L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Biarlah Bulan jadi Mentariku (Part II)


Andai kau tahu berapa lama lagi boleh hidup..apa yang akan kau lakukan?? “mengisi waktu dengan hal-hal penting yang menyenangkan” jawab kawanku suatu kali.

Dan andai dokter berkata umurmu tak lebih dari 3 tahun lagi, dua tahun, satu tahun atau malah hanya hitungan bulan. Apa yang akan kau lakukan?? “yang kulakukan adalah tidak mempercainya” jawabku cepat.

Zee…” ibu mengetuk pintu seperti puluhan pagi yang lalu, “bangun nak” lanjut beliau lagi, kututup buku yang penuh coretan tanpa judul itu “iya bu.. udah bangun dari sebelum subuh” jawabku bergegas membuka pintu kamar. “mau jalan-jalan bu?” kali ini aku yang bertanya dan beliau jawab dengan senyuman.

Kabut subuh masih kental di udara ketika kami memulai langkah, menapaki jalan kecil antara kebun dan sawah.. aku suka kampungku, suka dengan aroma rumput ketika pengembala memotongnya untuk sapi dalam kandang-kandang kayu. Aku suka aroma lumpur ketika petani mulai menggarap sawahnya, aku juga suka aroma kering jerami ketika panen usai sebab itu adalah waktu terbaik untuk main layangan.

Ah..layangan_  aku pernah punya sebuah layangan berwarna biru dengan sedikit putih, lebarnya 1 meter dan panjang ekor kira-kira 3 meter (aku tak tahu pasti berapa panjangnya sebab semua sisa kertas kujadikan ekor dari layanganku), suatu kali hujan tiba-tiba turun ketika layanganku meliuk indah dilangit jingga, tentu saja bergegas kutarik benang hingga layangan berada ditangan kemudian kupacu langkah menuju ‘dangau’ terdekat. Setelah berteduh kutemukan benang layanganku kusut sebab tadi tak langsung kupintal. ada gerimis dihatiku dan malamnya gerimis itu berubah hujan ketika menceritakan pada ayah tentang kejadian sore. Dengan bijak ayah berkata “nak..semua hal pasti ada penyelesaiannya,  semuanya” kemudian mengambil benang layanganku yang sudah sangat kusut sebab niatku memperbaikinya malah berakhir berantakan. Ketika pagi aku terjaga, benang itu sudah ada disampingku dan aku langsung percaya kata-kata ayah ‘semua hal pasti ada penyelesaiannya..semuanya’.

**

Andai kau tahu berapa lama lagi boleh hidup..apa yang akan kau lakukan?? Kutulis lagi kalimat serupa dalam buku itu sebab hingga hari ini aku masih belum menemukan jawabannya. Mungkin aku memang harus sepakat dengan jawaban kawanku untuk mengisi waktu dengan hal-hal penting yang menyenangkan, namun kenyataannya aku hanya menghabiskan waktu dengan mencoret setiap angka dikalender ketika hari berlalu, menghitung mundur waktu yang diprediksi dokter (padahal sudah kubilang tidak akan mempercayainya), menziarahi setiap potong kenangan bersama orang-orang yang kusayang, aku belum siap untuk meninggalkan sketsa cinta itu, sketsa dengan ragam warna hingga kadang kusebut ‘pelangi’.


“zee” entah kapan ibu berdiri disampingku dan ikut melihat keluar jendela “ada apa?” beliau mungkin berhasil membaca gamang yang telah berusaha kusembunyikan “ada mentari bu” dan aku langsung menyesal telah mengucapkannya, “bulan yang indah”ujar ibu berusaha untuk tetap tenang.


*mendekati pergantian bilangan usia dan saat bertemu dengan-Nya sudah semakin dekat. Tetaplah bersyukur sebab Dia masih memberimu waktu untuk melakukan hal penting yang menyenangkan. dan ingat,,semua hal pasti ada penyelesaiannya..semuanya..!






Biarlah Bulan jadi Mentariku (Part I)



siang ini cukup terik untuk ukuran awal bulan hujan, sejenak berdiri mematung didepan sebuah bangunan bertingkat yang tidak asing bagiku, “ayo” pelan suara ibu ketika mengamit tanganku, beliau berjalan tergesa ke loket karcis dan tak lama sebuah suara membaca namaku diiringi anggukan kepala ibu. Mereka tidak (akan lagi) kesulitan menemukan namaku sebagai pengunjung tetap disini.


