L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

puzzle 6

Akhir pekan dimulai..

Rabu kali ini berbeda dari biasanya, aku yang setiap kamis dapat jadwal ‘dinas’ keluar kota untuk kali ini diizinkan libur.. cihuy,,aku suka dengan bibir sedikit pucat akhir-akhir ini..

“hei.. besok aku libur” tulisku antusias pada sahabatku.

“mau ketemuan?” retoris itu kuterima.

“dimana kita bertemu besok?” kembali pesannya muncul setelah lama tidak kubalas.

“ditempat biasa.. aku ingin es krim”

**

Aku sampai 5 menit sebelum janji.. tidak biasanya aku seperti ini.. tapi temanku itu adalah makhluk paling cerewet masalah waktu. Dia akan ngomel panjang jika aku membuatnya menunggu meski itu Cuma beberapa menit. Tepat seperti janji, dia melewati pintu depan dengan jalan tergesa. Seperti biasa..

“wow.. sejak kapan kamu mengenakan warna merah jambu?” godaku ketika mendapatinya dengan jilbab merah jambu dan baju kotak-kotak berpayet.

Dia cuma tersenyum, banyak berubah.

“tapi sayangnya jalanmu masih seperti dulu,, apa yang mengejarmu sehingga harus berjalan secepat itu”

Kembali senyumnya mengembang.. kali ini lebih sempurna

“waktu” jawabnya masih dengan senyum yang tadi.

“baiklah.. aku sudah pesan dua”

“bagaimana kabarmu?” dia bertanya kemudian

“haha.. jarang sekali kudengar tanya itu darimu” pancingku,, sungguh aku rindu serangan balik darinya.

“mulai sekarang akan sering..” singkat saja

“aku baik..” jawabku makin singkat,, sungguh dia berbeda akhir-akhir ini,, lebih tenang.

“cantik jilbabmu sekarang?”

“haha.. jika kamu berniat mengatakan bahwa makin pendek,, percuma saja..  sudah banyak yang berkomentar seperti itu”

“he.. tidak, selama kamu nyaman” phufft.. nyaris dia tidak kukenali.
Pembicaraan kami berlanjut kemana-mana, tentang pekerjaanku, tentang aktivitasnya, dan akhirnya tentang dia.. setelah lama mencari celah untuk bertanya hingga gelas es krimku kosong.

“baik-baik saja” jawabnya diplomatis dan aku mulai tidak menyukai sikap tenangnya.

“he..he.. jangan memasang tampang seperti itu,..” ujarnya yang akhirnya menyadari kekesalanku.

“komunikasi kami baik”

“masih setiap akhir pekan?” tanyaku lagi

“tidak.. sejak dulu aku tidak ingin pacaran, pun aku tidak ingin seperti pacaran.. jadi biar kujaga hatiku dan biar juga dia menjaga hatinya”

Aku belum mengerti arah pembicaraannya “apa maksudmu ‘break’?”

“haha.. kami tidak punya ikatan apapun selain pertemanan,, mana ada istilah ‘break’?”

Aku manyun,, berfikir..

“ha... aku ingat,, dia pernah berkata bahwa kalian tidak ada ikatan apa-apa hingga dia menjumpai orang tuamu, benar?” dia mengangguk

“dan, hingga dia kerumahmu,, komunikasi kalian seperlunya saja?” kembali dia mengangguk.

“apa dia setuju?” dia tersenyum lagi

“tidak usah sering senyum.. aku masih normal” kesalku kembali datang.

“tentu saja dia setuju, meski aku tidak menjelaskan alasannya, kurasa dia paham”

Phufft..

“kalian aneh..” ujarku sebelum beranjak memesan segelas es krim lagi.

“aneh dimana.. aku selalu tidak setuju dengan konsep ‘minta ditunggu’, ‘berjanji sekian waktu’, dan apapun itu. aku percaya bahwa jodohku ada meski tidak tau sekarang dimana, biar kusimpan rasa penasaran padanya hingga nanti pernikahan menghalalkan semuanya. Aku tidak ingin banyak bertanya,, biar jadi misteri saja hingga waktunya tiba. Sungguh aku ingin dia tapi aku tidak ingin mencampuri rencana-Nya.. Dia tau segala yang terbaik untuk kami” diam sejenak “kamu mengerti?”

