L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

" Alif "


Baiklah.. akhirnya kubuatkan kamu sebuah surat lif.. surat terbuka yang aku yakin akan segera kamu baca,,

Maafkan aku (entah untuk kali keberapa). Maafkan aku karena telah membajak kebahagiaanmu, maafkan aku karena mengisi hari-harimu dengan rasa sakit setiap kali kerinduan itu dibunuh.

Berhentilah..

Sebab hanya akan melukaimu (dan juga aku). Cinta itu tidak rumit,, seperti yang sering aku dengungkan,, cinta itu sederhana lif. Aku tidak tahu bagaimana, tapi perasaan adalah perasaan: semakin kamu biarkan dia, semakin dia menguasaimu. Jadilah tuan untuk dirimu sendiri lif. Mungkin kamu akan berkata bahwa aku tidak mengerti, atau kamu katakan bahwa hanya Dia yang bisa menghentikan semuanya. Tapi tolonglah lif.. tolong jangan bebani aku dengan rasa bersalah, jangan buat aku merasa telah memadamkan dian yang kamu nyalakan petang itu.

Berbenahlah..

Simpan hatimu untuk seorang yang kelak bersedia jadi ibu bagi anak-anakmu, tata lagi dengan rapi semua yang mungkin pernah kuacak disana. Ayolah,, aku tidak ingin membuat bidadarimu nanti mencemburuiku. Dan jika dengan meninggalkanku (atau aku meninggalkanmu) adalah langkah terbaik, maka jangan ragu.. dan jika berat bagimu melakukannya,, biarkan aku.

Jika setelah ini kamu membenciku, tidak apa.. sebab setiap kisah selalu memiliki dua sisi, bukan?



Cs'an

Mengenal mereka akhir tahun.. ketika nasib mempertemukan kami di sebuah bimbingan belajar. Kami bukan sebuah ‘geng’, pun bukan sebuah kelompok kecil.. kami hanya merasa ada kesamaan kebutuhan, kepentingan dan kemudian keinginan.. hahaha,, terserahlah apapun namanya dan apapun penjelasannya.. nyatanya sekarang kami lebih sering berbagi cerita, berbagi weekend, termasuk berbagi es krim..


Orang pertama yang kukenali adalah diriku sendiri.. seorang yang cuek dan lebih sering ditoleransi karena jadwalku yang padat. Orang kedua adalah dewi,, jum’at siang kami bertemu.. orang ketika adalah anaknya bu yosa,, bertemu hari sabtu dan langsung kusadari betapa cerewetnya dia. Dan akhirnya kutemukan yuli.. ketika ujian tertulis di ITB 02.

Perjalanan pertama kami dimulai ke parak karakah.. aku baru tahu daerah itu ketika mencari bakso rasa soal kesana, dan dengan perut kenyang, kami masih saja disuguhi kue basah dan kue panggang.. benar-benar perjalanan rasa yang membuatku ingin mengeluarkan isi perut disepanjang ‘tapi aia’.. sungguh sangat kenyang.

Ah.. kebersamaan yang berhasil mengusir bosan akibat padatnya jadwal pekerjaan.. bersama berburu es krim, berburu baju batik, berburu waktu (antara jadwal kosongku dengan jadwal mengajar privat yang lain).

Masih ingat candle light dinner kita? Mujahidah es krim? Atau laskar pelangi?? Hahaha,.. moment yang membuat kita menyadari betapa konyolnya Cs’an. Ayo tebak,, kemana lagi loncatan kodok kita teman??

Gerimis

Mendung menggelayuti langit kota ketika adzan maghrib membawa langkahku kesebuah mushalla. Beberapa jamaah telah bersiap dengan mukena rapi.. berdiri disepanjang sajadah sambil sesekali melirik kiri-kanan. Aku segera berwudhu, tidak ingin tertinggal meski satu ruku’pun.

Selepas shalat aku langsung menuju tempat yang dituju, sebuah toko buku bertingkat tiga di jalan pemuda. Ada beberapa buku yang sedang kucari untuk tugas akhir kakakku. Langkahku sempat terhenti ketika informasi aroma sate dipinggir jalan sampai di otakku,, perutku berbunyi. Ah,, nanti saja pikirku dan meneruskan langkah.

Mendekati pukul 9 malam, aku masih belum menemukan buku yang kucari. Toko buku mulai sepi, beberapa orang mulai beranjak pulang mumpung hujan sudah sedikit reda. Kuputuskan juga untuk pulang.. tak ada gunanya aku berlama-lama disini.

“dilla?” sapa seseorang

Aku menoleh segera “ya?”

“kamu pasti sudah lupa denganku,, sudah lama kita tidak bertemu”

Bagaimana aku bisa lupa dengan mata itu, mata yang sempat menghanyutkanku. Bagaimana aku bisa lupa dengan tangan itu, tangan yang membuatku sangat ingin menyentuhnya.

