L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

...

Galau? Huh..aku benci kata tidak jelas itu, sebuah nama penyakit menular yang menyerang siapa saja. (sejatinya tidak terkecuali aku)

Kau tahu…kutulis semua ini dalam bosan dan muak yang mengalir kental dalam darah. sebenarnya tidak penting orang lain tahu semua ini tapi toh aku menulisnya di blogku,,(yang kuyakin tak banyak pengunjung)
Sudah dari kemaren kuusir rasa menyebalkan itu, tapi dia bergeming. Juga sudah kucoba menganggapnya tak ada, namun dia makin mengambil tempat di neuronku.

Jika membahas sebab, maka aku tak punya kalimat yang pas untuk menjelaskan latar belakang semua ini. Jadi jangan berharap akan menemukan simpulan atau mengajukan saran.. percuma saja.

Yang pasti aku muak, aku lelah dan aku bosan.

Pada siapa? Entahlah.. pada semua orang mungkin (termasuk sosok yang kutemukan ketika melihat cermin)

Mengapa? Bukankah sudah kubilang aku tak mengetahuinya.

Lalu? Sudahlah.. aku bukan termasuk orang yang perlu diperhitungkan. Aku hanyalah orang yang dikenal ketika dibutuhkan, aku hanyalah orang disebut ketika diperlukan.

Hanya itu? Aku harus apa lagi..! jika selama ini aku terbiasa menggenggam tangan sendiri untuk meyakinkan bahwa aku masih kuat maka sekarang tanganku sudah lemah untuk bergerak.. mungkin butuh uluran tangan lain untuk mencoba bangkit tapi memang tak ada yang tulus kurasa (kalaupun ada.. kerap terlambat)
 

Sepotong Kisah Pernikahan*

“kreek..” hati-hati kubuka pintu rumah, walau sedikit berbunyi tapi sejauh ini anak-anakku tak pernah terbangun karenanya. Kututup kembali pintu dengan bunyi yang sama kemudian melangkah menuju kamar tidur, diatas kasur tipis kami terlihat dua jagoanku tengah tertidur meringkuk tanpa selimut. Kuteruskan langkah menuju dapur sederhana kami, nasi yang kumasak tadi sore masih utuh tertutup diatas meja, dan itu berarti mereka belum makan malam.

“bunda sudah pulang?” suara serak putra sulungku terdengar. 

“sudah..sini sayang” dia mendekat sambil mengusap mata. 

“kenapa belum makan malam?” tanyaku mendudukannya dipangkuan. 

“tadi adek nangis terus nda, dia gak mau makan”. 

“oya? Kenapa adek nangis?” lanjutku lagi, 

“gak tau..” dia menunduk. 

“ya udah..gak apa-apa. Abang makan dulu, bunda mau kekamar lihat adek”, 

“makan sama-sama aja nda, abang siapin meja ya” 

bergegas dia turun dan mengambil beberapa piring diatas rak, 

“abang gak capek?” tanyaku sambil tersenyum, 

“gak.. abang kan udah besar”, 

Kucium putra sulungku sebelum berlalu kedalam kamar.

Putra bungsuku berumur empat tahun, cerewet dan cadel. Pelan kudekati tapi ternyata dia terbangun. 

“bunda..” suaranya terdengar lemah. 

“eh..jagoan bunda udah bangun”, kudekap dia kepangkuan. 

“bunda kenapa pulangnya lama?”. 

“tadi bunda ada sedikit urusan, ma’af ya nak.. adek maukan ma’afin bunda?” dia cemberut, 

“besok-besok, bunda usahain cepat pulang deh”, dia masih cemberut. 

“ hm..besok bunda beliin permen” 

“walna-walni ya nda”, 

“siip..insyaAllah. tadi kenapa adek nangis?” dia merangkul leherku 

“ayah..” 

“bunda..udah siap, makan yuk” suara sulungku dari arah dapur memutus kalimatnya. 

“iya nak..” jawabku cepat. 

“ayah kenapa?” lanjutku lagi pada sibungsu, 

“ayah…” 

kalimatnya sekali lagi terputus ketika melihat sisulung berdiri diambang pintu. Ada apa dengan mereka? 

“ayo bunda” sisulung mengamit tanganku dan berjalan menuju dapur.

