L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

puzzle 1

Aku bingung bagaimana caranya mengawali cerita, hari ini terlalu berbeda. Pagi setiba dikantor,, rutinitas jari telunjukku menunaikan tugas pertamanya di scanfinger, Kemudian koran giliran kedua.. sesaat setelah headline kubaca terdengar bunyi dari laptop bahwa ada pesan mendarat di inbox. Sedikit rasa penasaran pada seseorang yang terlalu bersemangat mengirimiku pesan diminggu pagi.

“saya punya kisah” singkat isi pesan itu, dan aku segera tahu bahwa teman baikku itu ingin berbagi, “ya.. kisah apa yang kamu punya?” lekas kujawab dan tak lama terdengar lagi bunyi yang sama untuk kedua kalinya..

“dia,, menawariku jadi istrinya”, wajahku merona.. teman baikku ditawari dengan sesederhana itu, “aku sudah baca judulnya,, dapatkah kutahu lebih lanjut bagaimana isinya?”, kali ini entah karena didampingi oleh rasa penasaran.. cukup lama aku menunggu pesan darinya,, koran yang tadi kubuka segera kulipat kembali,, ada yang lebih menarik dari pada tulisan si kuli tinta.

“sudah dua kali dia mengajukan pertanyaan serupa dan kutanggapi dengan bercanda sebab tak pernah terpikirkan bahwa dia akan serius dengan kalimat sesederhana itu, sungguh berbeda dengan inginku selama ini,, bahwa seseorang  yang nanti meminta kesediaanku haruslah punya cara yang indah, punya rangkaian kata-kata yang manis untuk dikenang ketika sudah berumah tangga” pesan selanjutnya yang segera kutanggapi dengan satu kata “lalu?”.. “kali ketiga dia bertanya, aku mulai curiga.. apa memang dia serius dengan kalimat-kalimat itu sehingga kubalikkan pertanyaan serupa ‘apa abang mau jadi suamiku?’ dan segera dijawab dengan satu kata yang aku yakin kamu sudah bisa menebaknya. Tahu apa yang kurasa? Panik.. tentu saja, dia yang selama ini terlalu sering kurepotkan malah menawarkan diri lebih lanjut untuk selalu kurepotkan, dia yang selama ini dikenal tidak terlalu banyak bicara sekarang menawarkan diri menjadi pendengar omelanku yang tak kunjung berujung”

 Aku tertawa membaca ceritanya,, “lalu?” masih kata yang sama,, “aku ingat bahwa Rasulullah mempermudah urusan ini, maka aku tak punya hak membuatnya terlihat rumit..” terlalu singkat jawaban yang kuterima, “lalu??” waktu berjalan dengan pelan dan pesannya tak kunjung hadir. BUZZ, berusaha mengingatkannya bahwa aku menunggu namun tak ada respon, BUZZ lagi dan lagi hingga dia datang dan berkata “apa kamu tak punya kata selain ‘lalu’??” aku terkekeh sendiri menyadari bahwa temanku ini masih mudah emosi, “calmdown,, aku penasaran dan tak punya kata lain untuk mengekspresikannya” balasku cepat, “dan lagi.. mulailah untuk tidak pemarah” sambungku kemudian. “lalu.. tunggu saja kisahku selanjutnya, sebab akan ada banyak hal mengejutkan yang kubagi nanti”, “ayolah.. kalau kamu punya kisah itu hari ini,, kenapa harus ditunda hingga nanti??”, “hari ini cukup itu saja..he..he..”, rasanya aku mendengar tawa kemenangan miliknya karena telah membawaku dalam rasa ingin tahu yang tinggi. Phufft.. aku diam_ percuma memaksanya berbicara karena sejauh ini aku tak pernah berhasil melakukannya. Setidaknya pagi ini aku tahu bahwa satu persatu temanku tengah melangkah untuk menggenapkan separuh agamanya.
 

cerita senja

Adzan berkumandang ketika aku melewati sebuah sepeda besar yang dipajang di tepi jalan. Entah milik siapa sepeda itu dan entah untuk apa digantung disana..

