menjelang
pergantian hari..
malam
larut dalam nafas teratur mereka yang tertidur disebelahku, hari ini aku kecewa,,
meski sahabatku pernah berkata bahwa kecewa itu jangan ditulis dan kalaupun
hendak ditulis maka tulislah pada secarik kertas untuk kemudian diterbangkan
bersama angin sore menuju laut. Ah.. sungguh hari ini aku berada diposisi yang
tidak bisa dibilang nyaman. Aku tersudut, antara menolong dan menggolong. Entahlah..
aku bahkan tidak ingat bagaimana kisah ini bermula, tapi yang pasti kuingat..
kisah ini harus berakhir sekarang. Besok aku tidak ingin lagi berurusan dengan kisah
cinta orang-orang dewasa yang rumit.. biar cintaku kelak sederhana saja, yang
bermula dari pernikahan dan rehat sejenak pada nafas terakhir dan kemudian
dilanjutkan lagi...
Aku bertemu
dengannya siang itu, hari liburku. Kami habiskan hingga petang dengan bertukar
cerita, sebenarnya bukan bertukar tapi aku lebih banyak mendengar kisahnya yang
kupikir menyenangkan. Tak perlu dia tau kisah-kisah sederhana milikku, dia tak
akan terkesan. Kali itu dia bercerita tentang seorang pria yang dipanggilnya
uda. Senyumku tak lepas dari rona merah jambu diwajahnya, cinta tengah bermain
dihatinya. Aku turut bahagia, meski tidak yakin bahwa bahagiaku sebahagia dia.
“kami
break” ucapnya selang beberapa waktu kemudian,
“kenapa?”
jelas terdengar intonasi-ku takpercaya
“aku
ta’aruf dengan seorang laki-laki lain yang mungkin tidak perlu menjanjikan waktu
3 bulan” setengah tak percaya kudengar kalimat itu.
“apa
uda kakak tau?” tanyaku hati-hati
“ya..
beliau tau dan mengizinkannya, sekian tahun aku menunggu.. masa harus menunggu
lagi” renyah suaranya terdengar.
“apa
tidak sebaiknya ditunggu kejelasannya? 3 bulan itu tidak lama..”
“itu
lama..”
Aku diam
“dan
sekarang aku tengah ta’aruf..” kembali dia bersuara.
***
Seminggu
kemudian aku dikabari bahwa prosesnya berhenti dengan beberapa alasan dari
pihak laki-laki. Ah,, aku kasihan mendapati niat sahabat baikku belum terwujud.
Maka kutawarkan diri menjadi mediator dalam hubungannya dengan si uda yang
sempat terputus beberapa lama. Sungguh aku tidak punya niat lain.
Kumulai
komunikasi lewat pesan-pesan di jejaring sosial, hingga akhirnya beliau meminta
nomor Hp-ku, keberatan awalnya tapi kembali niat kuluruskan.. bahwa ini semua
demi sahabatku, seorang kakak yang banyak hal kupelajari darinya. Komunikasi berpindah
ke pesan singkat. Misiku bermula, meski ditengah jalan aku sempat hendak berhenti sebab beliau terkategori
cerewet untuk ukuran teman laki-lakiku.. untuk apa bertanya banyak hal
tentangku, hingga malah meragukan keseriusanku dalam berteman, tapi kembali
niat kuluruskan lagi: Aku hanya akan berhenti ketika memang semua sudah jelas.
Siang
itu,, ditempat kerja beliau menelponku, menjelaskan jawaban dari pertanyaan
dasar mengapa hubungan ini bermula: “masihkah beliau mau melanjutkan hubungan
dengan kakakku”. Beliau memilih kata dengan hati-hati, beretorika yang
membuatku sedikit bosan..
“jadi
intinya tidak mau?” kupotong saja kalimat panjang miliknya,
“kamu
orangnya to the point ya?” kudengar dia tertawa.
“bukan
tidak mau, tapi abang hanya tidak ingin menyakitinya, kesalahan abang sendiri
yang tidak mampu menerima apa adanya..” dan bla..bla..bla.., aku sudah lupa apa
penjelasannya tapi aku tidak mungkin lupa bahwa dia ‘menolak’. Itu saja.. dan
kupikir misiku berakhir meski tidak berhasil.
“tolong
va jangan cerita ini,, abang tidak ingin menyakitinya”
“hm..
apa untungnya bagi va bercerita” kupikir aku tidak me’iya’kan dan juga tidak me’tidak’kan..
Pembicaraan
kami berlanjut, entah kemana hingga akhirnya beliau berkata bahwa aku termasuk
dalam kriterianya.. apa ini..!!! aku sungguh ingin segera keluar.
Petangnya
kuterima kembali pesan darinya
“boleh
ya abang minta fotonya” aku tersedak, mengerjap dan berharap aku salah baca.
“gak”
singkat kujawab
“kenapa?”
Aku diam
“kok
gak dibalas?”
“abang
tau alasannya”
“tidak,.
Coba jelaskan alasannya”
Muakku
memuncak, dia yang paham agama.. yang menceramahiku sepanjang siang tadi
tiba-tiba meminta fotoku dengan enteng.
