L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

(don't) be original


Aku memutuskan untuk menjadi perempuan, ah.. jangan kau tanyakan makhluk apa aku sebelum ini, akupun ragu untuk mendeskripsikannya, tapi baiklah_ biar kucoba.

Aku terlahir sebagai muslimah, telah sejak lama juga kugunakan hijab untuk auratku, tapi point pentingnya adalah aku jauh dari kata anggun, aku adalah jenis manusia yang suka berlari, rasanya aku bisa menghemat waktu dengan berlari, sampai-sampai menaiki tanggapun aku berlari, pernah di gedung kampusku yang empat lantai, aku lomba lari dengan seorang teman untuk naik dan turun tangga_ dan kau pasti sudah tau siapa pemenang untuk mendapatkan seplastik gorengan itu: yaph.. tentu saja aku. Tapi berita baiknya adalah aku tidak suka bola kaki, jadi kau tidak akan menemukanku di lapangan hijau ketika sore di kampungku.

Deskripsi lain tentangku adalah: aku bukan jenis manusia yang suka berteman dengan banyak orang, meski bisa cepat akrab dengan siapa saja tapi mereka kukategorikan, kuberi label setiap nama untuk besaran lingkaran yang kuberikan, dan sayangnya lingkaran-lingkaran temanku kebanyakan laki-laki, perempuan? Tentu saja ada tapi cuma sedikit sebab aku tidak mengikuti perkembangan ke’cewek’an dizamanku, mana kukenal dengan artis korea? Dengan boyband-nya yang suka berdandan, aku juga kurang update tentang mode, gossip, dll. Dan yang terpenting, mereka jarang connect jika aku berceloteh tentang anime one piece, fairy tail, SAO, dll.. (yang hari ini sudah kuhapus dan kubuang semua)

Ah,, sudahlah_ yang jelas aku jauh dari sosok perempuan idaman, yang punya pandangan teduh, yang keibuan, yang anggun, yang apapun yang kata teman-teman laki-lakiku adalah kriteria terbaik untuk ibu dari anak-anak mereka, apa peduliku (ketika itu)..!

Namun hari ini, aku memutuskan untuk menjadi perempuan, mengurangi tawa terbahak-bahak (meski haftsah binti ‘umar seperti itu), mengurangi volume suara (kebiasaan berebut bicara dengan teman-teman, mana bisa menyaingi suara bass mereka kecuali dengan teriakan), mengurangi aktivitas lari-lari gak jelas, belajar untuk anggun dan keibuan (Aamiin…..), dan hal lain yang diperlukan.

Dan hari ini, aku memakai pashmina ungu, kupikir cantik tapi seseorang mengatakan bahwa hijabku seperti taplak meja (golok mana golok..) dan kuhabiskaan banyak waktu untuk memakainya sebelum berangkat kerja tapi seseorang mengatakan aku mirip ibu-ibu. Awalnya “benarkah? Mirip ibu-ibu arisan? Mirip ibu-ibu mau pergi kondangan?” pelbagai kesimpulan menari tanpa nada diotakku hingga akhirnya satu kutangkap dan kupegang kuat “ya jelas mirip ibu-ibu kan ya? Kalo bapak-bapak mah gak pake pashmina atuh” (kenapa bahasa sunda???)

Hm.. memang ya, tidak mudah menjadi perempuan, bahkan ketika aku sudah benar-benar berniat untuk menjadi perempuan versiku. Kembali kata-kata seseorang muncul untuk dipertimbangkan: “Adalah konyol memaksakan diri menjadi orang lain setelah ‘hijrah’ dengan berjilbab. Alangkah sunyi dunia jika semuanya seragam, biarkan semuanya sesuai karunia karakter yang Allah lekatkan pada diri kita, maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nushaibah binti ka’ab yang melindungi Rasulullah kemanapun beliau bergerak dalam perang, akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti ummu Hani’ binti Abu Thalib. Akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti ‘Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah. Akan tetap ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah.. jilbab bukan lakon sandiwara yang membuat kita harus jadi orang lain ketika memakainya. Sekali lagi,, jangan sirnakan keunikan diri. Biarkan keindahan warna-warni itu hidup dan meronai dunia dengan pelangi akhlaq.

lucu2an

Salahnya dimana, coba???




Good answer, isn’t it..!



meluncuuuuurrr




Human-cross




Gantung diri.. gak dapat ujian broer

"mayday mayday mayday"

Aargh_ sungguh hari ini perutku cari perhatian, sejak semalam tidak sepicingpun aku tertidur, kulewati gelap dengan bunyi pluit dan lomba lari didalam sana, entah apa yang terjadi. Tiba-tiba aku terbangun dan bergegas ke toilet, hal tersebut kulakukan berulang kali hingga adzan subuh menyapa. Sejenak kutemui Dia yang memanggilku lewat fajar yang menggaris dilangit timur, kemudian kucoba untuk tidur setelah meminum obat yang diberikan ibuku,, tapi tak lama sebab aku harus bergegas ke kota bengkuang untuk menjemput rizki disana.