tujuanku kali ini bukan untuk berwisata atau sekedar jalan-jalan, tapi aku kesini untuk belajar dan mengajar.. belajar banyak hal dari apapun yang kutemui di kota ini dan mengajar ilmu ekonomi yang sedikit kupunya. SMA itu berada di payakumbuh utara, dengan lingkungan yang asri dan dikelilingi oleh beberapa pohon kelapa, ini pertama kali kulihat kelapa yang dilubangi tupai tapi masih erat di tandannya, pertama kali juga kaca jendela kelasku ditabrak burung yang akhirnya balik kanan dengan wajah merah.. he..he.. ini serius,, siang itu aku tengah menjelaskan tentang siklus akuntansi perusahaan dagang ketika tiba-tiba kaca jendela kelas seperti dilempar, bergegas kumelongokkan kepala keluar dan kulihat seekar burung bersiap-siap terbang lagi dengan lemah, “biaso nyo kak, buruang tu alun kenal jo kaco” dan seisi kelas riuh tertawa. Dan pertama kali juga aku harus berfikir keras ketika menanggapi pertanyaan muridku,, bukan karena aku tidak tau jawabannya tapi karena aku tidak tau apa yang dia tanyakan.. ‘bahasa tanpa jeda dengan intonasi khas’ membuat kelasku kembali tertawa ketika kusampaikan bahwa alangkah lebih baik jika kita menyamakan bahasa.

Di kelasku ada tujuh murid, dua diantaranya perempuan. Mereka pintar, lucu dan seru.. ada azizi,, murid lelaki yang bertubuh tambun. Tidak pernah mencatat tapi selalu semangat menanggapi pertanyaanku (dengan ‘bahasa tanpa jeda dengan intonasi khas’).  ada arif,, kinestetik, Jangan terlalu berharap dia akan duduk manis dan mendengarkan penjelasan. Ada waluyo,,  aku yakin golongan darahnya A sebab selalu mengambil tempat duduk di dekat dinding. Ada Budi,, yang selalu tersenyum dalam situasi apapun, dia yang bercita-cita ingin bekerja diperusahaan gas di aceh. Murid laki-laki terakhir bernama Dari, menyimak hanya jika berkaitan dengan angka-angka, jangan bertanya tentang teori-teori pendapatan nasional,, tapi beri dia soal berupa angka-angka mengenai pendapatan nasional maka dengan cepat dia akan menyelesaikannya. Dua gadis dikelasku: Dina dan Cece,, heboh_seru dan cerdas.

Menjelang petang.. kutingggalkan sekolah untuk kembali ke kota padang.. kota dimana beberapa hari belakangan terjadi kelangkaan BBM. “mau beli minum dulu kak?” tawar adri dan aku segera mengangguk.. mobil kami merapat di sebuah kedai kecil ditepi jalan, “disini ada capuccino keju lho kak” ujarnya antusias, “ada sate pisang juga ya?” retorisku ketika melihat menu yang tersedia. Tidak lama kami berhenti sebab kami harus segera pulang kepadang. Coba tebak berapa satu tusuk sate pisang crispy, dengan margarin, meses coklat, susu coklat, parutan keju, dll itu dihargai disini?? Rp 2.000,- hahaha.. gak nyangka semurah itu. Kemudian tebak lagi berapa cappucino cincau dengan parutan keju dkk itu dijual disini?? yuph.. Rp 3.000 saja.

 “penjual itu nyari untung atau cuma cari pahala dengan derma??” pikirku sendiri sebab biaya produksinya saja kutaksir melebihi harga jual,, tapi entahlah_ nyatanya si penjual masih betah dengan dagangannya dan tidak merasa rugi dengan harga jual tersebut. phufft.. sudahlah_ aku lelah, istirahat sejenak hingga sampai di kota bengkuang.

Sisi Positif dari Setan

1. Pantang menyerah
Setan tidak akan pernah menyerah selama keinginannya untuk menggoda manusia belum tercapai. Sedangkan manusia banyak yang mudah menyerah dan malah sering mengeluh dalam menggapai sesuatu.