“ayo” kembali ibu bersuara mengajakku ke ruang yang semua tempelan dindingnya  nyaris hapal bagiku “assalamu’alaikum” sapa ibu pada seorang gadis berbaju putih yang duduk didekat pintu “wa’alaikumsalam.. masuk bu, apa kabar zee?” ramah gadis itu menyapa. “alhamdulillah..” ucapku singkat diiringi senyum. “langsung masuk saja zee”  ujarnya menyilakan. Ah..aku selalu benci jika harus masuk kesana, keruangan cat putih berukuran 3x4 dan bertemu dengan orang yang sama berkali-kali, sebenarnya aku tak ada masalah dengan beliau, tapi aku (selalu) bermasalah dengan berita yang beliau sampaikan. “hari ini cerah?” suara beliau ketika aku menyibak kerai pembatas, “lumayan” jawabku setengah hati. “baiklah, bagaimana kuliahnya?” beliau masih (tetap) ramah, “baik” terdengar sedikit ketus tapi beliau malah tersenyum “dengan siapa kesini?” aku tak menjawab dan beliau memberi tahu gadis tadi untuk menyuruh ibu ikut bersamaku disini.

Setelah beramah tamah dengan ibu, ‘sesuatu’ yang kutunggu akhirnya terdengar juga, dengan hati-hati dan bahasa yang amat bijak serta terkesan menabahkan.. beliau menyampaikan hasil lab dari Jakarta yang dikirim minggu lalu. Aku ingin teriak tapi malah terisak, meski aku belum  kenal ‘jenis’ yang beliau sampaikan tapi aku rasa ‘hal itu’ adalah sesuatu yang mengerikan. Terlebih saat mendengar bahwa aku harus berada disini sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Ibu..” kalimatku terputus ketika menjumpai bulir bening menggaris wajah beliau “ya”kudapati senyum yang menenangkan, “apa zee harus disini?” tanyaku hati-hati sebab tak ingin ada garis selanjutnya diwajah beliau, “kenapa nak? Bukankah ibu juga disini bersama zee?” aku tahu beliau mencoba menahan bendungan air mata, “ya.. ada ibu disini” senyumku berusaha tulus.

**

Aku tak tahu lagi bagaimana teriknya siang bulan ini, pun aku tak mengenali titik hujan dari awan kelabu september, yang kutahu hanya jendela dengan tirai tinggi untuk menghalangi cahaya matahari, yang kutahu hanya selang-selang monitor terhubung dengan tubuhku, yang kutahu hanya delapan pil pahit yang harus kutelan tiga kali sehari, yang kutahu hanya satu persatu dari temanku diruang ini ‘pergi’ bersama airmata tertahan dari orang-orang yang menyayangi. Dan yang terakhir kutahu adalah.. semua yang terbaring disini tak pernah keluar ruangan dengan bernafas.

“ibu..”kucari mata teduh itu “zee ingin tinggal dirumah”. “disini saja nak, agar zee lekas sembuh” senyum yang selalu menentramkan. “dirumah saja bu,, zee suka dirumah”, beliau menghela nafas berat “zee janji tetap makan obat, zee juga janji untuk menghindari sinar matahari” kupegang tangan ibu “zee lebih suka dirawat ibu” ujarku mengakhiri kata. Beliau tak bersuara, hanya tersenyum dan melangkah pelan kekamar mandi, aku tahu bahwa tangis beliau pecah disana.

**

Kukuak pintu kamar yang sudah 37 hari kutinggalkan, ada kerinduan tersemat di gorden jendela, tempat kubiasa memandangi hujan dibulan-bulan berakhiran ‘ber’, tempat kubiasa melihat anak-anak MDA keluar dari kelasnya sambil berlari, tempat kubiasa berlama-lama dengan buku yang penuh coretan tanpa judulku. Kuedarkan pandangan sekeliling, kutemukan mushaf hijau lumut diatas meja, sudah lama tak kusapa dia, semenjak Dia memberiku gelar ODAPUS karena Systemic Lupus Erythematos dengan senang hati menginfeksi sistem dan organ tubuhku seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, ginjal, hati, jantung dan  otak (serta nyawaku..!), semenjak sinar matahari merupakan ‘musuh’ besarku, semenjak Dia memberiku ‘sesuatu’ yang belum diketahui obatnya, semenjak sel darah merahku dihancurkan oleh ‘sesuatu’ yang asing dalam tubuhku sendiri, semenjak aku ingin untuk tak melihat fajar selamanya.

