L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Kau dan aku.. seperti halnya dua sisi rel kereta*

Kau dan aku.. seperti halnya dua sisi rel kereta, kita berjalan bersama.. melewati terowongan berujung cahaya, meliuk diantara bukit berbatu kemudian membelah danau dengan riak kecilnya, melintasi sawah, desa atau kadang jalan raya.

Kau dan aku.. seperti halnya dua sisi rel kereta, kita berjabat beriringan. Mengikhlaskan kereta takdir melindas tubuh kita bersamaan (tanpa jeda), kemudian saling tatap lewat balok-balok sejajar yang tersusun rapi. Tak lama kita tersenyum mendapati kerikil-kerikil kecil disekitar telah berpindah tempat sedang kita masih dalam posisi yang sama.

Kau dan aku.. seperti halnya dua sisi rel kereta, kadang mungkin kita merenda mimpi yang tak sama, ingin menjadi sehelai titian, menjadi seutas tali, menjadi apapun yang memungkinkan perbedaan antara kita itu nyata.. tapi tetap saja itu hanya mimpi sebab kita seperti halnya dua sisi rel kereta, yang tak perlu berharap untuk bertemu disatu titik selagi masih ada lokomotif-Nya.

*kuharap kau tidak membacanya

Biarlah Bulan Jadi Mentariku (Part III)

Kamar 2 C, Ruang Bedah.
“hai” sapanya ramah, aku bergeming. Tidak berniat menjawab bahkan memberi seulas senyumpun aku enggan. “selamat datang” tuturnya lagi, dan aku menoleh pada ibu. Ibu tersenyum kearahnya, “apa kabar?” ibu bersuara. “baik buk. Baru habis operasi ya buk?” jawabnya cepat dan ibu mengangguk.

Itulah awal perkenalan kami diruangan yang cuma ada dua pasien. Dia unik,, seolah dunianya tidak mengenal sakit apalagi derita, walaupun kenyataanya tidak seperti itu. Tubuhnya kurus dengan wajah tirus, sering kali memakai penutup kepala untuk menyembunyikan berkas jahitan operasi, ditangannya ada beberapa bekas luka suntikan.. (mungkin bekas infus).

“tidurmu nyenyak?” sapanya suatu pagi, “lumayan” jawabku sambil tersenyum tapi tidak balik bertanya sebab aku jarang melihatnya tidur, setiap kali aku terjaga.. dia pasti sedang khusu' dengan mushaf kecilnya berwarna coklat. “hujan” gumamku sendiri menatap jendela “ya..aku suka hujan”, aku tak bersuara..menunggu dia melanjutkan kalimat “kau tahu, kenapa aku suka hujan?” bergegas aku menggelang “sebab itulah salah satu waktu do'a terbaik untuk berdoa" dia memandang keluar jendela, "wa nahnu akrabu ilaihi min hablil warid" gumamnya pelan, "artinya...?" sambungku dengan intonasi anak" TPA ketika membaca do'a, ia menoleh kearahku sambil tersenyum "dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, surat Qaaf ayat 16" jawabnya, "kau tahu zee.. aku tak pernah menyangka akan hidup  hingga hari ini, sudah bermacam obat kuminum, beragam pengobatan kucoba dan hasilnya tetap sama. ketika dokter memvonis usiaku tak akan lama, aku sempat terpuruk dan bertanya tentang keberadaan-Nya" dia terkekeh "ternyata Dia menjawab tanyaku disurat Al-Baqarah ayat 186 zee, Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat..."  aku menyimak "maka ketika aku merasa sendiri, ketika aku merasa bahwa tak seorangpun mengerti bagaimana rasa sakit dalam kepalaku, saat itu kusentuh leher sambil berkata Duhai Maha penyayang,,Engkau tahu apa yang kurasa bukan?“ dia memperhatikanku "jadi zee.. ada Dzat Maha Hidup yang selalu ada untukmu, yang selalu mendengar meski kau berbicara dengan bahasa hati, yang selalu menunggumu mendekat dan menyampaikan semua hal" aku meraba urat leher dan sekali lagi dia tersenyum "kurasa cukup tausiyah pagi ini..he..he. kau sudah lebih sehat sekarang..” senyumku mengembang “sebab ketika pertama disini.. kupikir aku tak akan sempat melihatmu tersenyum” aku tertawa.. “umurku masih panjang” jawabku sekenanya “ha..ha.. semoga saja” dia ikut tertawa.

