L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

My Enemy

kuhindari tatapan dokter muda itu meski kutahu ada sebuah lengkungan dibibirnya. “banyak pilihan sebenarnya..” ujarnya mengetahui kegugupanku “bisa dengan minum susu..” kalimatnya terhenti mendapati rona wajahku yang makin gelap “jangan bilang kamu tidak suka susu..” kupaksa untuk tersenyum sambil menggeleng, “saya bersedia puasa tiga hari berturut-turut asalkan tidak minum susu”, beliau terkekeh “kalau begitu..rajin-rajin saja makan makanan berkalsium tinggi”, “contohnya?” antusias kutanggapi kata-kata beliau “ikan laut dangkal” aku tersenyum.. solusi paling baik yang pernah beliau berikan. “tapi mengingat riwayat kesehatanmu, pilihanmu cuma dua untuk saat ini” senyumku sempurna berpindah kewajah beliau. Sungguh.. sejak aku mampu mengingat,, aku tidak suka susu..! aku lebih suka menumbuk kembali pil-pil pahit itu, mencampurkannya kedalam air disendok dan kemudian meminumnya. Aku lebih suka menikmati nyeri itu ketimbang meminum susu…!

‘susu berkalsium tinggi tanpa lemak’ kueja setiap kotak susu untuk menemukan kalimat itu dan akhirnya kutemukan. Dokter tersebut memang memberi resep obat tapi lebih menyarankan untuk rutin meminum susu dalam beberapa minggu kedepan.
***
Empat sendok untuk 200 ml air??? Gila.. ini sama saja dengan mengeluarkan semua isi perutku. Lama kudiamkan serbuk susu itu, dan akhirnya mendapat ide untuk mengurangi takaran. Yuph.. 2 sendok saja untuk 250 ml air. Yang penting itu kalsiumnya.. he..he..

huh.. jangankan meminumnya, mencium baunya saja aku sudah mual. Tapi aku harus.. aku harus meminumnya.
Phufft..ini rasa yang paling buruk bagi lidahku, ternyata susu tanpa lemak itu adalah susu tanpa gula..sebab tidak kutemukan sedikitpun rasa manis dalam cairan putih itu.
Tapi aku harus.. aku harus rutin meminumnya sebelum orang tuaku tahu tentang nyeri ini.

aku dan nya

“kamu berubah” ujarku kepadanya pagi itu, “tidak” jawabnya singkat sambil memainkan sebilah kayu di permukaan air, “ya..kamu berubah..!”  kupandangi riak yang mulai menepi dan hilang di pematang,, sejenak kemudian kudapati bayang senyum mengambang di atas air. “apa yang berubah?”, “pakaianmu dan juga sikapmu” jawabku tergesa.. lama dia terdiam tapi aku tidak berniat untuk menyela “kenapa dengan pakaianku?” phufft..padahal aku berharap dia berhenti bertanya dan segera menjelaskan pernyataanku. “dan ada apa dengan sikapku?” lanjutnya, namun aku tidak bersuara sebab kalimatku akan memancing tanya baru darinya. “aku hanya tidak ingin membenci serta tidak ingin lagi menjadi ikon dari sebuah organisasi” kembali air beriak oleh ujung kayu yang dipegangnya, “kau tahu.. aku sempat terpuruk dan bingung harus menggapai kemana ketika dituduh sebagai misionaris,,penyebar ajaran kristus. Padahal sebelumnya aku sudah sangat percaya pada ikatan yang sering kali kudengar dari sebuah organisasi dikampusku, ikatan yang indah dan menentramkan jika didengar tapi tidak untuk dirasakan sebab aku tak tahu dimana mereka ketika aku terseret dalam labirin yang aku sendiri tidak mengerti” sedikit panjang kalimatnya kali ini, “mereka mungkin tidak salah,, kamu yang terlalu berharap” singkat kujawab, “mereka memang tidak salah, sebab ketidakpedulian bukanlah sebuah kesalahan..” dia menghela nafas panjang, “tapi aku yang masih pemula,, tidak layakkah dibela?”.