Ah..tapi bagaimanapun_aku rindu Dia.. aku rindu saat Dia mengajarkanku buah manis kesabaran, aku rindu saat Dia mengajarkanku indahnya kemudahan setelah memberiku pahit kesulitan. Kusentuh mushaf itu dan kutemukan debu disana, apa sekarang Engkau marah? (seperti marahnya aku pada-Mu?) apa sekarang Engkau kecewa? (seperti kecewanya aku pada-Mu?) apa sekarang Engkau juga meninggalkanku?(seperti aku yang telah meninggalkan-Mu?).

Sudahlah..aku tak ingin ada Engkau hari ini..!!!

**

Mendekati subuh, aku masih sempat melirik Doraemon yang berjingkat setiap detik mengelilingi rotasi yang tertutup oleh loncengnya, sunyi mendekap malam dalam hangat pekat dan tiba-tiba semua gelap, awalnya kupikir pemadaman listrik tapi suara radio dari kamar sebelah masih terdengar jelas, segera kupanggil ibu tapi suaraku tercekat, berusaha kuberanjak menggapai pintu kamar yang seingatku berada sebelah kanan dari tempat tidur tapi sia-sia, aku tak bisa menggerakkan satu jaripun, dingin mulai mengambil tempat diujung jari kakiku, perlahan naik ke lutut dan berdiam diri hingga gigil mulai memeluk sendiku, pelan beranjak menuju dada sembari meninggalkan beku ditulang dan itu sakit, sangat sakit. “Allah” bisikku “jika ini adalah saat dimana Engkau hendak memanggilku maka tolong kabulkan pinta terakhir, izinkan aku sejenak membahagiakan ibu”, degub jantungku terdengar lantang berpacu dengan isak tertahan milik ibu yang entah sejak kapan telah berada dikamarku “nak..” suara ibu lirih. “hingga saat ini aku masih percaya bahwa Engkau Maha Mendengar wahai Dzat yang lebih dekat dari urat leher..!” sambungku tanpa suara. Hangat kembali menjalari tubuh bersama darah dari jantung yang memompa dengan kecepatan penuh, secercah sinar mulai menyentuh pupil dan mengantarkan informasi itu kesyaraf otakku, disekelilingku ada ayah dengan Al-Qur’an ditangan beliau, ada Kakak yang berdiri mematung, dan ada ibu dengan wajah lega ketika kubuka mata.



**


“tok..tok” pasti ibu mengira aku masih dalam selimut pagi ini, “iya bu..” aku membuka pintu dengan senyum mengembang, “mau jalan-jalan?” tanya ibu dan aku segera mengangguk.. hal yang sering kami lakukan setelah subuh hingga mentari terbit (meski aku rindu melihat semburat dari ufuk timur tersebut). Bersyukur Dia mau mengabulkan pinta terakhirku, bersyukur juga kini Dia ada (dan akan selalu ada) dihariku, bersyukur sebab Dia mengajariku pelajaran yang amat berharga tentang husnudzan yang ternyata berkawan baik dengan  sabar dan ikhlas. Kini aku tak marah, kecewa apalagi hedak meninggalkan-Nya.. terlalu bodoh jika pertanyaan retoris dalam surat cinta-Nya kuabaikan begitu saja “fabiayyi’ala irabbikuma tukadibaan?”. Tidak Ya Rahman,, aku tak hendak (dan tak ingin lagi) mendustakan semua nikmat-Mu, meski aku harus menghindar dari terik siang-Mu..biarlah bulan jadi mentariku, meski bocor tetap milik ginjalku tapi aku lebih beruntung dari mereka yang ginjalnya dicuri, meski ujung jariku sering biru sebab jantung tak mampu memberi oksigen yang cukup sampai disana tapi bukankah aku lebih beruntung dari mereka yang bahkan tak punya tangan. Jadi Terima Kasih Engkau telah memberiku hidup dan orang-orang yang membuatku merasa hidup. Dan jika Engkau hendak memanggilku, maka panggillah aku setelah melihat senyum ibu.