“bunda, abang makan sendiri ya” aku tersenyum. 

“gak disuapin?” godaku, 

“abang kan udah besar” jawabnya mengisi piring dengan nasi. 

“adek juga, adek juga” sibungsu mengambil piring dan menyodorkan pada abangnya, 

“adek juga makan sendiri?” tanyaku dan dia mengangguk. 

“bunda..abang gak jadi beli mobil-mobilan” bisik sibungsu ketika pertengahan makan, aku mengernyit..kenapa harus berbisik? sibungsu kembali pura-pura makan dengan serius ketika abangnya sesekali melirik. 

“tadi bunda lihat mobil-mobilan..” pancingku pada sisulung, dia diam dan melanjutkan makan. Ada apa ini?

**

Bungsuku sudah terlelap sedang sisulung pura-pura tidur. 

“abang udah tidur?” bisikku padanya, dia bergeming 

“padahal bunda punya tambahan untuk tabungan abang” ada lelehan air disudut matanya, 

“jagoan bunda kenapa?” tanyaku mengusap kepalanya, 

“abang gak punya tabungan lagi bunda”, aku menunggunya melanjutkan kalimat, 

“tadi ayah pulang..” aku mengangguk  

“ayah ngambil celengan abang” dia terisak dalam pelukanku. 

“minggu depan bunda ganti ya nak..” kuusap kepalanya dengan pelan 

“udah..jangan nangis lagi, nanti adek bangun. Oya..abang bilang apa sama adek sebelum bunda pulang?” dia menenggelamkan wajahnya dalam pangkuanku 

“abang bilang supaya adek jangan ngadu sama bunda” aku berusaha untuk tersenyum..

“sekarang abang janji sama bunda.. gak akan ada yang dirahasiakan.. sebab apapun itu, bunda gak akan marah” sulungku mengangguk sambi menyeka air matanya. 

“udah larut.. abang tidur ya” lanjutku lagi. Kuselimuti mereka sebelum membuka lembar jawaban siswa yang belum kuperiksa. Bagi sebagian orang, malam mungkin sudah setengah jalan tapi bagiku malam baru akan dimulai.

Jam dua dini hari, tuntas kuperiksa lembaran ulangan siswa, pun sudah kuinput nilai mereka dalam buku nilai. RPP dan media untuk besok juga sudah kusiapkan sebelumnya jadi aku bisa istirahat menjelang jam empat. 

“ayah.. jangan yah..” bungsuku berteriak sambil menangis 

“sstt…adek..” pelan kubangunkan dia, 

“bunda..” dia langsung merangkulku dan menangis terisak-isak 

“sht…mimpi apa sayang?”. 

“ayah ngambil celengan abang nda.. abang gak jadi beli mobil-mobilan” suaranya putus-putus disela isak. 

“udah..adek tenang aja, tabungan abang akan bunda ganti.. sekarang tidur lagi ya nak.. udah larut”. 

“adek takut..” pelukannya makin erat 

“adek takut apa?, kan ada bunda”, mata berkaca milik sibungsu menatapku lama, 

“jangan bilang abang ya bunda, adek gak ngadu..tapi adek sayang abang” aku tersenyum berusaha menahan haru, 

“adek benci ayah” aku terkesiap, 

“adek gak boleh bicara gitu.. ayah mungkin sedang butuh uang, jadi ayah pinjam uang milik abang”. 

“pokoknya adek benci ayah, adek benci ayah mukul bunda, adek benci ayah ngambil celengan abang” dia berteriak marah. 

“shht..bunda gak suka adek bicara seperti itu” aku menghela nafas berat, bungsuku mewarisi karakter keras milik ayahnya. 

“udah malam nak.. tidur ya, nanti tidur abang terganggu kalau adek teriak-teriak” dia melirik abangnya dan segera berbaring. 

“adek sayang bunda” aku tersenyum.. 

“bunda juga sayang adek” kukecup keningnya dan menyelimuti putra bungsuku.