“kamu kecewa?” tanyaku lagi, “entahlah, aku ragu membedakan rasa kecewa dan terluka..” air kembali beriak, bukan oleh kayu yang dipegangnya tapi oleh katak yang meloncat kedaun teratai. “boleh kutahu bagaimana kisah lengkapnya?” tawarku kemudian..

“pagi itu.. aku dan seorang teman dikeluarkan dari yayasan* yang telah kutempati selama satu bulan, dengan alasan tidak mengikuti sebuah kegiatan yang mereka angkatkan,  kami ragu itu satu-satunya alasan,, sehingga segera mencari direktur untuk bertanya kejelasan, kau tahu apa jawabnya?? ‘kami tidak menerima orang-orang yang tidak se’fikroh dengan kami’ dan serentetan kalimat tuduhan lain. kau tahu apa artinya bukan? Beliau meragukan keislaman kami..! sungguh..sampai hari ini aku masih ingat intonasi pernyataan itu. Namun sayangnya aku tidak bisa berkata-kata, bukan karena aku mengakuinya tapi karena emosiku sudah mencapai puncak sehingga satu-satunya yang kulakukan adalah mengendalikannya. Phufft.. hari itu aku benar-benar kacau. Sering kali bertanya pada-Nya.. apakah amalan shalatku belum cukup sebagai salah satu bukti keislamanku? Apa syahadat yang kubaca berbeda dengan mereka? Apa surat cinta-Nya yang ada padaku tidak sama dengan milik mereka? Jika memang jalan yang kutempuh adalah sesat dan tidak menuju kearah-Nya.. mengapa aku harus mereka usir.. tidak bisakah mereka menunjukkanku jalan yang (minimal mereka anggap) benar?” aku menemukan letih dimatanya, “dan beberapa hari kedepan, aku masih belum masuk kuliah, bagaimana aku bisa focus belajar disaat saudara/iku sendiri mencurigai keimananku, disaat semua terungkap bahwa sejak beberapa bulan belakangan teman-temanku dilarang untuk bergaul denganku, disaat aku tahu bahwa mereka telah membongkar kamarku untuk mencari kitab atau jenis lain sebagai barang bukti” kulihat dia tersenyum “sayang..mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan sebab memang aku bukan seperti tuduhan mereka”,, “bukankah mereka berbeda dengan orang-orang diorganisasi itu?” senyumnya masih mengambang namun aku tidak tahu apa artinya kali ini “ya.. berbeda..! mereka menuduhku misionaris sedangkan orang-orang di organisasi itu mendiamkan tuduhan itu” dia menghembuskan nafas berat “padahal aku sudah meminta tolong agar mereka meluruskan ketimpangan itu” gumamnya lirih.

“lalu apa hanya karena mereka dan masalah itu.. kamu berubah” dia menatapku,, “apa kau percaya aku berubah karena itu?” aku menggeleng cepat, “ya..memang bukan karena itu kawan, aku ingin mengenal-Nya bukan atas nama organisasi, bukan atas nama partai politik, bukan atas nama apapun.. aku ingin mengenal-Nya seperti apa yang diperkenalkan-Nya”.

Matahari telah lebih sepanjang galah.. maka kutinggalkan kolam teratai serta bayanganku itu.

*yayasan: seperti sebuah kos namun memiliki banyak agenda dan hierarki kepemimpinan, dipimpin oleh direktur (yang juga seorang mahasiswa)  

1 Feb '12

Rabu malam

Mendekati minggu-minggu ujian tengah semester (sebenarnya sudah selesai satu ujian minggu ini,, dan minggu besok ada ujian untuk 3 mata kuliah lain). hm..ini bukan kali pertama melewati minggu-minggu ujian tengah semester, tapi ini pertama kalinya bagiku belajar untuk ujian itu. Ah..aku tahu, aku memang sedikit pemalas untuk mata kuliah hafalan atau apapun yang perlu dibaca, aku sungguh tidak menyukai semua teori-teori dalam buku.. (mungkin itu sebabnya aku memilih akuntansi,, sebab hanya diperlukan pemahaman dan sedikit hitung-hitungan).