2. Kreatif
Setan akan mencari cara apapun dan bagaimanapun untuk menggoda manusia agar tujuannya tercapai, selalu kreatif dan penuh ide. Sedangkan manusia ingin enaknya saja, banyak yang malas. Kebanyakan dari manusia selalu ingin mendapatkan mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan, padahal cara instan tersebut bisa merugikan orang lain. Yang Haram dianggap menjadi hal yang wajar(Halal)

3. Konsisten
Setan dari mulai diciptakan tetap konsisten pada pekerjaannya, tak pernah mengeluh dan berputus asa. Sedangkan manusia banyak yang mengeluhkan pekerjaannya, padahal banyak manusia lain yang masih nganggur dan membutuhkan pekerjaan.

4. Solider
Sesama setan tidak pernah saling menyakiti, bahkan selalu bekerjasama untuk menggoda manusia. Sedangkan manusia, jangankan peduli terhadap sesama, kebanyakan malah saling bermusuhan, membunuh dan menyakiti.

5. Jenius
Setan itu paling pintar otaknya dalam mencari cara agar manusia tergoda. Sedangkan manusia banyak yang tidak kreatif, bahkan banyak yang jadi peniru dan plagiat, tidak mau menciptakan ide-ide baru.

6. Tanpa Pamrih
Setan itu bekerja 24 Jam tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan manusia, tidak dibayar tidak akan dilakukan. Materi seharusnya bukanlah hal yang terpenting dalam hidup ini! Harusnya kita saling membantu kepada sesama umat manusia.

7. Suka berteman dan kompak
Setan adalah mahluk yang selalu ingin berteman, berteman agar banyak temannya di neraka kelak. Sedangkan manusia banyak yang lebih memilih mementingkan diri-sendiri dan egois. Manusia dalam mengerjakan sesuatu cenderung ingin menonjolkan kemampuannya sendiri dibanding bekerja sama dengan orang lain.

sunday #


Pagi ini aku sedikit terlambat untuk berangkat kerja, jadi kuikhlaskan tunjangan kerajinan harian dan kunikmati saja perjalanan mobil angkot yang pelan.. toh aku memang sudah terlambat.

Pertama kali mobil berhenti, naik seorang gadis yang wangi.. aku tersenyum dan dia balas tersenyum. Hm.. rasanya aku tahu aroma ini dan beberapa detik kemudian aku ingat bahwa ini adalah citra gojiberry. Kembali kulempar pandang keluar jendela dan tak lama angkot berhenti lagi dan naik  seorang gadis yang tidak kalah wanginya dengan yang pertama tadi. Kupejam mata sejenak dan ketika kubuka mata, aku tahu dia pakai parfum kenzo daun. Ha..ha.. parah juga perilakuku pagi ini, mengenali beberapa jenis wangi-wangian dalam beberapa hitungan detik. Dua ratus meter sebelum sampai ditempat kerja, naik seorang bapak dan duduk tepat disebelahku,, untuk yang satu ini aku tak butuh beberapa detik tapi Cuma setengah detik aku sudah bisa tahu bahwa ini bau tembakau.

“kiri da” aku menghentikan angkot dengan kata sapaan yang sudah sangat jarang terdengar dikota ini. Sapaan “uda” nyaris hilang dan berganti dengan “abang”, maka kumulai dari diri sendiri untuk menggunakannya lagi. Efek paling seru dari panggilan itu adalah: angkot langsung berhenti dan si uda melirikku lewat kaca spion.. seolah berkata “dima kampuang diak?”. Hahaha…:D

Isi absen, dan Alhamdulillah gajiku tidak dipotong meski tunjangan juga tidak kudapatkan.
Seseorang mendorong pintu dan kusapa dengan wajah ramah “pagi bu” namun wajah cerahnya berubah mendung.. “memang saya sudah seperti ibu-ibu?” nyaris aku tertawa mendengar kalimatnya.. “kita belum kenalan kak, saya nova.. kakak?” ucapku mengulurkan tangan dan dijawabnya dengan kumur-kumur (sebab aku tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucapkannya) “kakak ngajar apa?” aku masih berusaha ramah “bahasa indonesia” singkat dan lumayan jelas, aku tersenyum dan kembali keposisiku,, zaman sekarang makin aneh aja_ ibu guru gak mau dipanggil ibu.. maunya dipanggil kakak (guru).

