L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

": Bunga :"

Udah lama pengen nulis tentang bunga.. sesuatu yang menarik untuk ditulis berhubung banyak pihak penggemar bunga. Sebenarnya berawal dari diskusi dengan seorang teman mengenai haramnya bunga. Eits.. jangan protes bagi penikmat melati dan mawar.. bunga yang hendak dibahas disini adalah ‘interest’ atau dipersempit menjadi bunga bank. Ngomong-ngomong soal ‘interest’.. siswaku dikelas 6 pernah bertanya dengan polosnya ketika kusebut bahwa penanam modal mendapatkan ‘bunga’ atau ‘interest’. “kenapa disebut bunga kak?”, “karena memang dalam kamus besar bahasa indonesia, bunga juga memiliki pengertian sebagai imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan”.. “ya.. kenapa bunga  kak? kan bisa saja daun, batang atau akar” aku tersenyum sebelum menjawab.. ternyata dia bertanya asal kata, kenapa ‘bunga’ yang dipakai untuk menggantikan balas jasa tersebut. “sekarang di kelas ini.. siapa yang suka mawar?” nyaris semua siswa perempuan dan beberapa siswa laki-laki mengacung. “Siapa yang suka daun mawar?” Cuma beberapa tangan yang masih tinggal, “siapa yang suka batang mawar?” mereka mulai menggeleng “kalau akar mawar??” mereka mulai tertawa kecil. “jadi bagi penanam mawar.. bunga mawar menjadi salah satu alasan mengapa dia mau mengali tanah, menyiram, merawat bahkan memberi pupuk” aku menunggu respon darinya “jadi bagi penanam modal.. bunga modal menjadi salah satu alasan mengapa dia menyetorkan sejumlah uang keperusahaan,, benar kak?” ujarnya dengan senyum mengembang sempurna. “yaph.. pintar” jawabku ikut tersenyum. Hm.. itulah anak-anak, siswaku di SMA tidak pernah bertanya kenapa dipakai kata ‘bunga’, kenapa tidak ‘cokelat’, atau ‘shopping’ aja sekalian, kan lebih menarik. Tapi syukurlah mereka tidak pernah bertanya.

Anak Jalanan

Anak jalanan.. masih merupakan salah satu masalah sosial yang sangat pelik yang dihadapi oleh pemerintah daerah atau pemerintah kota di Indonesia.

Di ibu kota, jumlah anak jalanan terus meningkat. Pemandangan ini dirasa kurang sedap karena anak dalam usia sekolah malah berkeliaran di pinggir jalan protokol, lampu merah, dengan berbagai aktivitas.. ada yang mengamen, mengemis, memulung, membersihkan kaca mobil, atau berdagang asongan.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam, telah banyak upaya dilakukan mulai dari mengumpulkan mereka di rumah singgah, mendidik dan membina, sampai kepada memulangkan mereka ke tempat asal. Tetapi jumlah anak jalanan tetap saja tidak berkurang dan aktivitas mereka tidak berhenti. Pertanyaan yang muncul adalah apa penyebab kegagalan program penanggulangan anak jalanan tersebut? Ada banyak alternatif jawaban tapi kali ini kita akan membahas dari sudut pandang ekonomi.

Ilmu ekonomi berpandangan bahwa apapun yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang umumnya berdasarkan pertimbangan untung-rugi. Dengan kata lain.. dari sudut pandang ekonomi, anak jalanan pun bertindak rasional. Mereka akan tetap jadi anak jalanan selama biaya ekonomi (opportunity cost) sangat kecil. Mereka akan menolak program-program pembinaan yang diberikan pemerintah jika dianggap biaya ekonomi dari mengikuti program tersebut amat besar.