“zee.. sudah bangun nak?” Ibu masuk keruangan, “sudah bu.. ibu dari rumah?” kulirik barang bawaan ibu. “pasti nyari rubbik’s?” ibu menebak dan aku mengangguk. Sebuah rubbik renta diulurkan ibu padaku, ah..aku sungguh rindu padanya sehingga dengan cepat kuacak warna-warna itu. “rubbik..” aku nyaris lupa bahwa masih ada yang terbaring tidak jauh dariku. “boleh kucoba?” suaranya bersemangat. Aku diam sambil terus mengacak “zee jelek.. boleh kucoba?”. Aku berbalik kearahnya “oya…tentu saja tuan keren, tapi hati-hati..kau hanya boleh menyusun, bukan merangkai” dan rubbik itu berpindah ketangannya. Tak lama rubbik rentaku berserakan dilantai dan selimut bergarisnya. “tak apa.. memang sudah longgar” ujarku ketika menemukan penyesalan dimatanya. “ma’af zee..”, “he..he.. sudah biasa, rubbik itu memang sudah renta, sini kurangkai” jawabku ringan.

***

“kau tahu dimana ICU?” tuturnya pelan siang itu sambil melirik ibuku dan ibunya yang berbincang tak jauh dari kami “aku pernah kesana tapi tidak tahu tempatnya dimana”, “ICU itu disayap kiri rumah sakit ini, didekat pos satpam” dia menghela nafas “tepat disamping ruang operasi dan fisioterapi”. “jadi jika kau tak sadar nanti setelah operasi, kau akan langsung dikirim keruang disebelahnya” ujarku dan dia tersenyum, “atau ruang dibelakangnya..” aku mengernyit “ruang apa dibelakang ICU?” dia menatapku agak lama “ruang jenazah..ha..ha..” tawa khasnya terdengar asing.

“hati-hati” mataku berkaca ketika mengucapkannya, “tenang, aku akan baik-baik saja” senyumnya tegar sehingga tak mampu kutahan bendungan air mata “hei..jangan menangis, setidaknya tolong jangan tangisi aku”, “nanti jangan pergi keruangan dibelakang ICU..!” suaraku putus-putus, “nanti jika aku pergi kesana..ambil sesuatu dalam laci mejaku” pandanganku makin kabur tertutup air mata “zee..”pelan suara ibu menenangkan.

“baiklah.. aku pergi dulu.. do’akan ya” perawat mulai mendorongnya “oya.. terima kasih untuk minggu yang indah, ma’af tentang rubbik itu” ujarnya sebelum hilang dibalik pintu ruangan.

Waktu berjalan pelan, aku pura-pura tidur agar ibu bisa istirahat. Sesekali kulirik jam dinding untuk memastikan berapa lama lagi aku harus menunggu. “Rabb.. jika kesembuhan adalah lebih baik baginya maka mohon engkau mudahkan dan segerakan” gumamku. Pintu kamarku terkuak dan seorang wanita muda masuk keruangan sambil tersenyum kearah ibu, matanya merah dan sedikit sembab. “mau ambil barang-barang bu” tuturnya setelah mengucap salam.  “barang-barang ardi?” ibu bertanya singkat, “iya..dia sudah bisa dibawa pulang”. Tanpa suara tangisku pecah, ibu mendekat dan menenangkanku, perempuan itu mendekat “zee ya? Tadi ardi titip barang dalam kotak untuk diberikan sama zee” beliau tersenyum “cepat sembuh ya, tante pergi dulu, banyak yang harus di urus. Assalamu’alaikum” ujarnya meninggalkanku dengan sebuah kotak bening berisi rubbik baru dan sebuah gulungan kertas.