Selidik punya selidik, si kakak guru merasa terusik dengan panggilan itu, diusia yang ‘seharusnya’ memang dipanggil ibu, beliau belum juga menikah.. hm.. sekali lagi perkara yang sama: jodoh. Rumit ya..

SM-3T

Mengikuti setiap langkah mereka disana, mereka yang kebanyakan tidak kukenal namun berhasil membuatku betah berlama-lama menyusuri tiap kalimat yang mereka buat, meski kadang singkat.

sungguh aku ingin berada diantara mereka, membagi sedikit bakti untuk negeri, untuk anak-anak dengan semangat belajar yang tinggi. sungguh aku ingin berada disana, bersama wajah-wajah polos yang mungkin belum berkenalan dengan gadget, tablet atau apapun yang kini bukan lagi barang mewah bagi pelajar di Ibu kota.

aku masih ingat betapa menggebunya keinginanku saat itu ketika berkata :ingin menjadi tenaga pendidik yang terdidik dan mendidik ditempat yang memang butuh pendidikan. tapi sekarang apa? aku harus menebang pohon keinginan yang sejak kecil kurawat dengan baik, aku harus mengikhlaskan bahwa kereta takdirku tidak melewati jalan itu. Dan terakhir.. aku harus belajar menerima bahwa semua yang terjadi sekarang adalah yang terbaik dari-Nya untukku, belajar meyakini bahwa Dia punya rencana Maha indah untukku, belajar sabar bahwa Dia sudah menyiapkan sesuatu yang lebih menarik dalam perjalananku.

selamat untuk mereka yang sekarang tengah menyemai benih pengetahuan disana.



sunday

minggu,,

aku masih betah di ruang kerja, hari liburku sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. bagiku akhir pekan itu dimulai sajak selasa petang dan kamis pagi aku sudah harus kembali lagi dengan rutinitas biasa.
sebelum bekerja disini aku sudah tahu bahwa aku akan sering bosan dengan segala jadwal sehingga kucoba sedikit bermain dengan kebiasaan.

setahuku kebiasaan itu tersimpan rapi dalam pikiran alam bawah sadar manusia, setara dengan memori jangka panjang, kreatifitas, kepribadian, intuisi dan kawan-kawan. aku yang biasanya cerewet (hingga sempat dipanggil 'murai' ) dan supel dalam bergaul (ha..ha.. semoga aku tidak sedang menfitnah diri sendiri) tiba-tiba 'berubah' jadi sosok pendiam yang tidak banyak bicara (pemborosan..! pendiam itu sama saja dengan tidak banyak bicara). awalnya sulit sekali, aku harus 'menahan diri' untuk tidak 'cuap-cuap' sekenanya, belum lagi keramahan verbal yang harus segera diganti dengan keramahan non verbal . tapi setelah jalan dua minggu, sepertinya aku berhasil..berhasil mengendalikan diri dan bicara seperlunya.
cihuy..aku berhasil jadi orang pendiam, tapi cuma ditempat kerja, sekali lagi cuma ditempat kerja, tidak di kos yang bagiku adalah tempat melepas semua kata yang seharian tertahan, tidak juga disini_ tempat dimana beberapa kisahku berlabuh

Pulang

Saya pulang..
pulang dari perjalanan panjang hampir empat bulan, hm.. sangat lama untuk ukuranku. Sangat lama untuk ukuran sejumlah kisah yang tidak sempat kubagi disini.
Tentang pengalaman rawat inap sebelum operasi yang lumayan membunuh mental, tentang operasi itu sendiri dan tentang pengalaman kerja pertama setelah mengundurkan diri secara lisan pada tempat kerja sebelumnya (dan sampai hari ini, surat pengunduran diri itu tidak kunjung kukirim), tentang setumpuk bahan yang harus kupelajari dengan cepat dan banyak hal lain yang terlewatkan untuk kukisahkan.
Hari ini, bukan secara kebetulan aku sempat singgah (dan pulang) kesini. Rindu yang membawaku kembali merapat ke catatan pelangi, tapi mungkin tak bisa lama sebab aku masih punya beberapa agenda lain yang menungguku kembali.