Untuk mengarahkan pembahasan, kita fokuskan pembahasan pada kegagalan program penyekolahan anak jalanan. Kegagalan tersebut memimbulkan pertanyaan “mengapa anak jalanan enggan bersekolah?”. Dan dari sudut pandang ekonomi alasannya sangat jelas: “karena biaya ekonomi dari program tersebut bagi anak jalanan sangatlah besar”. Biaya ekonomi yang relevan bagi anak jalanan jika memutuskan untuk bersekolah atau tidak adalah jumlah pendapatan yang mereka korbankan (opportunity cost).

Anggaplah pendapatan bersih anak jalanan tersebut dalam sehari minimal Rp10 ribu. Apabila mereka bersekolah, maka mereka mengorbankan Rp10 ribu setiap harinya, Rp60 ribu selama seminggu, Rp240 ribu dalam sebulan. Dan sampai mereka tamat sekolah dasar, opportunity cost yang harus mereka tanggung dengan anggapan dapat menyelesaikan pendidikannya selama 6 tahun atau 72 bulan adalah Rp17.280.000.

Selain pendapatan yang dikorbankan sangat besar, prospek penghasilan bagi anak jalanan jika hanya mengandalkan ijazah SD saja sangat kecil bila dibandingkan dengan penghasilan yang harus dikorbankan (opportunity cost) untuk mendapatkan ijazah tersebut.

Ekonomi

Hae,, melanjutkan kisah kemaren. Target lain tahun ini adalah ‘rajin menulis’..

nah topik kita kali ini adalah ekonomi. Dan sebagai tahap awal, kita ngebahasnya pendahuluan aja.. hitung-hitung pemanasan.

Ekonomi,, keseringan yang terpikir adalah uang. Apalagi kalau mendengar kata akuntansi.. otomatis otak sudah langsung menggambarkan angka-angka dengan lambang mata uang didepannya. sebenarnya dengan atau tanpa kita sadari,, ekonomi itu sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya ketika kita menentukan pilihan dengan banyak pertimbangan.. atau ketika kita melakukan pengorbanan untuk memperoleh sesuatu yang kadang mengorbankan sesuatu yang lain, nah.. contoh diatas dalam ilmu ekonomi termasuk kedalam ‘problem of choice’ karena adanya ‘scarcity’ sehingga menyebabkan terjadinya ‘opportunity cost’ demi memperoleh kepuasan.

Jadi apa itu ilmu ekonomi? Secara sederhananya ilmu ekonomi itu adalah ilmu yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumber daya yang langka (dengan dan tanpa uang) dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Hayyuk kita bahas satu persatu:

a.    Scarcity (kelangkaan)
Keterbatasan kita menyebabkan banyak hal terasa langka, sesuatu tidak akan langka kalau jumlah (kuantitas) yang tersedia sesuai dengan kebutuhan, berkualitas baik, tersedia dimana saja (disetiap tempat dan kapan saja (waktu) dibutuhkan. Jadi kelangkaan itu mencakup keempat aspek tersebut.

b.   Choices (Pilihan-pilihan)
Manusia kan makhluk yang tidak pernah puas,, makhluk yang selalu ngerasa kurang (itu sebabnya juga menusia jadi jarang bersyukur atas apa yang mereka peroleh).. nah,, kelangkaan dan ketidakpuasan lah yang menyebabkan pilihan-pilihan ini terbentuk.