Phufft.. hari yang berat bagi mereka. Suamiku sudah hampir sebulan tidak pulang, sebelum pergi meninggalkan kami, beliau sempat memukulku sebab tidak mau memberikan uang. Sebenarnya beliau lelaki baik, awal rumah tangga kami berjalan dengan lancar, tiga tahun beliau sabar menanti putra pertama kami yang lahir lima tahun lalu, beliau suami yang bisa diandalkan. Memang gajiku sebagai guru lebih besar dari penghasilan beliau tapi bagiku itu tidak masalah. Sebab semua penghasilan itu akhirnya tetap akan digabung untuk keluarga kami. Keadaan sedikit berubah ketika putra kedua kami lahir, beliau mulai tidak kukenali, pulang kerja larut malam dan sering membentak. Keadaan berlanjut hingga putra kedua kami berumur dua tahun, beliau dipecat sebab jarang masuk kerja dan beberapa sebab lain. Aku mulai mencari tambahan penghasilan dengan mengajar privat jam tujuh hingga jam sembilan malam dan itu berati waktuku dengan kedua putraku akan tersita. Awalnya semua lancar sebab suamiku mau menemani mereka ketika aku bekerja tapi tak lama sebab setahun belakangan beliau jarang pulang. Kalaupun pulang,, beliau hanya meminta uang padaku dan jika tidak kuberi maka itu berarti beberapa pukulan harus kuterima.

 “bukannya perempuan baik untuk laki-laki baik? Lalu kenapa kakak bersuamikan laki-laki seperti itu?” tanya adikku suatu kali, dia mendengar keadaan keluarga kami dari kalimat cadel milik sibungsu dan langsung meminta keterangan dariku. 

“ya..benar, laki-laki baik untuk perempuan yang baik pula” jawabku, 

“tapi jangan lupa. Ada sebentuk ketentuan berupa ujian yang berbeda untuk setiap kita”, kuperhatikan wajah tidak puas adikku. 

ujian itu dapat berupa harta, jiwa, kesehatan, keluarga, karier dan banyak lagi yang lain. Jadi sekarang kakak sedang diuji dalam bentuk keluarga.. ” adikku bergeming, 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Kubaca ayat 2 dan 3 dari surat Al Ankabuut. 

“kenapa kakak tidak minta cerai?” adikku ternyata masih belum terima, 

“cerai.. ? ketika nahkodamu kehilangan arah, sanggupkah kamu meminta pindah kelain kapal? Padahal ketika badai datang, beliaulah orang pertama yang berusaha menahan layar” aku menghela nafas. 

“kakak tidak tahu ini nikmat atau musibah, kakak hanya ingin berprasangkan baik pada Allah”. 

“tapi kak..dia mendzalimi kakak”, 


“kamu tahukan bahwa do’a orang yang didzalimi itu cepat diijabah oleh Allah. jadi biarkan kakak berdo’a untuk beliau,,biarkan kakak berdo’a agar beliau kembali seperti suami kakak delapan tahun yang lalu”. 

“ini tidak adil..!” aku tersenyum 

“mungkin ini yang paling adil menurut-Nya, mungkin Dia ingin memberi kakak kesempatan untuk membuktikan keimanan melalui ujian ini”. 

“tapi dia..”, 

“sudah ya.. kakak inginnya kamu menguatkan, bukan malah melemahkan” ujarku menggenggam tangannya. 

“tolong jangan beri tahu ayah dan ibu mengenai masalah ini”. 

Dia menggenggam tanganku lebih erat. “semoga kakak lulus ujian ini” dia menghela nafas

“namun jika dia bertindak lebih jauh dari semua yang pernah kudengar. Aku sendiri yang akan mengajarinya bagaimana cara menghargai perempuan”.


*jawaban untuk tupin..

Peace on Earth of Earth in Pieces



Wah..wah..wah.. makin banyak tahu ternyata keberanian untuk hidup makin kecil.. (nah lho??), bagaimana tidak, sejauh ini yang saya tahu cuma global warming (bukan gombal warning lho ya),  sekarang tiba-tiba ada global dimming (waduh_selama nie saya kemana??).