“malas
mengajari tentara berbaris” balasku cepat
“maaf..
maaf abang lancang”
Phufft..
emosiku sedikit mereda ketika kudengar suara motor teman-temanku dihalaman, ‘akhir
pekan dimulai’ bisikku pada diri sendiri.
Malam
menjelang ketika mereka kembali mengantarku pulang, dan ketika kulihat hp,,
beberapa pesan masuk dan nyaris semua darinya.. meminta izin kembali untuk
menelpon dan tidak kuberi. Ada seseorang yang ingin kuhubungi dan itu bukan
dia.
***
“tenang,,
kakak gak akan bawa-bawa nama va” ucapnya ringan, ketika aku keberatan dia menghubungi
si uda cuma untuk menyatakan kekecewaan.
“untuk
apa lagi.. semua sudah jelas” kucoba meyakinkan
“va
gak tau betapa sakitnya,, betapa sakitnya ketika dia main hati” ada bulir
bening menggarisi wajahnya. Aku kehilangan kata, ternyata ada banyak hal yang
sembunyikan dariku.
“’bukankah
kalian putus komunikasi?” kataku setelah lama terdiam
“dia
memohon untuk melanjutkannya lagi”
“kenapa
kakak tidak cerita? Kan va gak perlu mendekatinya untuk tau dia masih mau
melanjutkan hubungan atau tidak” aku mulai kecewa
“itu
tidak penting lagi, terima kasih sayang.. ternyata dia tidak baik”
‘aku dijadikan umpan?’
hatiku berbisik pelan tepat ketika sebuah pesan singkat bertuliskan bahwa dia
kecewa, dia tidak menyangka bahwa aku tidak amanah, kalau dia ingin menyakiti
hati kakakku, dia tidak memerlukanku untuk melakukannya.
“sudahlah
kak,, kak sudah janji tidak akan melibatkan va, kalau sekarang reaksi kak
seperti ini.. dia akan mengira va mata-mata.. sungguh niat awal va bukan
seperti itu, ayolah kak.. hentikan” entah intonasiku seperti permohonan.
“tidak
bisa, dia harus tau bahwa kak terluka, dia menyakiti kak, dia selingkuh”
suaranya serak
Andai
malam ini dia tidak jadi tamu dirumahku, maka sudah kutinggalkan dia sebelum
emosiku memuncak.
“dia
akhirnya akan tahu bahwa va dalang ini semua..” ucapku pelan
“tidak
apa” aku terpukul mendengar ucapannya, tidakkah dia mengerti apa yang kumaksud..
tidakkah dia paham bahwa saat ini aku tersudut menerima forward pesannya untuk si
uda, bahwa makiannya untuk si uda juga kuterima.
“tapi
apa yang dia pikirkan tentang va?”
“hah..
jadi va cemas tidak bisa lagi chatingan dan sms’an dengannya?” kaliamat tanya
yang tidak pernah kusangka.
“kak,,
kehilangan dia tidak akan berdampak apa-apa, va punya banyak teman laki-laki yang
menyayangi va tanpa syarat va harus mengirim foto, tanpa va harus mau ditelpon.
Tanpa apapun” suaraku mulai meninggi.
“akui
saja.. va takut?” tidak menyangka bahwa kakak yang kusayang akan meragukan
hatiku.
“kak
tau kan, va punya riky yang setia mendengarkan omelan va, va punya sayid yang
selalu ada, va punya bayu yang penuh semangat, va punya edo yang kak kagumi, va punya bang
ardi yang dulu pernah bertemu kak ketika menjemput va waktu gempa? relfi, arif,
yendra, b’indra, rahmat, jefri, yogi, andrian, alif, arie yang mereka bahkan
tidak pernah mengeluh jika va repotkan..” kusebut nama sebagian teman
laki-lakiku dari yang dia kenal hingga yang tidak.
“va punya
mereka,, dan kehilangan uda kak tidak berdampak apa-apa untuk aktivitas va” kututup
dengan senyum dipaksa.
Dia bergeming,
seolah tidak mendengar pembelaanku.
“ky..”
kukirim pesan singkat pada sahabatku yang jauh dipulau sana. Dan sesaat
kemudian kuterima balasan darinya..
“va
emosi..” kembali pesan itu dilaporkan terkirim, dan setelah itu aku sibuk
dengannya sembari membaca pesan dari si uda yang merupakan forward menyakitkan
dari kakakku tersayang.
“ana
sedang di kos va saat ini, lebih dari cukup bukti-bukti chat dan sms.. ternyata
akhy jago juga. Semoga puas” dan tak lama “dan semoga va juga puas..!!” lagi
pesannya masuk.
“sudahlah..
yang penting niat awal tidak seperti itu, diamkan saja.. karena kalau
ditanggapi pun, semua tidak akan lebih baik” pesan kesekian dari riky.
Aku setuju,
biar ini jadi kenangan saja.. bahwa mereka dengan label apapun belum tentu
dapat dipercaya.. bahwa aku dengan usia setua ini masih bisa dijadikan umpan yang
lezat.
“hmm..
rumit sekali cinta orang dewasa ^^” kuakhiri pesan dengan riky,, malam sudah
sangat larut.