“hari itu aku sangat senang ketika mengetahui akan mendapat teman baru, aku berharap teman baruku laki-laki tapi ternyata perempuan jutek nan manis. Tak apalah sapaan pertamaku diabaikan, tak apa juga senyum pertamaku diacuhkan.. namun semua ceritaku ditanggapi dengan baik,, sangat baik :D.Zee..aku benar-benar menyesal mengenai rubbik itu, aku baru tahu bahwa itu rubbik pertama yang kau punya sehingga pantas saja kau begitu menyayanginya. Hari ini kuberi kau satu rubbik, anggap saja sebagai rubbik pengganti pertama yang kau punya jadi kuharap kau juga menyayanginya (sama-sama yang pertama jadi harus sama-sama disayangi..ya kan zee?)
Baiklah..aku harus istirahat untuk operasi besok, terima kasih sudah menjadi teman yang baik seminggu ini.. kau tahu,, kau teman kamar terbaik yang kupunya,, tahu kenapa? Sebab kau tak punya seorangpun saingan..he..he.. cepat sembuh zee “.

ME n RAPUNZEL


Kau tahu gambar siapa apa itu? Yuph..jawabanmu benar jika berkata itu Rapunzel, versi apa yang pernah kau dengar tentang gadis tersebut? Ah..Memang ada banyak versi tentang sirambut ajaib itu.. tapi bagiku, semua versi yang dimulai dari kalimat “pada suatu hari..”, “once upon a time..”, dll itu selalu menarik. Tahu kenapa? Sebab akhir cerita selalu “ dan mereka bahagia selama-lamanya”, “n they are  happily never after”, dll (Husnulkhatimah ^^ he..he..) sebab alur cerita selalu memposisikan si jahat selalu kalah, dan si baik selalu menang (sesuatu yang jarang ditemukan didunia nyata).

Oopz.. maksud tulisan ini bukan hendak membahas tentang ‘dongeng’ Rapunzel tapi sebenarnya membahas tentang seorang adik yang selalu bersemangat jika menonton ‘Si Rambut Ajaib’..

“kenapa selalu minta diputarkan Rapunzel?” tanyaku siang itu

“suka” jawabnya pendek..

“ada banyak kaset ‘dongeng’ lain yang bahkan belum pernah diputar, kenapa Rapunzel berkali-kali?” usikku lagi..

“Rapunzel itu mirip kakak”..suaranya polos

*gdrak… bintang kecil muncul dilangitku yag biru,,

“Mirip???” protesku menatap layar

“shttt….udah mulai kak” bisiknya meletakkan jari didepan mulut

Waduh..nie anak kecil, filmnya kan bisa di-pause

“sini kak, duduk..” dia kembali bersuara, menepuk lantai kosong disebelahnya. Aku menurut..mencoba meneliti Rapunzel yang katanya ada kemiripan denganku.

“Hm..mirip apanya coba?” aku tidak sabar..

“sht,,,,” matanya tidak berpindah dari layar

Dan…

“kakaaaak…..” protesnya melihat si kuda (Maximus)  tidak bergerak.

Kuberi tatap’_memangnya_ada_apa’

“kakaaaak…..” kali ini intonasi permintaan,


aku bergeming.

“kakaaaak….” Intonasi permohonan dan sekejab kemudian Maximus langsung menjatuhkan sepatunya
,

Hingga dongeng berakhir sebagaimana biasa, aku belum menemukan kemiripan apapun dengan Rapunzel tapi tetap saja adikku yang keras kepala berkata bahwa kami sangat mirip, “tapi tolong diingat kak.. bukan wajah, postur apalagi rambut..!” ujarnya berkali-kali.

 LALU APA???

Phufft…
 

Selamat Tahun Baru ^^

Selamat tahun baru ^^..

Wah..gak terasa ya,, udah awal tahun 1433 H.

Terlepas dari pertikaian kapan satu muharram,,tetap saja kita perlu besyukur telah diberi hidup yang penuh warna hingga hari ini. Bersyukur masih bertemu bulan haram yang  puasanya merupakan puasa terbaik (setelah ramadhan tentunya)..