Namun kali ini berbeda, aku menekuni kalimat-kalimat dalam buku mata kuliah dengan kaca mata minus yang mulai ‘permanen membatasi’ pandanganku. Bukan karena aku sudah tidak ‘sedikit pemalas’ lagi tapi kegiatan ‘persiapan ujian’ ini lebih seperti ‘wisata pengetahuan’ bagiku. Aku merasakan kebodohan yang sangat ketika berhadapan dengan ilmu ini, mataku seringkali mengerjap ketika ‘informasi baru’ menerobos retina  dan bergerak menuju ‘detektor’. Ah..ini menarik, tidak peduli berapa nilai yang akan kudapat dari ujian ini,,(percaya tidak percaya).

Sekian dulu.. lembaran selanjutnya menunggu sapuan tatapan minusku..

Petir..!

ini baru keren...! asli keren gan,, foto ini diambil di  Camp Blanding, Florida. ini kali pertama petir ditangkap oleh kamera X-Ray 1500 khusus kecepatan tinggi yang diciptakan oleh Meagan Schaal.

Kamu Istimewa




Aku melihatmu lagi malam ini.. disudut yang kuyakin tidak (dan tidak akan) pernah kamu tahu. Kamu istimewa (setidaknya saat ini) dihatiku, mendapatimu dalam keceriaan membuat senyumku (yang sempat hilang) mengembang sempurna.




Entahlah.. sudah kudikte perasaan ini agar menempatkanmu dalam ruang tamu, ruang untuk mereka yang hanya berkunjung sejenak dan kemudian pergi tanpa meninggalkan rasa kehilangan. Aku tahu perasaanku tidak pernah membantah, jadi ditempatkannya kamu diruang itu namun tepat disebelah bunga sudut ruangan, sehingga setiap kali aku menghampiri bunga itu.. kudapati kamu tengah memandangku.






Kamu istimewa (setidaknya saat ini) dihatiku. Jadi biarkan aku menikmati indah-Nya padamu dari sisi gelap ini.. berharap kamu tidak (dan tidak akan) pernah tahu
 

Bolehkah laki-laki menangis??

Aku ingin menangis.. tapi bolehkah laki-laki menangis??

“boleh saja..bukankah airmata bukan mutlak punya perempuan” jawab kawanku dulu, ketika itu kami melihat teman kelas menangis sesegukan hanya karena nilai ujian. “tidak.. tidak boleh..!” ujarku berapi, “laki-laki tidak boleh menangis” lanjutku kemudian. Kawanku menatap heran “kalau begitu, mengapa laki-laki tetap dianugerahi air mata?”, aku tersenyum sombong. “itu bukan anugerah kawan..! itu hanyalah suatu pelengkap, atau boleh dibilang sebagai pilihan terakhir”, kawanku terkekeh “kau terlalu sombong.. suatu saat nanti kau akan merasakannya, merasakan bahwa tangisan itu bukan mutlak punya perempuan, dan jika saat itu tiba.. ingatlah hari ini, hari dimana kau melarangnya” aku mendengus kesal. “masa itu tidak akan pernah tiba”.

Aku ingin menangis.. tapi bolehkah laki-laki menangis??

Aku terjatuh, siku dan lututku berdarah hanya karena kerikil nakal yang menghalangi jalanku, panik..aku takut melihat darah mengalir dari bagian luka, nyeri juga segera terasa ketika informasi itu diterima otak. Seketika aku berteriak dan menangis keras, tergopoh ibu menghampiri dan membangunkanku dari posisi telungkup diatas tanah “sht.. laki-laki tidak boleh menangis” ujar beliau mengobati luka-luka itu.

Aku ingin menangis.. tapi bolehkah laki-laki menangis??