“aku ingat” jawabku singkat, dan dia mengambil tempat disebelahku, sedikit jarak. Aku tidak suka situasi ini, situasi dimana hanya ada aku dan dia di halte lengang serta gerimis yang melambat ketika melewati lampu jalan.

“apa kabarmu?” suara beratnya kembali terdengar. Apa yang harus kujawab? Apa aku harus berkata bahwa aku masih merasa sakit ketika tanpa kabar dia menghilang.

“baik” satu kata yang membuat suasana beku..

“maaf tidak datang wisudamu, dimana kerja sekarang?”

Aku meliriknya lewat ujung mata, mengukur seberapa penyesalan yang ada ketika dia mengucapkan kata maaf. Tapi yang kudapati adalah tubuh kurus dengan wajah tirus.. dan baru kusadari,, dia berbeda jauh dengan terakhir kali kulihat.

“kamu sehat?” sedikit menyesal kalimat itu terlontar. Apa peduliku..!.

“alhamdulillah..” jawabnya tersenyum.

Hening sejenak, dan sebuah angkot menepi.

“aku duluan” tanpa menoleh aku meninggalkannya.. malam membawa kembali dia padaku, dia yang harus punya alasan mengapa tiba-tiba menghilang.

*bersambung

Djakarta


Kembali kota itu menjadi bayang-bayangku hari ini.
Baru saja abi menawarkan (baca: memberitahukan_red) bahwa jadwal ujianku kemungkinan pertengahan april,, dan kau sudah bisa menebak lokasinya bukan? Yaph.. tebakanmu tepat apabila berkata: jakarta.
Kota sumpek.. kota polusi.. kota yang nyaris tenggelam.. dan disana nanti aku ujian.
hm.. apa menariknya kota itu..!!!

Red Maple

setelah teratai.. aku ingin menanamnya.. meski kutahu, daerahku hanya dua musim.






Konspirasi

Suatu sore.. dalam perjalanan pulang kerja, seseorang menepuk pundakku pelan.
“kakak?” sapanya ragu.
“hae.. citra?” aku terlonjak tak percaya, gadis kecilku kini menggendong seorang bayi kecil.
“apa kabar?” lanjutku lagi..
“alhamdulillah sehat kak.. kakak gimana?”
Cerita kami berlanjut tentang aktivitas setelah lulus sekolah menengah atas. Ternyata setahun yang lalu dia menikah setelah menamatkan D3 bidang kebidanan.
“kapan kakak menyusul?”
“haha.. secepatnya, insyaallah” ringan kujawab namun berat kurasakan.
***
“buk... bilo baralek?” seseorang bertanya lewat obrolan disebuah jejaring sosial
“siap rayo aji.. hahaha” jawabku sekenanya, tapi mengena dihatiku sendiri
***
“assalmu’alaikum..” semangat kujawab telpon salah seorang kawan lama. Sudah lama kami tidak berkomunikasi,,
“chipep menikah tanggal 25 besok, sudah dapat kabar?” ujarnya setelah bertukar kabar
“belum..”
“masih lama, mungkin dalam minggu ini kamu dapat undangan,, heheh..by the way  lisa udah punya dua lho..” aku tersenyum.. hafal dengan lanjutan pertanyaan tersebut.
“iya.. dan kamu masih satu.. kapan nambah?” berusaha mengulur waktu.
“untuk sementara cukup.. kamu kapan promosi jabatan?”
Phufft.. akhirnya pertanyaan itu datang juga
“haha.. entahlah”
“ayo.. apalagi yang kamu tunggu? Kuliah udah.. kerja udah..  nunggu apalagi?” desaknya.
“nunggu dia datang”
“siapa dia?” burunya bertanya, dan kujawab dengan tawa
“hm.. dari dulu kamu gak berubah. aku yakin dia belum ada, kapan kamu mulai mencari?”
“haha.. tau aja loe,, nyari?? Aku gak sempat” jawaban yang kurang tepat.. sebab sejurus kemudian kawan lama tersebut sudah berpetuah sepanjang waktu yang telah kami lewati sendiri-sendiri. Beruntung kemudian putrinya menangis sehingga aku selamat.
***
“eh.. kapan pulang?” sapa wanita paruh baya yang berkunjung kerumahku
“baru sampai mak wo.. mak wo sehat?”
“alhamdulillah.. batuk sedikit” jawab beliau dengan pandangan yang tidak kumengerti.
Sesaat setelah mak wo tersebut pulang, ibu menemuiku sambil tersenyum tak jelas.
“ada apa bu?” penasaranku bertanya.
“mak wo tadi.. menawarkan anak bungsunya” giliran aku yang tersenyum,, dipaksakan.
“sudah waktunya memikirkan hal itu nak.. sudah berapa umurmu sekarang”
“masih jalan 25 ibu..” aku sedikit merajuk,,
***
Phufft.. konspirasi macam apa ini,,

puzzle 6

Akhir pekan dimulai..