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail”    \[ HR. Muslim(11630) ]

He..he..itu hadist pengantar..(eit..jangan kabur dulu_ insyaAllah pembahasan kita kali ini ada manfaatnya)

Wah..keren ga tuh? Tapi tahukah sahabat  keutamaan puasa asyura tersebut?
Hm..let see,,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun lalu” \[ HR. Tirmidzi (753), Ibnu Majah (1738) dan Ahmad(22024). Hadits semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohih beliau (1162)]

Dosa tahun lalu..! mari berhitung_kalo ga bisa setahun, hitung persemester aja, atau perbulan juga boleh.. perhari juga ga apa-apa.. (ingat waktu bohong ma orang tua waktu minta tambahan subsidi bulanan? Ingat waktu nyontek jawaban ujian? Ato yang paling kecil n sering dilupakan..ingat waktu ada ada sedikit sombong ketika kita lebih hebat dari yang lain?) hufft..banyak ga?

Udah selesai menghitung jadi timbul pertanyaan.. puasanya kapan aja ya?

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ

Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi”\[ Diriwayatkan dengan sanad yang shohih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665) dan Ath Thobari di Tahdzib Al Aatsaar(1110)]

Nah..berarti mulai menghitung lagi.. hari apa kita ‘mewajibkan diri’ untuk puasa ^^


Mengenalnya seperti mengenal titik-titik,


Aku lupa kapan pertama mengenalnya, aku juga lupa bagaimana awal perkenalan kami..

Tapi yang pasti aku ingat..perlahan aku belajar banyak darinya, tentang senyum, tentang semangat, tentang kecerian, tentang pengorbanan, tentang caranya memandang hidup, tentang semua yang berhasil kutahu dari sedikit informasi yang kupunya.

Mengenalnya seperti mengenal titik-titik, selalu ada jeda dalam setiap kisah yang kupungut dan kusimpan, yang kadang bahkan tidak ada kelanjutan sama sekali. tapi biarlah..aku menikmati setiap semangat yang meletup ketika menyadari bahwa aku belum punya telaga seperti miliknya untuk segenggam garam kehidupan, aku belum bisa menyimpan semua keluh tentang  tulisan-Nya seperti rapinya dia bersembunyi dibalik jawaban yang sama (senyum), aku bahkan tidak sesiap dia menghadapi semua hal yang tidak lebih menyakitkan.

Aku tak ingin lebih dekat, sungguh..! aku hanya ingin mengenalnya dari semua keterbatasan yang telah ada, aku hanya ingin menikmati indahnya dari sisi yang kupunya, aku hanya ingin mempelajari setiap  puzzle-nya hingga waktu itu tiba, aku hanya ingin ada dalam ruang sederhana miliknya, sebuah ruang untuk siapapun yang jarang diingat bahkan rentan untuk dilupa.

dan jangan ada salah sangka,, kutulis semua ini sekedar untuk pengingat apabila memoriku dibajak oleh sesuatu yang asing, sekedar pemindai bahwa ada orang dalam hidupku yang pernah singgah dan kemudian berlalu.

Sketsa Bumi

Niat awal sih mau nyari bahan geografi untuk tes besok.. sebab sudah tujuh tahun tidak bersitatap dengan ‘sketsa bumi’ tersebut, yaph..sejak SMK mencatat nama saya sebagai salah satu siswanya, sejak itu pula geografi makin jarang berkunjung kedalam ingatan dan hari ini saya harus (berusaha tidak terpaksa) kembali silaturahim pada sisa-sisa ingatan yang tertimbun.

Nah..itu niat awal, tapi setelah waktu berjalan..


...



