henti mendikte sibungsu, sedih sebab masaku tak panjang lagi untuk bebas sendiri, kecewa sebab harus merenovasi kembali rencana masa depan yang sudah kususun, bingung sebab aku tak punya satu orangpun calon, sedikit gembira sebab mereka semua selalu punya rencana untuk hidupku, dan rasa-rasa lain yang tak bisa kujabarkan. “bu..” aku tak punya kata-kata lagi, “carilah calon dari sekarang nak” tandas ibu mengakhiri pembicaraan

***

“jadi sudah berapa orang calon yang bisa ditawarkan?” pertanyaan uni setelah satu semester berselang, aku terkekeh “uni inginnya berapa?” jawabku sekenanya “satu saja cukup kalo sudah mewakili semua syarat” aku mengernyit “syarat apa?” buruku “ibu belum bilang?” tanyanya balik dan aku segera menggeleng “syaratnya…” ia mengerling padaku “uni lupa..he.he.he” aku melemparnya dengan bantal, kesal sebab sukses membuatku kesal.


Aku selalu menghindari pembicaraan mengenai hal itu, bukan karena aku benci dengan kata ‘pernikahan’ tapi sebab aku belum siap, benar-benar belum ada dibenakku tentang hari-hari yang akan kujalani dengan seorang lelaki yang berjanji didepan saksi sambil menggenggam tangan ayah untuk ‘serah terima’. Aku belum siap untuk berbakti pada orang yang andai diizinkan manusia sujud pada manusia maka dialah orangnya. Aku juga belum terfikir bagaimana cara taat pada orang yang tiba-tiba ada dihidupku kemudian memerintahku sesukanya. “imajinasimu boleh juga..” kata uni setelah puas menertawai kerisauanku, “tidak seburuk itu uni rasa” dia mencoba menenangkanku. “lagian..usia 25 tahun kan masih lama” lanjutnya ringan.

**

Alhamdulillah.. siang ini satu bebanku selama empat tahun terakhir telah berkurang tapi beban berat lain masih menempati posisi sentral diotakku, tentang limit 25 tahun yang belum kukantongi masa perpanjangannya “rencana mau S2 da,, kira-kira dapat izin penangguhan gak ya?” tanyaku pada uda dengan harap “dapat..” kalimat uda menggantung “dapat dipercepat sebelum berangkat S2, he..he..” aku kenal sekali dengan tawa lepasnya diseberang sana, dan kutahu dia pasti sudah bisa membayangkan wajahku yang cemberut mendengar jawabannya. Phufft.. bolehkah pertambahan usia sekali dalam dua tahun saja? Agar angka 25 tahun itu menjauh dua kali lipat dari waktu seharusnya.

keluarga kecilku


Ketika dia baru belajar mengeja kata, ada sesuatu yang menarik matanya diatas meja, “A T L A S I N D O N E S I A” sejenak senyumnya mengembang ketika menyadari bahwa telah berhasil membaca judul buku itu. Dibalik halaman pertama, terlihat banyak gambar rumah yang tak pernah dia lihat sebelumnya, dieja lagi rangkaian huruf diatas gambar, “R U M A H A D A T I N D O N E S I A” matanya mengerjap melihat terlalu banyak gambar unik pada halaman selanjutnya. “ayah..” dia berlari menuju seorang lelaki dikursi keluarga, disodorkan buku yang sejak tadi dipegangnya. “atlas indonesia?” Tanya lelaki yang dipanggil ayah itu singkat “untuk apa yah?” dia balik bertanya, “untuk melihat daerah-daerah di Indonesia dalam ukuran kecil, mulai dari gunung, danau, sungai, hutan, juga berbagai kota dan kabupatennya” terang ayahnya.. “kita dimana yah?” dia mendekat dan duduk disamping ayahnya. “kita disini” sambil menunjuk kedaerah berwarna kemerahan digambar miring tersebut “S U M A T E R A B A R A T” diejanya kata diatas gambar. “S A M U D E R A H I N D I A” sekali lagi diejanya huruf capital digambar yang berwarna biru, persis didekat gambar seekor ikan, “ayah..kapan kita kesini?”, si Ayah tersenyum dan merangkul putrinya, “esok nak, jika engkau sudah besar.., kita kesana” dia mengangguk dan tersenyum, “selain ikan, ada apa di samudera hindia itu yah?” tanyanya polos. “ada ombak dan pantai” dia terkekeh.. “kita harus kesana yah, kalau sudah besar nanti” janjinya dikelas satu SD.