Rabu kali ini berbeda dari biasanya, aku yang setiap kamis dapat jadwal ‘dinas’ keluar kota untuk kali ini diizinkan libur.. cihuy,,aku suka dengan bibir sedikit pucat akhir-akhir ini..

“hei.. besok aku libur” tulisku antusias pada sahabatku.

“mau ketemuan?” retoris itu kuterima.

“dimana kita bertemu besok?” kembali pesannya muncul setelah lama tidak kubalas.

“ditempat biasa.. aku ingin es krim”

**

Aku sampai 5 menit sebelum janji.. tidak biasanya aku seperti ini.. tapi temanku itu adalah makhluk paling cerewet masalah waktu. Dia akan ngomel panjang jika aku membuatnya menunggu meski itu Cuma beberapa menit. Tepat seperti janji, dia melewati pintu depan dengan jalan tergesa. Seperti biasa..

“wow.. sejak kapan kamu mengenakan warna merah jambu?” godaku ketika mendapatinya dengan jilbab merah jambu dan baju kotak-kotak berpayet.

Dia cuma tersenyum, banyak berubah.

“tapi sayangnya jalanmu masih seperti dulu,, apa yang mengejarmu sehingga harus berjalan secepat itu”

Kembali senyumnya mengembang.. kali ini lebih sempurna

“waktu” jawabnya masih dengan senyum yang tadi.

“baiklah.. aku sudah pesan dua”

“bagaimana kabarmu?” dia bertanya kemudian

“haha.. jarang sekali kudengar tanya itu darimu” pancingku,, sungguh aku rindu serangan balik darinya.

“mulai sekarang akan sering..” singkat saja

“aku baik..” jawabku makin singkat,, sungguh dia berbeda akhir-akhir ini,, lebih tenang.

“cantik jilbabmu sekarang?”

“haha.. jika kamu berniat mengatakan bahwa makin pendek,, percuma saja..  sudah banyak yang berkomentar seperti itu”

“he.. tidak, selama kamu nyaman” phufft.. nyaris dia tidak kukenali.
Pembicaraan kami berlanjut kemana-mana, tentang pekerjaanku, tentang aktivitasnya, dan akhirnya tentang dia.. setelah lama mencari celah untuk bertanya hingga gelas es krimku kosong.

“baik-baik saja” jawabnya diplomatis dan aku mulai tidak menyukai sikap tenangnya.

“he..he.. jangan memasang tampang seperti itu,..” ujarnya yang akhirnya menyadari kekesalanku.

“komunikasi kami baik”

“masih setiap akhir pekan?” tanyaku lagi

“tidak.. sejak dulu aku tidak ingin pacaran, pun aku tidak ingin seperti pacaran.. jadi biar kujaga hatiku dan biar juga dia menjaga hatinya”

Aku belum mengerti arah pembicaraannya “apa maksudmu ‘break’?”

“haha.. kami tidak punya ikatan apapun selain pertemanan,, mana ada istilah ‘break’?”

Aku manyun,, berfikir..

“ha... aku ingat,, dia pernah berkata bahwa kalian tidak ada ikatan apa-apa hingga dia menjumpai orang tuamu, benar?” dia mengangguk

“dan, hingga dia kerumahmu,, komunikasi kalian seperlunya saja?” kembali dia mengangguk.

“apa dia setuju?” dia tersenyum lagi

“tidak usah sering senyum.. aku masih normal” kesalku kembali datang.

“tentu saja dia setuju, meski aku tidak menjelaskan alasannya, kurasa dia paham”

Phufft..

“kalian aneh..” ujarku sebelum beranjak memesan segelas es krim lagi.

“aneh dimana.. aku selalu tidak setuju dengan konsep ‘minta ditunggu’, ‘berjanji sekian waktu’, dan apapun itu. aku percaya bahwa jodohku ada meski tidak tau sekarang dimana, biar kusimpan rasa penasaran padanya hingga nanti pernikahan menghalalkan semuanya. Aku tidak ingin banyak bertanya,, biar jadi misteri saja hingga waktunya tiba. Sungguh aku ingin dia tapi aku tidak ingin mencampuri rencana-Nya.. Dia tau segala yang terbaik untuk kami” diam sejenak “kamu mengerti?”

Terpana.. sedewasa inikah temanku kini? Aku ingat setiap potong ceritanya, setiap rengekan bungsu miliknya, setiap bimbangnya..

“ya..ya.. aku mengerti” ringan kujawab

“aku cuma belum mengerti.. apa yang membuatmu berubah secepat ini?”

“waktu” jawabnya kemudian tertawa.