Terpana.. sedewasa inikah temanku kini? Aku ingat setiap potong ceritanya, setiap rengekan bungsu miliknya, setiap bimbangnya..

“ya..ya.. aku mengerti” ringan kujawab

“aku cuma belum mengerti.. apa yang membuatmu berubah secepat ini?”

“waktu” jawabnya kemudian tertawa.

:: umpan yang lezat ::

menjelang pergantian hari..

malam larut dalam nafas teratur mereka yang tertidur disebelahku, hari ini aku kecewa,, meski sahabatku pernah berkata bahwa kecewa itu jangan ditulis dan kalaupun hendak ditulis maka tulislah pada secarik kertas untuk kemudian diterbangkan bersama angin sore menuju laut. Ah.. sungguh hari ini aku berada diposisi yang tidak bisa dibilang nyaman. Aku tersudut, antara menolong dan menggolong. Entahlah.. aku bahkan tidak ingat bagaimana kisah ini bermula, tapi yang pasti kuingat.. kisah ini harus berakhir sekarang. Besok aku tidak ingin lagi berurusan dengan kisah cinta orang-orang dewasa yang rumit.. biar cintaku kelak sederhana saja, yang bermula dari pernikahan dan rehat sejenak pada nafas terakhir dan kemudian dilanjutkan lagi...

Aku bertemu dengannya siang itu, hari liburku. Kami habiskan hingga petang dengan bertukar cerita, sebenarnya bukan bertukar tapi aku lebih banyak mendengar kisahnya yang kupikir menyenangkan. Tak perlu dia tau kisah-kisah sederhana milikku, dia tak akan terkesan. Kali itu dia bercerita tentang seorang pria yang dipanggilnya uda. Senyumku tak lepas dari rona merah jambu diwajahnya, cinta tengah bermain dihatinya. Aku turut bahagia, meski tidak yakin bahwa bahagiaku sebahagia dia.

“kami break” ucapnya selang beberapa waktu kemudian,

“kenapa?” jelas terdengar intonasi-ku takpercaya

“aku ta’aruf dengan seorang laki-laki lain yang mungkin tidak perlu menjanjikan waktu 3 bulan” setengah tak percaya kudengar kalimat itu.

“apa uda kakak tau?” tanyaku hati-hati

“ya.. beliau tau dan mengizinkannya, sekian tahun aku menunggu.. masa harus menunggu lagi” renyah suaranya terdengar.

“apa tidak sebaiknya ditunggu kejelasannya? 3 bulan itu tidak lama..”

“itu lama..”

Aku diam

“dan sekarang aku tengah ta’aruf..” kembali dia bersuara.

***
Seminggu kemudian aku dikabari bahwa prosesnya berhenti dengan beberapa alasan dari pihak laki-laki. Ah,, aku kasihan mendapati niat sahabat baikku belum terwujud. Maka kutawarkan diri menjadi mediator dalam hubungannya dengan si uda yang sempat terputus beberapa lama. Sungguh aku tidak punya niat lain.

Kumulai komunikasi lewat pesan-pesan di jejaring sosial, hingga akhirnya beliau meminta nomor Hp-ku, keberatan awalnya tapi kembali niat kuluruskan.. bahwa ini semua demi sahabatku, seorang kakak yang banyak hal kupelajari darinya. Komunikasi berpindah ke pesan singkat. Misiku bermula, meski ditengah jalan aku sempat  hendak berhenti sebab beliau terkategori cerewet untuk ukuran teman laki-lakiku.. untuk apa bertanya banyak hal tentangku, hingga malah meragukan keseriusanku dalam berteman, tapi kembali niat kuluruskan lagi: Aku hanya akan berhenti ketika memang semua sudah jelas.

Siang itu,, ditempat kerja beliau menelponku, menjelaskan jawaban dari pertanyaan dasar mengapa hubungan ini bermula: “masihkah beliau mau melanjutkan hubungan dengan kakakku”. Beliau memilih kata dengan hati-hati, beretorika yang membuatku sedikit bosan..

“jadi intinya tidak mau?” kupotong saja kalimat panjang miliknya,

“kamu orangnya to the point ya?” kudengar dia tertawa.