**

“mak..kapan ikut kepadang?” tanyanya didapur sore itu, “memangnya ada apa?” dia menghela nafas “orang tua teman-teman yang berasal dari daerah sekitar padang pernah mengunjungi mereka, minimal untuk melihat dimana anaknya tinggal” perempuan dengan garis usia diwajahnya itu tersenyum “nak,,mak tidak akan kepadang hingga engkau wisuda. Tidak perlu mak melihat dimana engkau tinggal sebab mak tau bahwa anak mak sudah bisa memilih tempat dan lingkungan yang baik”. “berarti harus menunggu dua tahun lagi agar mak kepadang” suaranya seperti gumaman “tidak apa.. dua tahun itu tidak akan lama, sebab rasanya baru kemaren mak melepas sibungsu berangkat sendiri ke Padang tanpa siapapun saudara disana” dia tersenyum “sekarang saudara disana sudah banyak mak, jadi sibungsu tidak akan sendiri” mak ikut tersenyum.

**

“Ayah, Mak.. ujian skripsi kamis depan jam 10, insya Allah. Mohon Do’a ya,, Moga dimudahkan” kedua orang tuanya tersenyum dan serentak mengucap hamdalah “oke” singkat jawaban ayahnya tapi disalah satu titik dikota yang berjarak dua jam perjalanan, tiga huruf itu sudah merupakan jawaban panjang dengan makna dalam bagi putrinya sebab dia tau bahwa ayahnya perlu kaca mata dan mengeja huruf demi membalas pesan singkatnya. “he…he.. nanti dikabari lagi ya yah, sekarang masih dikampus” dan tidak lama kembali diterima pesan dari ayahnya “oke..” dia tersenyum sebab tadi mungkin ayahnya harus menunggu beberapa saat untuk membuat titik kedua sebelum memencet tombol ‘send’.
“ Uda, Uni.. kamis depan insyaAllah kompre,, do’akan ya,, ^^ moga segera berakhir” pesan singkat itu terkirim ke dua nomor di kota berbeda “siip..alhamdulillah, moga semuanya lancar” balasan pertama dari uda. “Alhamdulillah.. :D, tapi ‘moga segera berakhir’? mulai aja belum…! Ga sabaran banget.. hayyo…ada apakah setelah kompre berakhir?” goda uninya, “ma’af..pertanyaan retoris tidak dilayani disini” balasnya cepat.

**

Jam ditangannya menunjukkan jam 13.15, diraihnya HaPe yang sejak tadi non aktif didalam tas. “Alhamdulillah..” satu kata dikirim ke tiga tempat berbeda dan setelah itu HaPe tersebut dinonaktifkan kembali. “Ayah..kita akan segera ke samudera hindia yang sekarang berganti nama menjadi samudera Indonesia. Dan tiga bulan lagi Mak sudah bisa kepadang.. insyaAllah” gumamnya meninggalkan ruangan.

catatan tentang kalian -saudaraku


Menjelang dini hari, dan perpisahan adalah keniscayaan.
Mengingatimu dalam malam yang ganjil,, mengenalimu adalah keindahan kawan, meski kalimat-kalimat sederhana tanpa estetika ini tak mampu wakili semua yang ingin kusampaikan tapi biarlah.. aku telah sangat bersyukur pernah mengenalmu disini, di kota yang awalnya sangat asing namun akhirnya pasti kurindukan.