Bicara tentang global dimming (pendinginan secara global), saya yakin masih banyak juga yang gak tahu (ho..ho.nyari teman..!). jadi sebenarnya apa itu global dimming? global dimming ialah peristiwa berkurangnya penyinaran Matahari ke Bumi. (penyebabnya???) disebabkan karena adanya aerosol (partikel-partikel kecil bisa berupa debu maupun abu atau partikel lainnya yang beterbangan di angkasa) yang mengakibatkan atmosfer bumi lebih tebal dan mempunyai sifat menyerap/memantulkan radiasi sinar matahari sehingga mengakibatkan turunnya suhu bumi, hujan asam dan badai dingin. (asalnya?) Salah satu fakta yang telah diketemukan, berasal dari dampak terjadinya pemanasan global (komplikasi nih..!), pemanasan global yang berlangsung secara lama akan mengakibatkan suhu bumi terus meningkat sehingga memicu adanya pergeseran lempeng bumi (secara tektonik) yang berpengaruh pada aktivitas vulkanik. nah aktivitas vulkanik inilah yang mengakibatkan munculnya aerosol berupa debu vulkanik yang beterbangan bebas diangkasa, kalau sudah demikian, dapat mengakibatkan terjadinya global dimming yang dapat merubah suhu bumi secara tidak tentu yang mengakibatkan terjadinya hujan asam, badai dingin (terdapat pusaran dingin) yang bisa membekukan siapa dan apa aja. (brrh..ice age?) Selain itu,,pencemaran udara juga berpengaruh, peneliti menemukan bahwa butir-butir air dalam awan yang tercemar mengandung lebih banyak zat pencemar padat daripada butir-butir air dalam awan yang tidak tercemar. Awan terbentuk oleh kondensasi uap air pada zat padat halus yang mengapung di udara, seperti debu dan jelaga. Dari kondensasi itu terbentuk butir-butir air awan. Karena zat pencemar berupa serbuk halus itu bekerja sebagai inti untuk kondensasi air pembentuk awan, awan yang tercemar mengandung lebih banyak butir air daripada awan yang tidak tercemar. Dengan demikian, pencemaran udara mengurangi penyinaran Matahari yang sampai ke bumi karena udara yang tercemar kurang transparan sehingga memantulkan cahaya Matahari yang lebih banyak pula daripada yang tidak tercemar.

Kita sering melihat adanya awan berupa selendang putih panjang yang mengikuti pesawat jet. Awan itu disebut contrail, sebuah istilah yang terbentuk dari singkatan condensation trail. Di Amerika Serikat, yang mempunyai lalu lintas penerbangan jet yang padat, terbentuk pula banyak contrail sehingga di banyak tempat sebagian besar langit tertutup oleh contrail tersebut. Terjadilah peredupan penyinaran Matahari. Selama tiga hari setelah serangan 11 September 2001 pada menara kembar WTC di New York, banyak penerbangan yang dibatalkan. Jumlah contrail pun berkurang dan langit terlihat lebih cerah dengan penyinaran Matahari yang lebih terang. Pengukuran suhu di banyak tempat di Amerika Serikat menunjukkan terjadinya kenaikan suhu selama tiga hari itu. Dengan lain perkataan penurunan peredupan Matahari meningkatkan suhu permukaan Bumi. Dengan temuan ini disadari bahwa kita sedang mengalami dua proses yang saling berlawanan (global warming vs global dimming).

Ratusan alat ukur radiometer yang dipasang di benua Antartika (kutub selatan) dan Artika (kutub utara) mencatat penurunan intensitas radiasi matahari yang diterima bumi sebesar 10% dari akhir tahun 1950 sampai dengan awal 1990, atau sekitar 2 – 3% untuk setiap dekade. Bahkan untuk beberapa wilayah Asia, Amerika Serikat dan Eropa, dimana industri berkembang sangat pesat, terjadi penurunan dalam jumlah yang lebih besar, seperti halnya Hongkong: 37%. (The New York Time, 13 Mei, 2004). (jadi indonesia apa kabar??) berdasarkan penelitian, Besarnya penurunan yang terjadi selama 14 tahun di Indonesia sekitar 16.6%, jauh lebih besar dari nilai 3% per dekade seperti yang dilaporkan. Hal ini menunjukkan polusi udara dalam bentuk aerosol dan partikel sejenis lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia sangat signifikan dalam menyumbang penyusutan intensitas radiasi matahari di seluruh dunia (ha..ha.. indonesia memang kerap jadi finalis ^^). Di Jakarta dan Bandung, misalnya, kabut kelabu itu tampak dengan jelas. Kabut itu terbentuk oleh zat padat yang terapung di udara dan berbagai jenis zat kimia.

(phufft...) save the earth..!!!  peace on earth of earth in pieces.