“bukan tidak mau, tapi abang hanya tidak ingin menyakitinya, kesalahan abang sendiri yang tidak mampu menerima apa adanya..” dan bla..bla..bla.., aku sudah lupa apa penjelasannya tapi aku tidak mungkin lupa bahwa dia ‘menolak’. Itu saja.. dan kupikir misiku berakhir meski tidak berhasil.

“tolong va jangan cerita ini,, abang tidak ingin menyakitinya”

“hm.. apa untungnya bagi va bercerita” kupikir aku tidak me’iya’kan dan juga tidak me’tidak’kan..

Pembicaraan kami berlanjut, entah kemana hingga akhirnya beliau berkata bahwa aku termasuk dalam kriterianya.. apa ini..!!! aku sungguh ingin segera keluar.

Petangnya kuterima kembali pesan darinya

“boleh ya abang minta fotonya” aku tersedak, mengerjap dan berharap aku salah baca.

“gak” singkat kujawab

“kenapa?”

Aku diam

“kok gak dibalas?”

“abang tau alasannya”

“tidak,. Coba jelaskan alasannya”

Muakku memuncak, dia yang paham agama.. yang menceramahiku sepanjang siang tadi tiba-tiba meminta fotoku dengan enteng.

“malas mengajari tentara berbaris” balasku cepat

“maaf.. maaf abang lancang”

Phufft.. emosiku sedikit mereda ketika kudengar suara motor teman-temanku dihalaman, ‘akhir pekan dimulai’ bisikku pada diri sendiri.

Malam menjelang ketika mereka kembali mengantarku pulang, dan ketika kulihat hp,, beberapa pesan masuk dan nyaris semua darinya.. meminta izin kembali untuk menelpon dan tidak kuberi. Ada seseorang yang ingin kuhubungi dan itu bukan dia.

***
“tenang,, kakak gak akan bawa-bawa nama va” ucapnya ringan, ketika aku keberatan dia menghubungi  si uda cuma untuk menyatakan kekecewaan.

“untuk apa lagi.. semua sudah jelas” kucoba meyakinkan

“va gak tau betapa sakitnya,, betapa sakitnya ketika dia main hati” ada bulir bening menggarisi wajahnya. Aku kehilangan kata, ternyata ada banyak hal yang sembunyikan dariku.

“’bukankah kalian putus komunikasi?” kataku setelah lama terdiam

“dia memohon untuk melanjutkannya lagi”

“kenapa kakak tidak cerita? Kan va gak perlu mendekatinya untuk tau dia masih mau melanjutkan hubungan atau tidak” aku mulai kecewa

“itu tidak penting lagi, terima kasih sayang.. ternyata dia tidak baik”

‘aku dijadikan umpan?’ hatiku berbisik pelan tepat ketika sebuah pesan singkat bertuliskan bahwa dia kecewa, dia tidak menyangka bahwa aku tidak amanah, kalau dia ingin menyakiti hati kakakku, dia tidak memerlukanku untuk melakukannya.

“sudahlah kak,, kak sudah janji tidak akan melibatkan va, kalau sekarang reaksi kak seperti ini.. dia akan mengira va mata-mata.. sungguh niat awal va bukan seperti itu, ayolah kak.. hentikan” entah intonasiku seperti permohonan.

“tidak bisa, dia harus tau bahwa kak terluka, dia menyakiti kak, dia selingkuh” suaranya serak

Andai malam ini dia tidak jadi tamu dirumahku, maka sudah kutinggalkan dia sebelum emosiku memuncak.

“dia akhirnya akan tahu bahwa va dalang ini semua..” ucapku pelan

“tidak apa” aku terpukul mendengar ucapannya, tidakkah dia mengerti apa yang kumaksud.. tidakkah dia paham bahwa saat ini aku tersudut menerima forward pesannya untuk si uda, bahwa makiannya untuk si uda juga kuterima.

“tapi apa yang dia pikirkan tentang va?”

“hah.. jadi va cemas tidak bisa lagi chatingan dan sms’an dengannya?” kaliamat tanya yang tidak pernah kusangka.

“kak,, kehilangan dia tidak akan berdampak apa-apa, va punya banyak teman laki-laki yang menyayangi va tanpa syarat va harus mengirim foto, tanpa va harus mau ditelpon. Tanpa apapun” suaraku mulai meninggi.