Ah..tak perlu bermukadimah kurasa,,biar saja mukadimah itu dimiliki purna oleh salah seorang saudara kita yang kalo sudah mulai bicara maka jangan harap hanya mendengar 3 kalimat saja, minimal dia akan berceloteh tiga paragraph, itupun sudah sangat singkat dia rasa. (kalau mood’y lagi baik dan kalau pendengarnya juga orang baik).. entahlah_selalu kupunya senyum untuknya, untuk setiap kekesalannya padaku (kapan kita berhenti ‘bertengkar’?), untuk setiap kecemasannya yang melebihi siapapun yang kukenal (bahkan ayahku tidak secerewet itu) untuk setiap kekeraskepalaannya, pun untuk ‘buang muka’ yang akhir-akhir ini jadi keharusan baginya setiap kali bertemu tanpa sengaja. He..he..saudaraku yang lucu ^^.. senang dapat mengenalmu.

Pun begitu dengan ‘kapalo suku’, sudah lama aku tak memakai kata tunjuk itu untuk saudara aneh yang pernah menjabat sebagai ketua organisasi tingkat prodi (itu sebabnya ‘kapalo suku’ sangat cocok untuk disandangkan padanya), kebersamaan satu-setengah periode yang ‘gemilang’.. terima kasih sudah melibatkan saya dalam situasi yang sangat mendebarkan (sungguh banyak pengalaman yang saya dapat disana.. pengalaman yang mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dari sudut berbeda dari kebanyakan orang sehingga senyum simpul itu tak pernah beranjak dari tempatnya, pengalaman yang memposisikan saya pada ‘eagle’ yang selalu tepat untuk mengabadikan tingkah polah setiap mereka pada lensa kehidupan). ma’af kalau saya masih sering tersenyum sendiri mengingat ‘kepribadian ganda’ milik saudara (catat: saya menyenyumkan bukan menertawakan).

Ada juga yang cuma lewat komunikasi tulisan, membaca penjabarannya sudah seperti menemukan potongan cerber, sehingga tak perlu waktu lama untuk mengerti dan memahami bahwa penjabaran kali ini adalah kelanjutan dari topic beberapa waktu silam atau malah topic baru dengan beberapa tambahan pengetahuan. Banyak hal yang bisa dipelajari dari saudara seperti ini karena kebanyakan pengetahuannya luas, mereka sudah seperti referensi berjalan jadi tak perlu bertanya ke‘mesin pencari’. Pun mereka adalah jenis yang mudah dimintai tolong (dengan tulisan tentu saja sebab jangan terlalu berharap mereka akan beramah tamah jika berjumpa dijalan atau dimanapun, ada banyak alasan mungkin.. bisa karena ‘menjaga hijab’, ‘batasan pergaulan’ atau malah memang ga terbiasa ngomong dengan makhluk jenis perempuan seperti saya.. he..he.., apapun itu,,biarlah)

“tolong kirimi saya tausiyah” atau kalimat berbeda dengan maksud yang sama. Entah keberapa nomor pesan singkat itu mereka kirimkan tapi yang pasti aku selalu mendapat jatah tausiyah setiap kali mereka ‘jatuh’, dan Rasulullah tidak pernah berkata tidak ketika dimintai tolong maka tanpa bisa beralasan bahwa akupun sedang jatuh dan mungkin lebih dalam.. segera saja kubongkar-bongkar kalimat motivasi atau hadist atau sejenisnya untuk menunaikan permintaan itu. Mereka adalah saudara terunik yang pernah kukenal, mereka terlihat seperti karang kokoh yang kuat, mereka benar-benar mampu bersembunyi dalam diamnya sehingga tak banyak yang tahu apa yang sesungguhnya mereka rasa. Bersyukur mengenalmu dalam keterbatasan ini.. ada saudara yang lebih berhak mendengar dan membantumu berdiri setiap kali jatuh tapi akan lebih baik menggenggam tangan sendiri untuk meyakinkan bahwa kita masih kuat untuk bangkit.