catatan Hati

Sunyi, tak ada suara selain irama jariku yang menari lincah diatas keyboard. Malam ini memang tak biasa, sejak jam sembilan tadi teman-teman kos telah kembali kekamarnya masing-masing, sebelum berangkat mereka sempat berpesan agar aku segera tidur sebab acara besok akan menguras tenaga. Ya..besok adalah hari dimana ratusan mahasiswa resmi ‘melepaskan’ status
kemahasiswaannya, hari dimana ratusan orang sepertiku harus memulai langkah baru..meski siap atau tidak, hari dimana ratusan orang sepertiku layaknya kura-kura yang keluar dari cangkang telur dan bergegas kelaut. ah..bagaimana aku bisa memejamkan mata sementara langkahku lusa masih diselimuti kabut abadi. Bagaimana aku bisa terlelap tidur padahal mulai besok, aku tak tahu harus melangkah kemana tanpa status seperti biasa.
Mendekati tengah malam, sunyi makin betah berlama dikamarku, mungkin ia tahu bahwa ini malam terakhirku disini, dikamar yang dindingnya penuh tempelan coretan yang kubuat, dan tulisan paling mencolok adalah “aku tidak tahu ini rahmat atau musibah, aku hanya ingin berprasangka baik pada-Mu, Allah” yang kubuat ketika mengerjakan skripsi. Yuph.. segera saja tulisan itu kulapalkan lagi untuk diriku sendiri, berharap semua yang akan terjadi menjadi lebih baik berdasarkan persangkaanku pada-Nya.

jam 2.30 dini hari, dan ‘nyanyian tidur’ ku sudah berulang 7 kali.. padahal biasanya aku hanya mampu mendengar setengah dari seluruh bait. Ah,, harusnya aku sudah terlelap..!

**
Sunyi ternyata meninggalkanku jam 4.30, tepat ketika salah seorang temanku yang juga akan wisuda pagi ini keluar dari kamarnya untuk mandi. Mungkin ia bergegas kesalon agar sebelum jam 8 sudah berada diruangan dengan dandanan rapi. Hm.. “semoga hari berlalu dengan (sangat) cepat”  do’aku mengawali hari. pagi ini juga tidak seperti pagi biasa sebab kebanyakan teman-teman datang dengan wajah riang dan rupa yang nyaris tak kukenal..  bersyukur aku tidak ‘ikut’ sebab aku tak bisa membayangkan akan seperti apa wajahku setelah di’permak’.
Ruangan penuh sesak oleh lebih dari 2000 orang pagi ini, mereka adalah mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya disini dan kembali pikiran itu melintas diotakku, akan kemana semua wisudawan/ti ini sehari, seminggu atau sebulan setelah hari ini? Adakah tawa renyah mereka adalah bentuk kebebasan atau malah sebentuk topeng untuk menyembunyikan kegelisahan seperti yang kugunakan? Adakah wajah riang mereka adalah bentuk kepuasan sebab telah lulus atau malah hanya sebentuk kebaikan agar gundah itu tidak terbaca dan menular? adakah saat ini pikiran yang ada dikepalaku juga singgah dibenak mereka? Tentang lusa yang dalam kabut abadi, tentang tangung jawab yang sebenarnya telah ada dipundak ketika pembimbing menyalami dimeja hijau dengan wajah puas? Tentang harapan dari orang tua yang kini mulai bertunas? Tentang masyarakat yang meminta partisipasi lebih pada sarjana, tentang banyak hal lagi yang tak bisa kujabarkan,,“hei..foto yuk” sebuah suara terdengar dengan tepukan pelan dipundakku, tapi aku malas untuk mengabadikan senyum tidak tulusku hari ini jadi kuputuskan untuk menjadi fotografer dengan beberapa kamera ditangan.



aku tidak tahu ini rahmat atau musibah, tapi aku hanya ingin berprasangka baik pada-Mu Allah gumamku meyakinkan hati agar otak tak galau lagi.



kadO

 sudah berhari-hari ingin kutulis sedikit cerita tentangmu tapi selalu saja terjadi defisit dalam perbendaharaan kataku .
oya..hari lahirmu bukan? hari dimana puluhan tahun lalu (jiah..udah ngerasa tuwir deh) seorang gadis mungil lahir kedunia dalam keadaan sehat (?)hm...tapi ma'af, sepertinya tak akan ada ucapan  dariku sobat sebab konon katanya gak boleh karena bid'ah .


so,,sekarang kita ngapain ya? (tuh kan.. saya gak punya ide).. 


hufft..Tapi terlepas dari bid'ah atau segala mitos tentang ulang tahun yang dikenal masyarakat dunia saat ini, seperti mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue yang menurut salah satu sumber bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis dan untuk memvisualisasikan bulan purnama mereka menggunakan kue berbentuk bulat. Atau cerita tetang Geburtstagorten dijerman yang merupakan salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan..Yang pasti menurut saya setiap orang sudah sepantasnya menghargai dan mensyukuri setip detik waktu yang kita lewati tidak hanya ketika tiba tanggal yang sama ketika kita dilahirkan. 