Sebenarnya cuaca sore itu cerah tapi tidak dirumahku. Aku kecil mengintip nenek yang terbujur kaku ketika diturunkan dari ambulance, kemudian beliau dibujurkan diruang tengah. Rumahku perlahan ramai oleh tetangga dan kulihat dua tanteku terus menghapus airmata yang mengalir di pipi mereka, mata mereka telah bengkak sebab telah lama menangis. Aku berjalan keluar, kulihat ayah bercengkerama dengan beberapa orang tidak kukenal.. kuperhatikan wajahnya, ada sendu disana tapi tanpa air mata. Kudapati juga paman yang duduk disudut ruangan, membaca al-qur’an lamat-lamat dan kembali tidak kutemukan airmata diwajahnya padahal kuyakin, bungsu nenek tersebut lebih pantas menangis mengingat kedekatan mereka.

Aku ingin menangis..tapi bolehkah laki-laki menangis??

Sungguh..aku tidak sanggup lagi menahan airmata ini, meski aku percaya bahwa laki-laki tidak punya hak untuk menangis tapi nyatanya aku menangis.. sesegukan disudut kamar hanya karena perkara yang selama ini kuanggap bukan sebuah alasan untuk mengalirkan air mata. Perkara tolol bernama ‘perpisahan’ membuatku melewati sore ini dengan malu-malu. Bagaimana jika mereka tahu bahwa aku menangis? Bagaimana jika mereka menertawaiku? Apa kata ibu jika mendapati keadaanku sore ini? Masihkah beliau berkata “sht.. laki-laki tidak boleh menangis”? ah..aku benci berada diposisi ini, aku benci pernah berkata bahwa ‘laki-laki tidak boleh menangis’, bahwa ‘airmata itu bukan anugerah kawan..! itu hanyalah suatu pelengkap, atau boleh dibilang sebagai pilihan terakhir”.

Aku sudah menangis..terlepas dari boleh atau tidak!!

Dua Sisi

Setiap kisah selalu memilki dua sisi, aku yakin itu..

Sisi –

Menjelang dzuhur.. aku mandi dengan kecepatan penuh, sebab setelah shalat dzuhur dimushalla, aku nebeng ayah ke Bukittinggi. Hm…aku harus bergegas..!. tepat jam 13.00 aku sampai di Simpang Mandiangin, menunggu mobil jurusan Payakumbuh-Padang yang lewat disini, sebenarnya bisa saja langsung ke Aur tapi aku bisa memastikan disana sudah sangat ramai sebab besok adalah perkuliahan pertama semester genap di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang.

Panas..tak ada tempat berlindung..! lengang..yang ada hanya angkot bersileweran..! capek..tak ada tempat duduk..! waktu berjalan dan entah sudah berapa kali lampu lalu lintas berwarna merah, pun entah sudah berapa kali angkot yang sama lewat dihadapanku..! 

phufft,,,jam ditanganku menunjukkan jam 15.35 ketika sebuah Avanza menepi dan bertanya tujuanku. “padang” jawabku singkat antara lelah dan muak dengan debu jalanan. Ternyata mobil tersebut adalah travel liar (mobil tanpa izin mengangkut sewa), dan dengan terpaksa aku menaikinya (kesabaranku tidak cukup lagi untuk menunggu mobil yang biasa kutumpangi, kaki pun tidak akan kuat lagi menyangga tubuhku)
 Argh..aku bisa mati disini , diapit oleh tiga orang dengan tubuh  tambun, yang seringkali ‘menjatuhkan’ kepalanya dipundakku (tidurmu mendzalimiku..!) perjalanan terasa teramat sangat lama..! belum lagi macet di koto baru sebab pasar tumpah kejalan raya. Udara panas, jendela tidak bisa dibuka dan tanpa AC..! belum lengkapkah penderitaan ini?
18.20 sampai di Tabing dan kembali mobil tersebut menepi, dan tanpa merasa bersalah sang sopir berkata “padang sampai siko yo”.. arghh,,!!! Ternyata sial masih mengikutiku. Sebuah angkot kutumpangi menuju kos, dengan jendela yang nyaris terlalu rendah untuk melihat bangunan-bangunan yang dilewati membuatku menghentikan angkot (dan rasanya aku sudah sampai). Angkot berlalu dan aku melongo mengenali daerah.. “dimana ini..!!!” bentak batinku sendiri. Dan dengan lelah yang sangat kuseret langkah menuju arah kos.. kulewati empat tiang listrik dan itu berarti jaraknya sudah 200 meter. Maghrib sudah beberapa menit berlalu jadi kuputuskan melewati jalan pintas. Itu berarti aku melewati jalan lengang dan redup, ditambah lagi jalan ini tidak begitu kukenal. “owh..sial,, tolong menyingkirlah..!” gumamku sendiri.