Phufft…masih banyak lagi yang tersimpan rapi dalam folder khusus dalam kepalaku tentangmu tapi sebaiknya tidak kujabarkan sebab aku khawatir tidak punya rahasia apa-apa yang bisa kukenang nanti, disuatu hari dimana engkau tak mengenaliku lagi. ^^

“saya mengidolakan aisyah bint abu bakr” seperti biasa, dengan tenang dia berkata, “saya suka Khadijah, saya punya buku tentang beliau” seorang saudari menimpali dengan antusias.. tinggal aku yang belum bersuara diruangan itu “aisyah itu cerdas” sambungnya masih dengan intonasi yang sama “khadijah itu yang mendampingi diawal risalah” terdengar kekaguman dalam kalimat saudari yang lain “saya suka haftsah..he..he” aku nyegir sambil garuk kepala yang tidak gatal, mereka berpandangan sejenak mendengar kalimatku dan kemudian melontarkan bahasa diplomatis “setiap kita mengidolakan siapa yang memiliki kemiripan karakter dengan kita sehingga kita bisa menggali potensi untuk mencontoh mereka”. Ha..ha.. terdengarnya sih memang menenangkan (atau malah memenangkan?). whatever…! Yang penting aku belajar satu hal siang itu, bahwa ketika kita mengidolakan seseorang maka semesta akan mendengar sekaligus menyimpannya untuk suatu masa pembuktian (dan si pengidola Aisyah sudah menepati inginnya, mendahului kami menggenapkan separuh agama di usia yang bagi sebagian orang dianggap masih belia) berhati-hatilah kawan, ‘pikiranmu menetukan siapa kamu’,,(lagi_bijak.com). maka mulai saaat itu ku idolakan semua perempuan yang bersama rasulullah dalam perjuangan beliau,,siapa tahu aku mendapat semua yang terbaik dari masing-masing mereka.. (he..he..ngarep).

Saudariku,, lebih banyak hal yang ingin kusampaikan disini tapi kutakut bila nantinya tidak berkenan dihatimu. Itulah perempuan, mudah sekali tersinggung, mudah juga untuk mendiamkan tanpa sempat memberi alasan yang jelas, tapi sangat sulit untuk mengingatkan kesalahan (sepertinya ada yang baru saja curhat..). walau kita tidak sering bersama, walau kusering menjauh tanpa sebab yang bisa kusampaikan, walau ‘lingkaran’ kita sering merenggang, walau mungkin engkau merasa terganggu dengan sikapku yang terlalu ‘cair’, walau pilihan ‘mewarnai atau terwarnai’ itu sering terlupakan olehku tapi percayalah.. aku menghargai semua tausiyah dan semua bentuk perhatianmu dalam do’a yang tak sempat kudengar. Mengenalmu seperti mengenal bagian-bagian terbaik yang mengharuskanku belajar lebih banyak tentang islam dan perempuan.

Esok.. ketika perpisahan adalah sebuah keharusan maka tolong do’akan aku, jika aku berkesempatan menjadi yang pertama dipanggil-Nya maka tolong shalat ghaibkan aku.. ketahuilah saudariku.. aku bersyukur dapat mengenalmu dengan semua keutamaanmu. Ma’af jika aku bukan teman perjalanan yang baik..

aku ini tulang rusuk siapa?

Aku ini tulang rusuk siapa? Pertanyaan menggelitik yang tiba-tiba mengambang diotakku sore ini..
benar juga ya..seumur-umur belum pernah kutahu tulang rusuk siapa yang berhasil menjelma menjadi perempuan cantik sepertiku (gdubrak..boleh dong narcis). Hm,,berawal dari rasa penasaran itu, kucari cara untuk tahu siapakah pemuda tampan yang beruntung mendapatkan kembali tulang rusuk bengkoknya yang telah berubah jelita (he..he,, narcis lagi).
Oya..sebelumnya, perkenalkan namaku tupin, sedikit unik untuk gadis seusiaku. Entahlah..aku juga bingung kenapa teman-teman gemar membaca.. Oops..maksudku kenapa teman-teman suka memanggilku tupin padahal aku tidak seimut upin-ipin apalagi semenarik dolphin. Hm..tapi biarlah, aku suka dan berterima kasih saja atas panggilan sayang mereka. Perkenalan cukup sampai disini sebab selanjutnya izinkan kuperkenalkan kisah indahku pada kalian (catatan: indah itu relative kawan..!)