c.    Opportunity cost (biaya kesempatan)
Ilmu ekonomi memandang manusia sebagai makhluk rasional. Pilihan-pilihan yang dibuatnya berdasarkan pertimbangan untung dan rugi, dan memang seperti itu bukan? Kita selalu hitung-hitungan dalam hidup termasuk hitung-hitungan ma Allah perkara ibadah, kita cari-cari dulu fadhilahnya n ukuran pahalanya, kalo misalnya keren.. baru deh kita beramal. Nah_ biaya kesempatan itu adalah kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang kita korbankan karena kita telah memilih alternatif lain. Contoh sederhananya, ketika lulus smk,, kita bisa saja bekerja dengan gaji Rp700 ribu. Tapi kita memilih untuk kuliah dengan harapan gaji yang lebih besar nantinya dengan ijazah S1. Jadi opportunity cost-nya ya Rp700 ribu itu. Atau contoh lainnya, Siti berbisnis jual beli mobil bekas, diawal tahun, ia membeli satu unit mobil dengan harga Rp70 juta dan biaya perbaikan Rp10 juta jadi harga perolehan mobil tersebut menurut konsep akuntansi adalah RP80 juta. Pada akhir tahun Mobil tersebut dijual dengan harga Rp92 juta. Jadi Siti beruntung Rp12 juta? Benarkah?? Atau siti malah rugi Rp4 juta??. Alternatif lain dari penggunaan uang Rp80 juta tersebut adalah menyimpannya dalam deposito berjangka. Jika bunga deposito 20% per tahun maka diakhir tahun siti akan memperoleh Rp96 juta. Jadi walau secara akuntansi siti memperoleh untung Rp12 juta tapi secara ekonomi siti memperoleh rugi Rp4 juta. Hm,, opportunity cost-nya berapa hayyo..??

awal tahun

Taraaaaa..... udah tahun 2013 ya, mana yang katanya kiamat 2012, sok tau..! Allah kok diatur,, mana bisa..! (He..kok awal tahun udah ngomel sih).

Oke_ kita tinggalkan perkara prediksi gak penting tentang kiamat, nguras emosi aja ngomongin sesuatu yang diluar kemampuan kita.

Awal tahun.. sebagian teman-teman mungkin bilang “tahun baru saya tidak sekarang, 1 muharram udah lama lewat dan sekarang tanggal 18 shafar 1434 H”. Itu benar tapi gak bisa dipungkiri bahwa kita juga hidup dalam penanggalan masehi, yang jadwal sekolah, kuliah, kerja atau nganggur (nganggur pake tanggal juga kan?) nyaris menggunakan penanggalan dari perjalanan bumi mengelilingi matahari tersebut. Yang gak benar itu adalah ikut merayakan tahun baru, tapi gak akan dibahas disini,, teman-teman bisa mencarinya di meja lain J

Awal tahun.. Gak ada salahnya menyusun beberapa agenda untuk tahun ini, mungkin berupa perjalanan wisata, target wisuda, target pekejaan, target finansial, target gebetan, atau target nikah aja sekalian (oops..). tapi benar lho ya,, ketika kita udah nyusun rencana, insyaAllah gak akan jauh meleset. Kalaupun sedikit berbeda maka yakinlah bahwa rencana yang kita susun itu belum baik untuk kita.. makanya Allah ganti dengan yang lebih baik. Kan Dia yang Maha Tahu tentang segala sesuatu. Gak usah ngotot bilang “rencana saya gak seperti ini, kok jadinya seperti ini..! padahal saya udah nyusun rencana jauh-jauh hari untuk merancang ini semua..!” he,,he.. itulah Dia yang Maha Penyayang, kalo dirasa rencana yang kita rancang itu gak berdampak baik, segera Dia ganti dengan sesuatu yang lain, yang mungkin awalnya membuat kita gak terima tapi akhirnya tanpa kita sadari (sehingga jarang kita syukuri) bahwa rencana-Nya tersebut jauh lebih indah.

Awal tahun.. saya juga punya beberapa target besar untuk tahun ini, dan yang paling besar adalah menikah,, karena satu kata itu akan merubah hidup saya dengan drastis, sama halnya dengan tahap kanak-kanak dimana hal besarnya adalah ‘masuk sekolah’, tahap remaja dimana hal besarnya adalah ‘baligh’, dan tahap dewasa adalah rencana saya tadi J. Dewasa tidak ditentukan oleh jumlah usia, dewasa itu kerap ditandai oleh kematangan emosi.. nah berarti menikah adalah salah satu tanda bahwa kita tengah bersiap untuk ‘mendewasakan’ diri, bagaimana tidak,, seorang perempuan harus belajar menerima untuk hidup dengan makhluk rasional yang kadang-kadang terlihat tidak berperasaan. Seorang laki-laki juga harus belajar menerima untuk hidup dengan makhluk cengeng dengan segala keanehannya (baca: keunikannya). Haha.. pasti lucu,, makanya menikah jadi salah satu rencana besar saya dalam tahun ini. (yang kalaupun tidak terwujud maka pasti Dia sudah punya rencana lain yang Maha Indah). Jadi apa rencana-rencana besarmu untuk tahun ini kawan?