“akui saja.. va takut?” tidak menyangka bahwa kakak yang kusayang akan meragukan hatiku.

“kak tau kan, va punya riky yang setia mendengarkan omelan va, va punya sayid yang selalu ada, va punya bayu yang penuh semangat, va punya edo yang kak kagumi, va punya bang ardi yang dulu pernah bertemu kak ketika menjemput va waktu gempa? relfi, arif, yendra, b’indra, rahmat, jefri, yogi, andrian, alif, arie yang mereka bahkan tidak pernah mengeluh jika va repotkan..” kusebut nama sebagian teman laki-lakiku dari yang dia kenal hingga yang tidak.

“va punya mereka,, dan kehilangan uda kak tidak berdampak apa-apa untuk aktivitas va” kututup dengan senyum dipaksa.

Dia bergeming, seolah tidak mendengar pembelaanku.

“ky..” kukirim pesan singkat pada sahabatku yang jauh dipulau sana. Dan sesaat kemudian kuterima balasan darinya..

“va emosi..” kembali pesan itu dilaporkan terkirim, dan setelah itu aku sibuk dengannya sembari membaca pesan dari si uda yang merupakan forward menyakitkan dari kakakku tersayang.

“ana sedang di kos va saat ini, lebih dari cukup bukti-bukti chat dan sms.. ternyata akhy jago juga. Semoga puas” dan tak lama “dan semoga va juga puas..!!” lagi pesannya masuk.

“sudahlah.. yang penting niat awal tidak seperti itu, diamkan saja.. karena kalau ditanggapi pun, semua tidak akan lebih baik” pesan kesekian dari riky.

Aku setuju, biar ini jadi kenangan saja.. bahwa mereka dengan label apapun belum tentu dapat dipercaya.. bahwa aku dengan usia setua ini masih bisa dijadikan umpan yang lezat.

“hmm.. rumit sekali cinta orang dewasa ^^” kuakhiri pesan dengan riky,, malam sudah sangat larut.

tentangmu, teman

Ruang sepi,, 16.45
Bismillah_
Tulisan ini tentangmu teman, aku tidak tahu.. kapan kau akan sempat membacanya, tapi biar kuabadikan kebersamaan kita yang ganjil dalam kalimat-kalimat sederhana yang kususun sendiri.
Kau.. entah sejak kapan berada dalam ruang dihatiku, entah sejak perkenalan awal, entah sejak interaksi kita mulai berjalan, entah juga sejak aku mulai jatuh dan mendapatimu berdiri setelah jatuh lebih dalam. Entahlah..
Yang pasti kuingat tentangmu adalah semangat untuk memberi, untuk terus berkarya meski dalam ruang keterbatasan yang makin lama makin mengecil. Sejatinya aku tidak tahu apa yang terjadi.. kau terlalu menutup diri untuk sekedar kudekati. Tapi biarlah,, mengenalmu dari sudut ini saja sudah membuatku bangga,, bahwa pernah ada seorang yang kerap menyemangatiku dan tersenyum disaat dia sendiri mungkin lebih membutuhkan semangat itu, bahwa pernah ada seorang yang kukenal dengan segala kesibukkannya memberi warna pada sekitar dengan sketsa hitam putih.
Ah.. sekali lagi,, ini hanya kalimat sederhana yang kususun sebagai pengusir sedih ketika mendapatimu masih bisa tersenyum. Teman.. esok jika salah satu diantara kita melupakan salah satu yang lain.. maka biar catatan ini abadi bersama waktu yang uzur.. yang mendekati kita setiap detiknya untuk kemudian membawa kita bersamanya. Dan ketahuilah.. aku senang pernah kau kenali.


Penerimaan Total

Bismillah
Kamar Rindu. 21.35

Alhamdulillah,, seharian ini padat nian agenda saya, subuh bermula seperti biasa,, melaksanakan rutinitas (hak dan kewajiban) hingga pukul 6, saya baru ingat bahwa pembahasan soal TO SBMPTN harus diserahkan hari jum’at pagi, masih lama sebenarnya.. terhitung 2 hari lagi, tapi hari ini saya punya agenda mengajar keluar kota, pulangnya saya langsung menuju kampung, lusa baru saya akan kembali. Niat awal, sebelum nanti berangkat keluar kota jam 9.45, pembahasan soal tersebut sudah saya serahkan agar ketika di kampung saya bebas dari semua tugas. Satu persatu soal alhamdulillah saya lalui dengan lancar, tapi pada soal bernomor 64, saya tersendat. Nyaris tak punya jalan. Sehingga saya lompati dan kembali berjalan dengan mulus. Ah.. angka 9.00 sudah tepat dijarum pendek, saya belum mandi dan sejak subuh tadi perut saya asyik bernyanyi, saya baru ingat bahwa kemaren saya langsung tertidur sepulang dari luar kota.