Dia seorang mahasiswa, satu tingkat diatasku.. ‘mempesona’ itu penilaian awal dariku  tapi selanjutnya..aku mulai curiga bahwa dia seorang pencuri ulung sebab tak kutemukan lagi hatiku diposisi semula. (jangan berfikir bahwa ini kejahatan pencurian organ). Kecurigaanku mulai bertambah ketika dia berhasil mencuri pusat perhatian diseluruh neuronku. analisaku..dia baik (sepertiku) dia juga keren (cocok sekali denganku), pintar (sama persis denganku), alim (menyerupaiku)..sehingga aku kini benar-benar curiga bahwa aku memang tulang rusuknya. Maka suatu kali kusempatkan untuk berbincang dengannya (lebih tepatnya meminta kesempatan) sekedar untuk memperkenalkan diri agar dia segera sadar bahwa akulah tulang rusuknya yang terpisah sekian tahun lamanya. Beberapa detik pertama aku sadar bahwa dia tidak keren tapi benar-benar keren, menit selanjutnya aku sadar bahwa dia terlalu baik, beberapa jam kemudian (kesadaranku sedikit lama untuk hal ini) dia lumayan pintar. Dan beberapa hari kemudian (sulit bagiku untuk menyadarinya) bahwa dia tidak sealim yang kukira. Sekarang aku tidak curiga lagi..sebab logikanya..tidak mungkin satu organ (tulang rusuk) shalat sedangkan organ-organ lain tidak shalat. tidak mungkin satu organ puasa sunat sedangkan organ-organ lain kekenyangan. Tidak mungkin satu organ qiyamul lail sedangkan organ-organ lain pulas tertidur.
Hm..sekarang aku tahu dari tulang rusuk siapa aku dicipta, dari tulang rusuk seorang adam yang merupakan belahan pribadiku.. baiklah, aku akan menjaga diriku agar belahan diriku juga terjaga. Aku akan merawat hatiku agar belahan hatiku juga terawat sempurna. Aku akan mendidik sikapku agar belahan sikapku juga terdidik. Aku akan ... aku akan ...
He..he.. Tunggu tulang rusukmu kembali ya.. 