Dari Hidden

Disaat kebanyakan teman-teman senasib tengah memperjuangkan keberuntungannya, disaat mereka sibuk berceloteh tentang eksponen, logaritma, integral, hingga trigonometri. Disaat itu kutulis kisah ini.. kisah tentang dia yang merasa tertinggal, kisah tentang dia yang tidak bisa ikut ujian karena beberapa hal.

Phufft.. kulihat ada murung dimatanya, ada sejumput sedih yang berusaha dia sembunyikan dari gerak riangnya. Makna apa yang hendak Dia sampaikan padanya, maksud apa yang tersembunyi dibalik ini semua

tanpa Judul

Phufft.. seharian ini aku dikerjai oleh pintu, (heh.. kenapa bisa?) aku harus berputar-putar melewati tangga luar untuk kemudian mengetahui bahwa pintu lantai dua masih terkunci, aku kembali kelantai satu dan mencari kunci ruanganku. Kembali keatas dengan sebuah kunci bernomor 14, riang langkahku melewati satu persatu anak tangga dan sampai diatas.. aku keruangan dan kudapati ruangan masih seperti yang kemaren  (ya iyalah.. Cuma aku satu-satunya penghuni kasat mata di sana). Dan seperti biasa.. aku benci sendirian di ruangan, maka aku melangkah menuju ruang konsultasi yang dibatasi oleh pintu. Terkunci???  Hm.. aku kembali turun tangga untuk mengambil kuncinya bernomor 12. Sekali lagi aku melangkah (sedikit) riang menuju lantai dua. Sampai disana ternyata pintu terkunci dari arah dalam.  Aku mulai gondok menuruni anak tangga dan melewati banyak pintu untuk kemudian naik lagi di tangga dalam (jadi ceritanya ke ruanganku itu bisa lewat tangga dalam dan tangga luar).

Akhirnya pintu itu berhasil kubuka. Suasana hati mulai cerah,, kubawa bahan ajar, laptop, makanan kecil dan tentu saja segelas air bening menuju TKP. Duduk manis di hadapan meja melingkar ruang konsultasi. Dan rasanya aku melupakan sesuatu..  berfikir,, berfikir dan terus berfikir hingga sepuluh menit kemudian (gdubrak... lemot euy) aku menyadari bahwa belum menempelkan jari lentikku di scan fingger, itu berarti aku belum absen dan gajiku dipotong setiap menitnya..!

-kisah adzan di sini-


Sudah sejak lama sebenarnya kuperhatikan, sebuah lampu hias ditengah ruang konsultasi.. lampu kristal yang menjuntai anggun dari lantai dua, dikelilingi oleh sebuah tangga dengan karpet berwarna biru terang.

Biasanya aku melewati tangga itu untuk mencapai ruanganku yang berada dilantai dua ujung, dan setiap kali menaiki undakan anak tangga.. mataku tak lepas dari lampu indah itu, paduan warna yang unik menurutku. Kerap kuhabiskan waktu diruangan konsultasi itu sendirian, bertemankan secangkir air bening dan beberapa roti gandum dalam piring..

Sesuatu yang menarik kerap terjadi ketika adzan berkumandang di mesjid yang berada tidak jauh dari dari kantor. Setiap kali lantunan itu terdengar maka lampu itu berayun pelan, berdentingan satu sama lain. Selesai adzan maka dia pun segera bergeming, cukup menarik melihat lampu dengan panjang empat meter itu tiba-tiba berayun pelan dan tiba-tiba berhenti.

*sempat tebersit hendak menampilkan lampu itu disini, tapi aku khawatir jika post kali ini berubah jadi menakutkan.