(ternyata waktu berjalan dengan anggun)
saya menemukan ‘bahan geografi’ yang sedikit berbeda:

Mengeluhlah pada langit, troposfer yang menyangga awan-awan dingin yang menangis setiap saat tapi tegar. Mengeluhlah pada putri-putri malu yang setiap harinya terinjak-injak percuma namun ia tetap berbunga. Mengeluhlah pada tanah-tanah retak yang rela menjadi patahan, maka akan kau temukan mereka lebih sengsara tapi lebih bahagia darimu.
Kita adalah korelasi sederhala dalam kehidupan, aku – kamu, dimana perbedaan wilayah tidak menjadi alasan untuk menyatukan dua hati. Kita tidak terikat oleh urut-urutan temporal. Tidak terhitung oleh regresi sebab-akibat dan koefisien-koefisien baku metode kuantitatif
Jangan kau tanyakan cinta pada orang yang tak kau kenal. Tanyakanlah pada dosen-dosen geografi. mungkin ia akan menerangkan kepadamu siklus hidrologi. Mungkin ia sebuah perkolasi yang rumit. yang takkan bisa dihitung dengan rumus horton atau rumus manapunhttp://budiografi.wordpress.com

Whaaa…. Geografi

Merasa seperti denudasional dalam bimbang antara agradasi atau degradasi

Perlahan bahasa bisnis terkondensi menjadi sketsa bumi..

Jadi semoga tidak terdapat masalah modifikasi gen dalam kurun waktu sewindu ini..

judulnya pa an ya???

Selamat malam, saya hanya ingin menulis..  (meski otak tak punya topik apapun), sekedar meninggalkan jejak bahwa pernah ada hari dalam hidup saya yang dilalui dengan biasa (he..he..emang hari lainnya luar biasa gituh?)

Hm..kenapa saya ingin menulis? (hayyo main tebakan). Sebab saya suka menjadi siapa saja dalam tulisan, ketika menjadi sosok ayah yang berusaha tabah dalam tulisan ‘aceh : mengapa Engkau ambil semua?’, ketika menjadi janin kecil belum bernyawa dalam ‘pergi sebelum hadir’,, sosok aku yang digugurkan oleh seorang ibu (andai ibu tahu bahwa betapa harapnya aku punya nyawa seperti teman-teman yang lain), ketika menjadi sosok jahat keisya yang ditemui oleh hantu Dimitri (ha..ha..ternyata saya pernah juga bicara hantu dalam tulisan), ketika menjadi seorang ODAPUS yang terus mencoba memaknai hidup dari sisi indah. Dan saya paling suka jadi willa dalam ‘antara aku, femme dan buci’ sebab disana saya bertemu kehidupan ‘lain’ yang selama ini hanya sebatas cerita. (lho..itukan cerita juga ya?).


Dan alasan yang paling saya suka (dan jarang saya kemukakan) adalah:

Dengan menulis..saya jadi makin salut pada-Nya, pada Maha sempurna yang telah merancang segala sesuatu dengan Maha Teliti. Sebab ketika saya menyelesaikan sebuah tulisan..saat itu saya puas namun selisih berapa lama,,saya merasa ada banyak hal yang ‘kurang’ ketika membaca tulisan itu lagi. Saya jadi makin salut pada-Nya, pada Maha Kaya yang punya semua perbendahara kata hingga setiap kalimat dalam wahyu-Nya punya semacam kekuatan yang menjadikan Dia Maha Kuat. Saya jadi makin salut pada-Nya, pada diksi dalam surat cinta-Nya yang membuatnya Maha Indah. Ah..saya jadi makin salut pada-Nya.


Mendekati menit-menit catatan pergantian jumlah usia,,besok hari lahir saya puluhan tahun lalu (waaaa.. ternyata saya tidak muda lagi).. tak ada yang lebih special sebenarnya (sebab semua hari itu special..he..) tapi kelebihan dari ‘sekarang’ adalah saya sedang menulis (meski sudah saya bilang bahwa otak tak punya topik apapun) dan tambahan kelebihan (jiah..banyak donk?) adalah saya  sedang merindukan Ibu dan Ayah.. dua  malaikat yang membimbing saya selalu.. dua malaikat yang kini sepi dalam jarak ratusan kilo dari sini.. dua malaikat yang selalu punya senyum dan peluk hangat.. dua malaikat akan saya jadikan syarat sebelum ijab qabul (oopz)

Dah ah.. tiga menit lagi pukul 00.00 menjelang tanggal dimana saya dilahirkan,, dan inginnya sih pukul 00.01 tulisan ini sudah berada dalam catatan PELANGI.. Ok_ ‘Always see from the bright side va..!!’