lelaki berwarna gelap

“Aku suka cowok yang berwarna gelap..” tuturku membuka halaman buku 6 tahun yang lalu, dia mendelik dengan bibir membentuk huruf O tak sempurna, “seperti umar yang meminta diberi seorang bidadari hitam manis??? lalu mengapa dulu kau putuskan hubungan dengannya?” hm,,,aku menghela nafas berat “aku masih suka dia, tapi ikatan rapuh itu tak mungkin kulanjutkan” jawabku lemah.. “karena kau memilih ikut ekstra Rohis??”
1 september 2004,
“kalau aku jadi pacarmu..boleh?” sepenggal kalimat itu membuat waktu sore seolah berhenti. aku masih baru memakai seragam abu-abu tapi seorang lelaki juga baru saja memperkenalkanku pada kehidupan yang kabarnya tak lepas dari seragam ini. takut, malu-malu, cemas dan rasa lain yang tak kumengerti bercampur aduk diudara dan tanpa suara aku meninggalkannya.. terlihat bodoh tapi biar saja, aku masih ragu untuk mengeja keadaan baru yang seolah memberi kebebasan lebih dari yang kubutuh, aku berani menjamin bahwa teman-teman baruku disini akan tertawa jika aku berkata merindukan sekolah ku yang dulu, sekolah yang punya agenda wajib shalat dzuhur berjamaah, sekolah yang terletak jauh dari kebisingan kendaraan, sekolah yang punya 17 mata pelajaran dan sekolah yang mengajarkanku untuk berani berbicara didepan berpasang-pasang mata dalam kegiatan muhadharah pada jum’at pagi. Dan kini, sore ini, aku bergegas meninggalkannya didepan gerbang sekolah baruku yang penuh debu kendaraan, yang disesaki oleh bising angkutan kota meneriaki penumpang, ditambah lagi ‘bendi’ yang lalu lalang. Sungguh, ini adalah hari bersejarah dalam hidupku karena untuk pertama kalinya aku diserang sebentuk rasa yang tak kumengerti pada seorang lelaki, rasa yang membuatku tertunduk malu ketika ditanyai ‘ada apa’ oleh ibu.. rasa yang membuatku membuntuti ayah untuk sekedar bertanya lebih banyak tentang ‘laki-laki’.
Esoknya, kudapati lagi dia berdiri didepan gerbang sekolah dengan sebuah bungkusan besar ditangannya, sekali lagi aku merindukan sekolahku yang dulu..yang dikelilingi sawah-sawah penduduk sehingga bisa pulang lewat pematang mana saja. Berbeda dengan sekolah ini yang Cuma punya satu gerbang keluar yang diawasi satpam jadi aku tak punya pilihan lain selain melewati gerbang itu dan bertemu dengannya, “hai” sapanya kaku, “boleh kuantar pulang?” lidahku terasa kelu jadi kujawab dengan gelengan “boleh kuantar sampai petak?” (petak adalah tempat mobil angkutan kearah kampungku) dan aku mengangguk..
Hening.. sepanjang perjalanan aku tak bersuara dan diapun tak berbicara tapi ketika hampir sampai dipetak, dia berhenti “aku punya sesuatu untukmu..”ujarnya menyodorkan bungkusan besar ditangannya, “apa?” suaraku akhirnya keluar “aku tahu, mungkin aku belum boleh jadi pacarmu, tapi aku ingin kau menyimpan ini untukku”. Aku diam..tak beranjak namun juga tak menerima bungkusan itu, “aku hanya ingin jadi seseorang yang pernah ada dihatimu, jadi jika belum dijawab..sejak kemaren, hari ini dan nanti aku akan terus bertanya, kalau aku jadi pacarmu, boleh?”
Ibu tersenyum melihatku mengeluarkan ‘hati’ itu dari bungkusan, beludrunya lembut dengan perpaduan antara pink dan merah jambu, dan ini ukuran hati terbesar yang pernah kutemui “dari siapa?” pertanyaan retoris ibu membuat pipiku merona, dan sore itu juga mereka tahu bahwa aku menjawab ‘boleh’ sebelum berangkat pulang.
Hari ini tanggal 2 september 2004 dan akan selalu kukenang.
“hei…apa karena kau ikut Rohis?” kembali dia mengusikku yang tengah membaca lembaran dihalaman buku itu, “entahlah” jawabku singkat.

22 september 2004,
Hari ini aku menemuinya lagi, sosok yang sungguh telah menjelma dengan sangat jelas disetiap hariku. “aku ingin semua berakhir hari ini” kalimat yang sudah kususun semenjak berangkat kesekolah dan berusaha kuucapkan dengan intonasi tegas itu berubah pilu dimatanya, baru kali kulihat sendu menggelayut diwajahnya “kenapa?” kalimat sederhana itu tak mampu kujawab meski sepanjang pelajaran dikelas tadi aku sudah menghafal alasan-alasan yang hendak kuberi, “apa aku ada salah?” tambahnya lagi, “aku minta maaf” tuturku menyodorkan bungkusan besar yang 20 hari lalu diberinya untukku. Dan tanpa suara aku meninggalkannya, aku tahu betapa kejamnya aku sore ini padanya, pada seorang lelaki yang sudah 20 hari menemaniku, yang begitu sabar menungguiku pulang sekolah hanya untuk berkata bahwa dia tak bisa mengantarku kepetak karena rapat pramuka juga tengah menunggunya, yang tulus menyayangi dengan segala tingkah anehku, yang menghormatiku sehingga tak pernah mau menyentuh tanganku, yang memintaku menunggunya membelikan payung agar aku tidak kehujanan.. dan aku juga tahu.. betapa egoisnya aku mengakhiri semua ini tanpa alasan yang bisa kujelaskan.
Hari ini tanggal 22 september2004, kulukai hati seseorang yang kusukai.
“Lalu karena apa?” tanyanya lagi