nah lho... itu bukan bid'ah lo ya,,cuma sekedar 'saling mengingatkan'. 

udah'n ya,,
salam..

pleGmatis

hm...iseng2 nyoba ikut kuis facebook, ternyata oh ternyata..saya adalah pendamai yang tidak suka kekerasan. namun cenderung pasif dan pemalas



kegelisahan Iblis


Once upon a time..seekor (bukan bermaksud mengada-ngada tapi berdasarkan ilustrasi gambar iblis memang punya ekor) iblis mendapati seorang manusia tengah shalat, instingnya langsung bekerja sesuai janjinya pada sang pencipta maka dia langsung menggoda dengan segala cara hingga manusia tersebut memutuskan shalatnya dan menatap iblis dengan lama, “kenapa kau menggangguku?” bentaknya kemudian.. “karena aku ingin jadi sahabatmu ” jawab iblis dengan wajah ramah “mengapa kau pilih aku?” manusia masih belum terima “karena percuma kau shalat..dosamu menghalangi do’a yang kau panjatkan.. bukankah shalat itu berarti do’a jadi tak perlu shalat kalo masih berdosa” (ternyata iblis pintar beretorika) “hm…baiklah” manusia tampak berfikir (kelebihan yang sering tidak disadari manusia) “aku setuju dengan asumsimu” sambungnya kemudian dan mata iblis langsung bersinar bahagia 

Adzan dzuhur berkumandang dan manusia terlihat tak peduli maka dengan hati-hati iblis bertanya “kau tidak shalat?” manusia bergumam “tidak..pekerjaanku hampir selesai dan sayang kalau ditinggal” jawabnya cuek dan sekali lagi iblis teramat senang “kau memang sahabatku” tuturnya merangkul pundak manusia, aku pergi sebentar untuk mencari sahabat lain yang sedang shalat (NB: sahabat tak pernah meninggalkanmu jadi iblis bukan sahabat yang baik).
Ashar datang bersama matahari yang mulai merunduk dan kembali iblis menemui sahabatnya.. “tidak shalat kah?” tanyanya lagi “sebentar lagi.. aku masih lelah dengan pekerjaan tadi siang” (padahal dalam satu riwayat.. sahabat pernah meminta bilal untuk mengistirahatkan mereka dengan shalat) “baiklah..” jawab iblis mulai bernada cemas, dia berdiam diri dan melupakan tanggung jawabnya untuk menggoda manusia yang sedang shalat “ashar hampir berlalu dan kau masih belum shalat” protesnya lagi dan manusia diliputi keheranan “kenapa kau lebih cerewet dari pada ustadz/ah???” iblis bergeming, bingung harus menjelaskan kegelisahannya.