“selesai kak?” tanya adik kos ketika saya berbenah dan menyambar handuk.

“satu soal lagi” sambil tersenyum saya bergegas kekamar mandi. Tidak ada lirik asal-asalan, tidak ada senandung aneh, pun tidak ada suara sumbang yang mengiringi setiap guyuran air, otak saya sedang fokus pada soal bernomor 64 tersebut.

***

Banyak sudah kisah yang terjadi hari ini, termasuk gagalnya saya menyerahkan pembahasan soal tersebut sebelum berangkat keluar kota.  Phufft,, saya lelah tapi soal itu menciptakan penasaran yang membuat saya memutuskan menunda tidur, dengan pensil kesayangan, mulailah kombinasi angka dan huruf menghiasi kertas. Dan... berhasil, hey.. saya berhasil..!!! kantuk yang tadi mengiringi lelah langsung menyingkir mendengar teriakan saya. Pencapaian terbesar hari ini,, sungguh rasanya sangat menyenangkan.. mari teman, sini saya bagi soal tersebut:

Jika fungsi TR = 80Q – 2Q2, berapakah penerimaan total jika elastisitas permintaan 4?

Singkat memang, tapi tidak sesingkat waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikannya:

TR= PxQ à TR= 80Q – 2Q2
                     TR= Q (80 – 2Q)

P = 80 – 2Q à 2Q = 80 – P
                          Q  = 40 – 0.5P
                          Q’ = -0.5

ED = Q’x P/Q à    4     = -0.5 x (80–2Q)/Q
                            4/0.5  = (80–2Q)/Q
                               8     = (80–2Q)/Q
                               8Q = 80–2Q
                        8Q+2Q  = 80
                             10Q  = 80
                                 Q  = 80/10
                                 Q  = 8
Jadi Penerimaan Total à  TR= 80Q – 2Q2
                                        TR= 80(8) – 2(82)
                                        TR= 640 – 128
                                        TR= 512

Ha..ha.. sederhana, bukan?

Hoam.. kantuk yang tadi saya kira menyingkir karena teriakan saya kembali datang, ternyata dia pergi untuk kembali dengan kemampuan yang lebih besar.
Selamat tidur,, semoga Allah mendekatkan semua rahasia dengan jawabannya. Amiin..