01 oktober2004
Delapan hari aku tak bertemu dengannya tapi sebelum jum’at tadi aku sempat bertemu dengan temannya yang bergegas kemesjid, kulihat pancaran benci dari matanya.. sehingga aku tak banyak bicara, dia menyuruhku menunggunya jam 2 didepan sekolah maka itu yang kulakukan saat ini, menunggu teman mantan pacarku didepan sekolah yang berjarak 200 meter dari mesjid. “kenapa kalian putus?” aku benar-benar terkejut dengan hadirnya tapi segera aku menguasai diri “apa itu sebabnya aku diminta menunggu?” tanyaku balik dan dia mengangguk “aku memang bukan siapa-siapa dalam hubungan kalian, tapi aku tahu semua yang terjadi dalam hubungan itu” aku menghela nafas berat “bagaimana keadaannya?” kulihat dia tersenyum “apa pedulimu?” aku diam karena rasanya tak perlu kujawab “dia tidak masuk sekolah semenjak hari kamis” lanjutnya lagi. Kamis? Berarti sehari setelah aku memutuskan hubungan itu “dan kurasa, kau bertanggung jawab atas keadaan ini” dia menatapku tajam, aku menunduk “kenapa kalian putus?” tanyanya lagi dengan intonasi penekanan “aku hanya tak ingin berbohong pada diri sendiri dan aku lebih tak ingin membohonginya” jawabku pelan “aku tahu kalian tidak sedang berbohong dengan perasaan masing-masing” potongnya “dengarkan.. mungkin sedikit aneh tapi itulah alasannya..” dia bergeming “aku tak ingin berbohong pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa dia adalah jodohku, terlalu dini berbicara tentang pernikahan maka sebaiknya kujaga hatiku dan diriku untuk seseorang yang memang adalah orang yang ditakdirkan untukku, aku lebih tak ingin membohonginya dengan berkorban banyak untuk perempuan yang belum pasti akan menjadi miliknya” kalimat itu baru saja kudapat dari forum An-Nissa tadi, dia mengangguk dan kuharap menandakan bahwa dia paham “aku mengerti tapi dia mungkin tidak akan terima alasan ini” dia melunak.. tak sia-sia dia pernah sekolah pesantren (mantan pacarku pernah bercerita sedikit tentang sahabatnya ini) “aku juga tak ingin dia tahu alasan ini”gumamku “karena biarlah dia tahu bahwa aku memutuskan hubungan ini tanpa alasan dan biarlah dia berfikir bahwa aku tak benar-benar menyukainya” dia mengangguk “aku salah menilaimu, maaf..” ujarnya kemudian “dan kuharap hatimu memang benar-benar terjaga setelah ini karena kau akan sangat menyesal melepaskannya jika alasan itu tak bisa kau lakukan” tambahnya sambil beranjak pergi.
Hari ini tanggal 01 oktober 2004, mulai kujaga hatiku untuk seseorang yang ditakdirkan untukku.
“hei…kenapa dulu kau putuskan dia? Bukankah kau suka cowok berkulit gelap?” kali ini dia memutar duduk, pertanda bahwa dia benar-benar ingin tahu “karena aku menyukainya” jawabku sembari menutup diary SMK yang kutemukan siang ini. Sempat kulihat wajah tak puas sahabatku ketika dia kutinggal untuk berwudhu.