EartH = HEart

Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar (Maryamah karpov)

Menarik? Pasti..! itu jawabanku jika ditanya mengenai geografi ketika pertama kalinya dibangku kuliah, dengan latar belakang pendidikan akuntansi dan sekolah kejuruan bisnis manajemen, kurasa bukan suatu yang mengherankan apabila jika merasa geografi ‘lebih hidup’ ketimbang ilmu yang kutekuni selam 7 tahun tersebut.

Sulit? Tentu saja..! tak ada bekal pengetahuan selain sedikit ilmu disekolah menengah pertama, sebab SMK Bisnis Manajemen tidak memiliki mata diklat geografi, fisika, kimia, biologi dan kerabat-kerabat serumpunnya.

Menyerah? Tidak akan..! tidak seorangpun pernah mengajarkan makna kata itu dalam kamus hidupku. Yang pernah kupelajari adalah mantra “always see from the bright side”, maka perlahan aku belajar menikmati sisi indah dari ilmu bumi yang kdang membuatku membisik “masyaAllah” pada-Nya, Engkau sangat sempurna duhai Tuhanku. Namun kadang juga membuatku bingung sekaligus kagum pada ahli –ahli disiplin ilmu ini..mengenai angin barat tetap dalam sirkulasi udara pada atmosfir, dalam akuntansi..yang namanya biaya tetap akan selalu ada tanpa dipengaruhi oleh jumlah produksi. Sedangkan disini, meski bernama ‘tetap’ tapi tidak akan dijumpai pada lintang 40­0 dan 600 dibelah bumi utara (jadi tetap yang tidak selalu ada) *nah lho..menarik bukan??

Ah.. terlepas dari semua asal kejadian bumi, struktur, komposisi, sejarah dan proses alamiah perkembangannya (geologi), demografi, geografi regional, hidrologi, klimatologi, meteorologi (aku sempat berfikir bahwa ilmu ini mempelajari tentang meteor >_< *memalukan) dan ‘grafi-logi’ lainnya, tetap saja harus bersyukur bahwa hari ini dengan jalan berliku milik-Nya, aku menjadi satu dari sekian makhluk-Nya yang merasa teramat kecil dialam semesta (setelah ‘menumpang’ pesawat dan ‘meminjam’ teropong NASA), bersukur bahwa teori-teori pembentukan bumi dan galaksi telah lebih dulu dijelaskan oleh Al-Qur’an (“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,.. “(QS. 41: 11), “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (QS. 21: 30),teori siklus hidrologi yang dibahas dalam surat Al-Baqarah : 22 “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”, “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. 24: 45). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”dan masih banyak lagi yang lain, saya makin bangga dengan Islam ^^.

Nah.. sisi menarik lain dari ilmu ini adalah beberapa intermezzo yang kubuat selagi kuliah, niat awal membuat jembatan keledai (baca: jalan pintas_red) untuk memudahkan pemahaman namun jika malah ‘sedikit’ melenceng maka mohon dinikmati saja:

“ Hadir-Mu bagai ekuator hatiku, sebab ketika jarak kita merenggang maka matahariku beredar disebelah utara” (matahari yang beredar diutara ekuator akan menyebabkan kemarau didaerah katulistiwa)

“izinkan kulukis wajahmu dibidang datar hatiku, lalu kutandai informasi tentangmu dengan satu simbol merah jambu tepat dipermukaan sederhana hidupku” (hi..hi.. pengertian peta nie..! *maksa)

“kau dan aku adalah interdependensi, ketiadaan-Mu membuatku tiada” (mata kuliah geografi desa dan kota)

“aku padamu bukanlah determinasi alam, namun posibilisme” (geografi regional)

“banyak sudah meteor yang mendekat pada bumiku, namun hanya kamu satu-satunya meteorid” (membedakan meteor dan meteorid pada Geo Science *cihuy..)

“Adamu merupakan suatu ilmu yang membahas tentang keberadaan, proses, siklus kehidupan yang ada dihatiku, meliputi permukaan, lapisan dan atmosfir jiwaku. Mengurai sifat-sifat fisika dan kimia serta hubungan dengan sesama” (air= sumber ‘kehidupan’, earth=heart, sesama=makhluk hidup lain.. pengertian hidrologi)

He..itulah beberapa jalan pintas yang kubangun dalam setiap SKS mata kuliah, lumayan_untuk lucu-lucuan ^^v

Jodoh Tak Akan Pernah Tertukar, Percaya Itu.