Sisa kemerahan masih membayang di langit barat diiringi dengan adzan maghrib yang mengalun merdu, kegelisahan iblis makin menjadi-jadi “kenapa kau tak shalat..!” bentaknya “aku sangat lapar,, jadi sebaiknya aku makan dulu..” iblis menghela nafas berat (apa iblis bernafas..???) “makanlah..” tuturnya pasrah. Dan waktu berlalu hingga isya datang dipekat malam “shalatlah..”pinta iblis dengan mengesampingkan amanah dari nenek moyangnya agar mencegah manusia untuk shalat “nanti saja.. ketika akan tidur, bukankah waktu isya itu panjang” jawab manusia sambil tidur-tiduran dan beberapa saat kemudian telah hanyut dalam bunga tidurnya yang hampir bersifat adiktif.
“hei bangun…!” iblis benar-benar tak sabar (pernahkah iblis sabar???) mendengar adzan subuh sudah bersahut-sahutan “ada apa?” malas manusia bangkit dari tidurnya “mulai sekarang aku tak mau lagi jadi sahabatmu…!” intonasi marah benar-benar kentara dikalimatnya “apa?” manusia mengernyit mengumpulkan sadarnya “aku tak mau jadi sahabatmu..apa kurang jelas” iblis benar-benar emosi “kenapa?” kali ini manusia ketularan sifat iblis -tukang protes- “kau tahu…”iblis mulai terisak “bahwa aku mendurhakai-Nya dengan tak mau sujud sesuai perintahnya..” dia berhenti sejenak menyeka air matanya “aku tahu” potong manusia tak sabar (memang sifat asli sepertinya) “dan kau tahu bahwa aku hanya sekali menolak untuk bersujud..?” dan manusia mengangguk “sedangkan kau..??? lima kali kau menolak sujud dalam sehari, betapa lebih durhakanya kau dari pada aku..” dia menunduk “awalnya kupikir aku mendapat sahabat yang bisa menemaniku dineraka nantinya tapi sekarang aku mulai ragu.. jangan-jangan akulah sahabat yang harus menemanimu dineraka nantinya” galau yang sejak tadi sore membungkus hatinya perlahan menipis, “dan aku minta maaf.. alasanku kemaren pagi itu tak bisa dibenarkan”.
Hening.. tak ada tanggapan dan dengan keberanian yang dipaksakan, iblis mulai mengangkat wajahnya dan betapa kecewanya dia bahwa sahabat yang diharapkan mau mendengar gundahnya telah tertidur pulas “manusia ternyata lebih keji dariku, udah capek-capek curhat..e…malah ditinggal tidur” (bahasanya mulai tidak sesuai KBBI) “manusia juga lebih durhaka ketimbang aku, mereka berkali-kali gak peduli seruan-Nya, berkali-kali mengumpat-Nya jika diberi cobaan dan berkali-kali gak bersyukur kalo dikasih nikmat” gumamnya sendiri “mereka melanggar larangan-Nya, gak nggeh ma perintah-Nya, betapa sombongnya mereka” dia mendengus “dan anehnya, mereka terus saja melaknatiku karena gak mau sujud.. inilah mengapa mereka punya pepetah ‘semut diseberang lautan tampak sedangkan gajah dipelupuk mata tidak kelihatan’…lagian, sebenarnya aku lebih suka orang-orang yang tunduk pada-Nya, rasanya damai aja ngelihat mereka sujud dan nutup aurat,,terlepas dari tantangan yang harus kutaklukkan” dia beranjak pergi meninggalkan manusia yang melupakan subuhnya, “selagi kau masih punya kesempatan maka taubatlah.. kau mungkin sudah tahu bahwa Allah suka mendengar tangis orang-orang yang bertaubat” bisiknya berlalu sambil menyeka airmata.

PintaKu

ketika izrail bertandang kekediamanku,
ketika dia mengajakku dengan paksaan atau kerelaan,
ketika satu persatu kalian kujauhi,
ketika itu aku pergi..

jika kata-kataku pernah menyakiti maka maafkanlah
jika sikapku pernah mendzalimi maka maafkanlah
jika sifatku terlalu egois maka maafkanlah
karena urusanku dengan-Nya disana tak akan pernah selesai jika belum menyelesaikan perkaraku disini.

Ketahuilah..
Bahwa kalian memberi warna indah dihariku,
memberi kata terbaik diperjalananku
memberi arti dilangkahku
dan memberi sesuatu yang ingin selalu kusyukuri

penuhilah pintaku..
tolong jangan tangisi kepergianku
tolong jenguk aku dengan do’a disetiap shalatmu
tolong jangan bebani aku dengan perkataan setelah kematianku

aku tak pernah tahu kapan dia berkunjung,
sebentar lagi, hari ini, esok, lusa, minggu depan atau ketika satu persatu nikmat-Nya telah diambil kembali tapi aku tahu pasti bahwa dia akan mengunjungiku dengan atau tanpa kesiapan dariku.. dan jika saat itu datang maka percayalah bahwa hidupku belum berakhir tapi baru saja berawal.. hidup abadiku ditempat terindah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai atau ditempat yang dipenuhi sesal dan permintaan untuk dikembalikan kedunia. Tapi aku percaya dengan perkataan kekasih-Nya bahwa dihari akhir..seseorang akan bersama orang yang dicintainya maka sedapat mungkin kurajut cinta untuknya agar dapat syafaat dan singgah ditelaganya, agar bisa menatap wajah agungnya yang lebih indah dari rembulan, agar bisa duduk didekatnya dan mendengar indah suaranya, agar bisa melihat senyumnya dan caranya bercanda.. dan kuyakin tangisku pecah ketika pertama kali bersua dengannya, karena rindu dan malu bersinergi dengan cinta yang tengah kurangkai.

Ketika sang pemutus nikmat itu datang,
Ketika dia membawaku bersamanya,
Ketika kesendirian adalah pilihan terbaik,
Ketika itu aku pergi..