2007

Bismillah
Tahun empat,, begitu cepatnya waktu berlalu hingga ternyata kita telah jadi mahasiswa tertua dikalender akademik..
Ingat gak waktu kita desak-desakan ngurus kuliah untuk pertama kalinya, antri sepanjang-panjangnya untuk ngambil buku petunjuk. Setelah itu ngantri lagi ngambil foto untuk kartu pustaka n KTM, ngukur almamater, ngisi KRS yang tak satupun kita tahu tentang mata kuliah.. belum lagi nyari pembimbing akademik (PA) yang dengar namanya aja masih asing..
Dan hari ini,,adalah tahun keempat nama kita tercatat sebagai mahasiswa.
Padahal masih banyak hal yang belum kita mengerti dan masih banyak pengalaman yang belum kita dapat.. coba pikir, berapa banyak pertanyaan junior yang kita tak tahu jawabannya padahal masih tentang perkuliahan, berapa banyak pengetahuan kita yang bisa dibawa ketengah masyarakat dengan pengalaman yang masih sedikit ini padahal tak lama lagi kita tidak akan bergelar mahasiswa..
Dan saat ini, nikmatilah menjadi orang yang nyaris berangkat dari bangku kuliah, nyaris tak meninggalkan apa-apa untuk dikenang, dan nyaris terlupakan beberapa tahun kemudian..
Rasanya tanggal 3 september 2007 masih belum lama, ketika kita dijemur dipanas jam delapan saat pembukaan PKMB dan kemudian mengenal panitia senior dengan segala ulah cari perhatian mereka, dihukum dan dibentak-bentak oleh sigendut yang sampai sekarang nama aslinya belum dikenal, atau disuruh ngesot karena terlambat dan berbagai macam hukuman aneh lain yang rasanya nggak mendidik,, diancam untuk berenang di ‘sungai gangga’ yang mengalir disamping fakultas karena ada yang ngaduin senior pada dosen (dan sampai sekarang masih belum pasti apakah alasan itu benar).. jika sungai gangga di India adalah sungai yang suci maka sungai ini adalah antonimnya.
Ah…PKMB, memang masa pengenalan kampus seperti kepanjangannya, masa dimana kita mengenal bahwa ternyata kehidupan kampus itu tidak ramah, kehidupan yang jauh dari kata-kata terpelajar.. bahkan bisa dikatakan ‘mengenaskan’ ketika diakhir rangkaian acara, kita disuruh membuat surat cinta untuk senior bersama sebungkus coklat,, apa maksudnya setelah PKMB berakhir..kita memulai lagi sebuah hubungan sebagai kelanjutan dari surat cinta ketika penutupan..???
Tapi ada juga kejadian indah diawal perkuliahan.. dimana kita berkenalan hampir lima kali sehingga pada kali keenam.. kita tak lagi berani menyodorkan tangan untuk bertanya siapa namanya karena lupa.. dimana kita sok kenal sambil bertanya tugas padahal namanya saja belum tereja oleh memori.. dimana kita permisi masuk kelas karena terlambat padahal sebenarnya kelas kita belum dimulai sehingga dengan wajah merah padam tersenyum pada dosen dan berbalik kepintu keluar.. saling tukaran nomor hape dan ketika bertemu kembali..salah seorang menyodorkan tangan sambil menyebut namanya.. saling sapa ketika berjumpa padahal tidak saling mengenal nama.. membawa-bawa denah lokasi kampus, berlari-lari ketika pergantian jam tidak menyisakan waktu untuk pindah kelas dari sudut pembangunan ke pojok MKU. Dan banyak lagi kisah indah lain dalam memori masing-masing kita..
Kawan…jika hari wisuda kita tiba,, maka saat itu mari tanam rindu disini, diparkiran tempat kita melingkari pohon besar, ditaman yang ‘rindang’, disepanjang koridor fakultas, disudut pembangunan, dipojok MKU, kelas darurat, kelas GN yang membuat kita merasa menjadi satu dari lascar pelangi, dimushalla fakultas, di D89, dibelakang rektorat ketika cabut dari kelas ‘rebonding’, dan yang pasti di al-azhar.. mesjid kita menghabiskan semester dengan responsi agama..
Kawan..jika hari wisuda kita tiba,,maka ukirlah nama kita disini, disepanjang langkah kebersamaan yang akan kita kenang sebagai keindahan, meski kita tak mendapat semua yang kita inginkan tapi kita mendapatkan semua yang kita butuh..