“dia” kata temanku disela isak, “dia..tak ada alasan bagiku menolaknya” lanjutnya kemudian. “semua kriteria yang kususun ada padanya” aku mendengarkan, “tapi kenapa dia lahir dikeluarga dari daerah itu? Kenapa dia yang berhasil menyita perhatianku berasal dari bangsa terlarang itu?” dua tangannya menutup wajah.

Aku bergeming, tidak tahu harus berbuat apa. Namanya Vinda, semua orang tahu bahwa dia adalah seorang gadis ramah dan cepat akrab dengan orang lain, beri dia waktu lima menit.. maka kenalan barunya sudah seperti kawan lama baginya. Setahuku, tak pernah dia terlibat dalam masalah cinta remaja yang pelik sebab masa remajanya dihabiskan dengan aktivitas organisasi dan sekolah. “gimana dy? Nda bingung..” suaranya serak. “coba pelan-pelan nda jelaskan pada keluarga tentang kebaikannya, mana tahu bisa merubah citra beliau dimata keluarga nda” ujarku meyakinkan, “sudah.. sudah sering nda jelaskan bahwa menilai seseorang dari suku / keturunannya itu tidak adil, semua cerita yang mereka dengar tentang orang yang berasal dari daerah itu bisa jadi hanya oknum. Tapi tetap saja mereka menggeleng, mereka tidak menerima tambahan anggota keluarga dari daerah itu dy”, aku menghela nafas, berat.


Hm..vinda, aku bingung harus memberinya saran seperti apa, aku mengenal lelaki itu.. salut pada tanggung jawab dan komitmen melaksanakan amanah yang dipercayakan organisasi padanya, tidak banyak bicara; berkomunikasi seperlunya, apalagi pada lawan jenis. Dan dengan otak yang cemerlang sudah beberapa kali membawa nama kampus kami ke tingkat nasional. Tapi aku mengenalnya hanya sampai disana sebab seperti yang kukatakan, dia ‘dingin’ dan terlihat tidak peduli pada perempuan. Awalnya aku sangat terkejut ketika vinda bercerita tentangnya, tentang bentuk perhatian samar yang diberikan pada vinda, tentang pesan-pesan singkat yang tidak biasa, tentang telponnya yang cuma berisi pertanyaan ‘apa kabar?’ selebihnya diam selama 30 menit. Tidak menyangka ‘gunung es’ itu lebur oleh cuap-cuap vinda yang kadang jutek. “Mungkin itulah cinta” ujar vinda suatu kali melirikku, “ketika dia telah memilih, maka saljupun dapat menghasilkan panas” dia terkekeh sendiri kala itu. Memang tidak ada ungkapan ‘cinta’ dalam hubungan mereka, pun tak ada kata-kata ‘sayang’ yang sempat terlontar namun senyum dan sinar wajah mereka ketika bertemu menjelaskan lebih detil dari bahasa paling rinci.

“memangnya daerah itu kenapa nda?” tangis vinda sudah agak reda, “nda gak tau pasti dy, semua orang dari sana yang dikenal keluargaku tidak pernah bisa menjaga amanah dengan baik, mereka ‘penggunting dalam lipatan’, mereka sering kali menelantarkan keluarga, mereka ..” vinda terdiam, terlihat berfikir “nda pernah mendengar,, untuk tahu bagaimana Haftsah maka lihat saja Umar Ibn Khatab, untuk tahu bagaimana Aisyah maka lihat saja Abu Bakar, untuk tahu bagaimana Fatimah maka lihat saja Rasulullah..” ia menatapku lama “apa benar bahwa tabiat itu berdasarkan keturunan?” sepertinya dia tidak butuh jawaban. “mengapa teori itu tak kunjung rampung..” ujurnya melanjutkan.