Sisi +

Menjelang dzuhur.. aku mandi dengan kecepatan penuh (itung-itung belajar menghargai waktu), sebab setelah shalat dzuhur dimushalla, aku nebeng ayah ke Bukittinggi. Hm…aku harus bergegas..!. tepat jam 13.00 aku sampai di Simpang Mandiangin, menunggu mobil jurusan Payakumbuh-Padang yang lewat disini, sebenarnya bisa saja langsung ke Aur tapi aku bisa memastikan disana sudah sangat ramai sebab besok adalah perkuliahan pertama semester genap di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Padang.
Panas..tak ada tempat berlindung..! (hm..pasti saudi arabia lebih panas,,^^ beradaptasi mulai dari sekarang sebelum berangkat haji –yang entah kapan- he..he), lengang..yang ada hanya angkot bersileweran..! (phufft.. kasihan anak jalanan yang setiap hari melewati kondisi ini ) capek..tak ada tempat duduk..! (hm..aku lebih beruntung dari penjaja keliling, yang berjalan diterik siang sambil menawarkan dagangannya). waktu berjalan dan entah sudah berapa kali lampu lalu lintas berwarna merah (ini menyenangkan..! ternyata lampu merah lebih lama menyala ketimbang lampu hijau apalagi kuning; kesimpulannya..hukum itu lebih banyak melarang ketimbang membebaskan *he..he..maksa..!) pun entah sudah berapa kali angkot yang sama lewat dihadapanku..! (ternyata ingatanku masih tajam..alhamdulillah ya)

phufft,,,jam ditanganku menunjukkan jam 15.35 ketika sebuah Avanza menepi dan bertanya tujuanku. “padang” jawabku singkat. Ternyata mobil tersebut adalah travel liar (mobil tanpa izin mengangkut sewa), dan dengan terpaksa aku menaikinya (terpaksa: mengusir pikiran-pikiran jahat tentang kisah-kisah ‘aneh’ seputar travel liar)
 Argh..sempit.. bersyukur ukuran badanku tidak menyamai mereka.. kalau tidak..bisa jadi pepes ikan sesampai dipadang.. perjalanan terasa teramat sangat lama tapi menyenangkan..! tahu kenapa? Sebab disini aku belajar sabar, belajar maklum, dan belajar menghargai ukuran tubuhku sendiri.. he..he..
18.20 sampai di Tabing dan kembali mobil tersebut menepi, dan tanpa merasa bersalah sang sopir berkata “padang sampai siko yo”.. ha..ha..ini lucu,, apa Kau hendak mengujiku Tuhan? Hm..dengan izin-Mu,,aku termasuk orang-orang yang sabar. Sebuah angkot kutumpangi menuju kos, dengan jendela yang nyaris terlalu rendah untuk melihat bangunan-bangunan yang dilewati membuatku menghentikan angkot (dan rasanya aku sudah sampai). Angkot berlalu dan aku melongo mengenali daerah.. “dimana ini..!!!” (mengenaskan..aku malu pada diri sendiri, ini tahun kelima tapi aku masih belum mengenali kota ini). Dan dengan lelah yang sangat kuseret langkah menuju arah kos.. kulewati empat tiang listrik dan itu berarti jaraknya sudah 200 meter (cihuy..kapan lagi jalan-jalan malam sendirian dengan tampilan kumal ). Maghrib sudah beberapa menit berlalu jadi kuputuskan melewati jalan pintas. Itu berarti aku melewati jalan lengang dan redup, ditambah lagi jalan ini tidak begitu kukenal (mari menjalajah..!).