puzzle 5

“apa kamu masih ingat kriteriaku dulu?”
Aku diam.. mencoba mengingat-ingat  rincian poin yang pernah disampaikannya.
“kriteria setelah memenuhi syaratkan?” aku mencoba mengalihkan sebab hanya beberapa yang berhasil kuingat.
“tentu saja.. syarat itu tak bisa diusik lagi” jawabnya cepat.
“hm.. pintar” tebakkan pertama yang kuyakin benar.
“ya.. apa lagi?”
Kembali otakku melakukan pencarian.
“hitam manis..” ujarku terkekeh,, aku masih ingat penjelasannya mengenai poin ini, dia bersikeras tidak mau yang berwarna terang sebab tak pernah ada ‘white sweet’ ujarnya,, yang ada Cuma ‘black sweet’ dan itu yang dia mau.
“benar.. kemudian?”
“hm.. beri aku bocoran” jawabku setelah lama terdiam.
“aku pernah berkata bahwa aku tidak mau lelaki kaya, lelaki yang dalam hidupnya serba ada.. aku ingin lelaki yang tau makna kata bersabar ketika keterbatasan mengekang keinginannya. Aku ingin dia yang terbiasa berjuang untuk mendapatkan apa yang dia butuh”
Aku mengangguk tipis,, ya.. dia pernah berkata seperti itu.
“lalu..?” aku mengakhiri paragraf pembuka.
“dia sepertinya dari keluarga itu” kembali otakku mencerna kata ‘itu’ sembari menyesuaikan dengan intonasi yang baru saja digunakannya.
“apa kamu ragu? Apa dia melanggar kriterimu karena orang tuanya kaya??”
“aku hanya tidak ingin dia menganggap rendah keluargaku”
“apa dia seperti itu?” tanpa jeda aku bertanya
“mungkin tidak.. lalu bagaimana dengan keluarganya? Aku sungguh tidak terima jika orang tuaku dipandang rendah hanya karena perkara harta” ada letupan emosi disana.
“ayolah.. tidak semua orang kaya seperti itu, pun.. apa kamu yakin dengan penilaianmu?”
“he..he.. tapi jika yang terjadi sesuai dengan  bayanganku, maaf saja.. tidak akan sulit mengakhiri semua itu demi orang tua”
“disaat kebanyakan perempuan menginginkan laki-laki kaya.. kamu malah menghindari” gumamku tak percaya
“aku ingin rumah tanggaku berdiri sendiri, aku ingin kami mandiri dengan uang dari hasil keringat kami” dia menghela nafas berat. “kamu tau bagaimana cara elang mengajarkan anaknya terbang dengan gagah..?”
“bagaimana?”
“dia akan melemparkan anaknya dari atas tebing tinggi, sesaat si anak merutuki  ibunya tapi tak henti berharap bahwa kaki kokoh ibunya akan segera membawanya kembali kesarang. ketika permukaan tanah semakin jelas,, saat itu dia berusaha mengepakkan sayap kecilnya, berhenti berharap pertolongan akan dan ternyata dia berhasil”
“lalu.. apa keputusanmu selanjutnya?”
Lama dia terdiam
“entahlah..”
Kembali aku tersenyum mendapati teman baikku terdengar gamang.
“jalani saja dulu” ujarku sebelum mengakhiri pembicaraan.. aku harus segera mengajar karena bel pertukaran jam sudah berbunyi.

Belacak

Rencana awal.. sebulan ini gak akan nulis selain pembahasan ekonomi, tapi apa daya.. sesuatu dalam kepala terus saja berlompatan ingin keluar, yang kalaupun tidak dishare  tak apa sebenarnya.

Dua tahun yang lalu, tepatnya januari 2011. Saya pergi melancong ke pulau sikerei (tau donk daerah yang saya maksud?) yuph.. mentawai atau lebih tepatnya saya berkunjung ke siberut selatan.. menempuh perjalanan laut semalaman, bersama badai yang membuat saia tidak ingin tidur tapi malah nyenyak tertidur dibuaian gelombang. (beda lho ya)

Nah.. pembukaan selesai, kita masuk alasan utama mengapa saya merubah sedikit rencana awal tahun: semua itu tidak lain karena saya menemukan ikan yang sama ketika saya bermain di bakau pinggir pantai siberut selatan, ikan ini hidup bertahan hidup didarat dan malah ada yang memanjat bakau.. maka percayalah, bahwa banyak hal unik yang belum kita ketahui didunia ini 

Nama makhluk unik ini (ternyata) belacak, atau tembakul (juga boleh). Yang saya temui itu berukuran jari, mulai dari kelingking sampai telunjuk.. (jempol gak termasuk ya.. kecuali tu belacak mengalami obesitas) berikut gambar yang didapat dari mesin pencari (sebab semua arsip foto saya ‘pergi’ bersama almarhum harddisk) 










eureka...!!!

nah.. ini dia yang membuat otakku keriting berlipat-lipat sejak tahun lalu (desember 2012- januari 2013), 
Tingkat utilitas yang diperoleh Ardila dari minum teh manis adalah U=9X2- X3, dimana U adalah Utilitas dan X adalah jumlah es teh manis yang dikonsumsi (satuan per unit = gelas).
1.   Utilitas maksimum akan dicapai Ardila apabila mengkonsumsi es teh m,anis sebanyak 6 gelas.
2.   Utilitas marginal akan maksimum saat konsumsi es teh manis sebanyak 3 gelas.
3.   Pada saat gelas ke-9, utilitas bernilai 0.
4.   Law of diminishing marginal utility mulai berlaku pada saat konsumsi sebanyak 4 gelas.

akhirnya pada jam 10.15 WIB tanggal 08 januari 2013.. eureka...!!!