“nda.. mungkin sulit bagimu menerima, mungkin saat ini perasaan itu mendominasi semuanya. Tapi coba pikirkan nda,, ridha Allah tergantung ridha orang tua. Kita tidak bisa menyalahkan persepsi mereka sebab kita tahu bahwa mereka adalah dua malaikat yang selalu berharap yang terbaik untuk hidup kita. Jika dy berada diposisimu maka satu hal yang dy lakukan adalah menuruti nasehat orang tua meski dy harus membunuh bahkan mencincang perasaan itu. dy akan memilih jalan Uwais Al-Qarni yang segera pulang sesuai perintah ibunya meski rindu pada Rasulullah belum tertunaikan” vinda tercenung cukup lama “bagaimana kalo dia adalah jodoh nda?” aku tersenyum, “vinda.. jodoh tak akan pernah tertukar, percaya itu”, mata vinda masih sembab meski tidak ada lagi lelehan air disana, “tapi dia sesuai kriteria nda” ujarnya menatapku dengan harap. “apa nda tahu kriteria yang Allah buat untuk nda? Apa nda yakin kriteria yang nda pilih lebih baik dari pada apa yang dipilihkan-Nya. Ayolah vinda_ Allah tidak pernah salah menuliskan jodoh, hanya kita yang kadang salah membacanya.” ia mengangguk, “jadi..”, “jadi lapar..” sambungku cepat sebab aku tak ingin mendengar kesimpulan yang dibuatnya, biar saja semua itu menjadi rahasia vinda dengan-Nya, menjadi sebuah catatan dalam hidupnya bahwa kadang kita harus memilih berdasarkan kepentingan bersama selagi masih dalam izin-Nya.

*untuk sahabatku..

Malam Pertama

Kontrakan..

Senja mulai menghapus jingga dilangit barat, sejenak setelah adzan maghrib.. terdengar nyanyian dari gereja yang terletak dibelakang kontrakan kami, maklum.. mereka tengah bersiap untuk menyambut natal yang tinggal seminggu lagi. Hari ini aku lelah sekali, setelah memindahkan barang-barang, berbenah kontrakan yang baru ditempati dan terakhir membeli keperluan yang dibutuhkan. Setelah isya aku mengakhiri hari ini diatas kasur dalam kamar dan dua temanku juga melakukan hal serupa. Ini malam pertama bagi kami disini.

Jam satu lewat delapan belas menit aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi, “bangun va?” tanya Engla, temanku disini “ya..ada apa?” jawabku, “coba dengar, ada yang berenang dikamar mandi” aku fokus mendengarkan kearah kamar mandi,, ya..ada kecipak air disana. “periksa donk va..” lanjutnya lagi. Aku penasaran dan berdiri membawa senter (lampu kamar mandi tidak menyala) sedang mereka menungguku bereaksi. Pelan kubuka pintu dan melihat sekeliling, tidak ada apa-apa.. kemudian cahaya senterku mengarah keair dalam bak dan kutemukan seekor tikus disana, “ada apa va?” mereka tidak sabar menungguku bersuara. “Cuma tikus”, dan mereka bernafas lega. Sejenak kupandangi tikus yang kesulitan keluar dari dalam bak sebab lantai bak yang licin.

“waaaa…” suara gaduh dari dalam kamar dan aku bergegas kesana “ada apa?” tanyaku melihat mereka berlarian, “itu..” tak ada penjelasan mengenai itu selain telunjuk mereka yang mengarah ketempat tidur, “apa..??” tanyaku tidak mengerti “ada yang lari-lari” phufft..kenyataannya malah mereka yang lari-lari. “apa yang lari-lari?” aku mendekat kearah tempat tidur dan menjumpai ‘nya’ dibawah kasur (aku tidak tahu apa bahasa latinnya, pun tidak tahu dengan pasti apa bahasa indonesia dari hewan ini, tapi kata ibuku namanya ‘giriak-giriak’,, biasa hidup dalam tanah dengan kedua tangan sebagai alat penggali lobang. Aku sering menemukannya di mudiak –tempat aku menghabiskan masa kecil-), kutangkap dan kukeluarkan dari rumah,, “tempatmu disana” ujarku meletakannya ditanah lembab.

“tikus tadi? Sebesar apa va?” mereka bergidik sendiri, “lumayan besar untuk tikus rumahan..he..he.. jawabku kembali kekamar mandi, mereka tidak berniat melihat karena ngeri plus geli (ada-ada aja.. dasar perempuan..:) “biarin aja va,, biar mati..!" suara mereka dari dalam kamar “ah..coba kalian berada diposisinya” jawabku sekenanya “ha..ha,,kami tidak akan berapa diposisi tikus” tawa mereka menanggapi alasanku . kuarahkan cahaya senter kedalam bak, tikus itu sudah kelelahan menggapai gayung yang ternyata malah lebih menenggelamkannya.. Jujur aku kasihan.. maka kuambil tangkal sapu dan kujulurkan kedalam bak, entah bahasa apa yang kami pakai.. tikus itu segera meraih tangkai sapu dan berpegang erat. Kutarik tangkai sapu itu dan menurunkannya dibibir bak. Tikus tersebut segera turun dan dapat kulihat dia menggigil kedinginan. Tapi heran..mengapa dia tidak segera kabur? Mengapa berdiri dan melihatku cukup lama. “ma’af tikus.. saia tidak mengerti bahasamu” bisik batinku sendiri, “ayo pergi..” ujarku memutuskan tatapannya, dia berbalik menjauhi cahaya senter dan menoleh lagi, “hei.. cepat pergi.. hati-hati. Jangan balik lagi kesini apalagi membawa rombongan..!” tikus itu segera berlari dan kututup pintu kamar mandi “bicara sama siapa?” ujar Hany ketika aku kembali kekamar “tikus..he..he” jawabku menggaruk kepala yang tidak gatal “dasar aneh..!” Engla menyela sambil menarik selimutnya untuk meneruskan tidur.

Jam Dua lewat dua puluh menit, aku mencoba kembali tidur tapi tak bisa. Tikus tadi benar-benar menyita perhatianku,,

Cinta ini purna untukmu

Aku selalu rindu ruangan ini, dengan karpet abu-abu dan lemari kecoklatan. Sebuah tempat yang biasanya kugunakan untuk menghabiskan hari sebagai pengangguran, tempat yang selalu sejuk dengan aroma apel hijau. Baru dua minggu kamar berukuran 4x4 kutinggalkan namun rasanya sudah teramat lama. Disini setiap pagi, ibu membangunkanku shalat subuh sebelum beliau berangkat ke Mushala yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kadang aku sering pura-pura tidur ketika beliau mengetuk pintu, dan dengan cara paling manis,, sebuah kecupan mendarat diwajahku. Aku mengeliat, enggan membuka mata “bangun.. shalat subuh” bisik beliau, jika aku malah menarik selimut maka beliau akan menciumku bertubi-tubi hingga aku sesak dan bergegas beranjak kekamar mandi untuk berwudhu..

Ibu.. perempuan paling kusayang dengan kesabaran luar biasa, perempuan dengan garis usia yang selalu nampak cantik dimataku, perempuan tempatku belajar semua hal sebab beliau selalu punya sisi indah dalam melihat sesuatu. Pernah suatu ketika seseorang mengeluh pada beliau tentang betapa bising suara  anak-anak dirumah dan dengan tenang beliau menjawab “bersyukurlah..itu tandanya anak-anakmu sehat semua”, atau ketika aku berteriak melihat makhluk air kecil dengan bebasnya berenang dalam galon, cepat beliau datang dan menenangkan “tidak apa, berarti air galonnya tidak beracun”.
Ah..ibu, cinta ini purna untukmu.. untuk setiap cerita dalam langkahku yang bermuara padamu, untuk setiap sabarmu ketika aku beranjak dewasa yang mungkin kadang menentangmu), untuk setiap tatap lembutmu ketika aku melakukan kesalahan, untuk setiap senyummu ketika aku merengek manja. Ibu.. aku tak pernah mendengarmu marah dengan bahasa kasar, sebab bahasa marahmu adalah diam.. jadi ketika engkau diam..maka aku sudah sangat ketakutan dan segera mencari kesalahan yang kuperbuat. ketika aku menyadari dan memperbaikinya..maka kembali kutemukan rengkuhan hangat darimu.

Esok..jika ada yang bertanya tentang wanita yang dikaguminya maka dengan lantang akan kujawab.. “ibu”, esok jika ada yang bertanya tentang seseorang yang paling disayang maka tanpa malu akan kujawab “ibu”, esok jika ada yang bertanya tentang ibu maka akan kujawab dengan senyum paling manis yang kupunya.. sebab bahasa dan kata tidak akan mampu menjelaskan indahmu dalam kamus hidupku.