Syukurlah diperjalanan, lomba lari disepanjang usus-ususku berhenti dan semoga sudah berakhir. Sampai di tempat kerja,, terdengar permintaan dari dalam sana, mungkin lambungku baru menyadari bahwa sejak sore kemaren dia belum mendapatkan apa-apa. Aku segera ke warung terdekat, memesan soto agar sedikit hangat. Sesuap dua suap, nikmat. Tapi ketika mataku mulai jeli mengenali isi mangkuk,, ada yang mengambang disana, kulihat lebih seksama_ ada makhluk malang yang mengapung dengan warna coklat tua. Aku mengenalinya sejak lama,, tragis sekali nasibnya karena harus berakhir dipiringku. Aku mulai mual,, membayangkan lalat dewasa itu bermakam di sotoku,, kubalik sendok dan kutemukan kembarannya juga mengapung berdekatan. Ah.. sepertinya aku harus mengucapkan belasungkawa kepada ibu mereka..! tapi sebentar,, mataku mengenali sosok lain yang ternyata adalah ayah, ibu dan adik perempuannya. Sempurna..! satu keluarga lengkap bersemayam didalam piringku.

Tidak perlu waktu lama, entah itu perintah otak atau perintah tulang belakang, semua isi lambungku bergegas keluar seolah ada tanda bahaya dengan volume penuh terdengar didalam sana.

Aku menyerah_ membiarkan lomba lari di usus dan sirene di lambung. 

Merapi-Mahameru-Bromo

“Jangan ke mahameru” ujarnya datar

“baiklah, ke semeru saja” jawabku masih mencoba.

“sama saja” masih dengan intonasi  gak-boleh-ditawar

“hm.. bagaimana dengan merapi? Kan lebih ramah daripada singgalang?” aku langsung banting harga, jelas-jelas tidak akan dapat izin ke gunung tertinggi di pulau jawa tersebut.

“tidak”

aku nyaris tidak melihaat celah ‘iya’ dari topik ini, jadi dengan berat hati kubungkus lagi keinginan yang sejak lama kusimpan diam-diam, tapi kali ini bungkusan itu tidak untuk kusimpan, tapi untuk kumusnahkan, bagaimanapun caranya. Aku ingat dulu, ketika seragam baru berganti dari putih-merah,, seorang kawan kelas mengajakku kelereng merapi, sungguh_ tidak kepuncaknya. Hanya kelerengnya saja untuk melihat edelweis, dan saat itu aku tidak mengantongi izin. Seragamku berganti jadi putih-abu2, pun izin itu belum berhasil kukantongi ketika sekelompok kawan mengajak kepuncak merapi saat akhir tahun. Tidak berhenti sampai disana, aku masih mencoba membujuk kedua orang tua agar membolehkanku mendaki bersama teman-teman kuliah. Dan hasilnya masih sama.. aku tidak mendapatkan legalisasi untuk berangkat. Dan sejak saat itu, diam-diam kusimpan ingin dalam otak belakang, hanya muncul di alam bawah sadar, sembari masih berharap agar nanti, seseorang yang bertanggung jawab atasku memberi izin untuk pergi (bersamanya) kepuncak tertinggi dipulau jawa. #hadeh,, merapi ke mahameru

“tanggung jawabnya berat, banyak hal yang harus diperhatikan sebelum berangkat” katanya setelah aku terdiam cukup lama

“ya, tidak apa” entah seperti apa nada suaraku ketika mengucapkannya.

“apa kamu sangat ingin pergi?” tanyanya untuk pertama kali.

“iya,, jika diizinkan”

“bagaimana kalau ke bromo?”

Aku tersedak oleh nafasku sendiri, bromo? Lelucon macam apa yang sedang dimainkannya untuk menghiburku yang tengah mencincang ‘ingin’ itu. Apa dia tengah menjanjikan kaldera? Kawah eksotisnya? Atau pesona matahari terbit disana?

“bromo?” ulangku tak percaya

“iya, bromo.. insyaallah”

Ah.. aku selalu suka kata ‘insyaallah’, sebab lebih menjanjikan daripada sekadar kata ‘iya’, tapi anehnya aku tidak ingin lagi.. sungguh_ kali ini aku tidak ingin lagi melakukannya, mungkin aku sudah berhasil membunuh ‘ingin’ itu sebelum mengantongi izin untuk mewujudkannya.

Tapi terimakasih.

puisi terakhir*

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza,
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
 *Soe Hok Gie

CosMos

Entah sejak kapan aku tertarik dengan aneka bunga, dulu satu-satunya bunga yang berhasil menarik perhatianku cuma teratai, siklusnya yang menurutku unik mampu membuatku mencari tahu tentang bunga yang mampu bertahan dibeku es tersebut. Setahuku bunga teratai akan merekah sejak subuh hingga dhuha, setelah itu mereka akan menutup kelopak mahkotanya kembali.

Kali ini aku akan berbicara tentang bunga cosmos, tahukah? Bunga asal amerika latin ini banyak tumbuh di jepang sebagai penanda awal musim gugur. Namun tidak perlu jauh-jauh ke negara matahari terbit, sebab suhu tropis juga menyediakan layanan yang baik untuk bunga dengan warna cerah ini. Dikenal dengan nama kenikir, bunga yang masih masuk dalam kelompok asteraceae ini ternyata diam-diam memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.

Mari kita singkap rahasia semesta yang dititpkan pada tumbuhan tropis ini:
Kabarnya daun dari bunga ini sudah sering dijadikan lalapan(meski aku sendiri belum pernaah mencobanya), daunnya yang majemuk ini memiliki senyawa antioksidan yang cukup tinggi, dan kabarnya lagi lebih dari duapuluh jenis antioksidan yang dikenal berasal darinya. Selain itu, daun bunga ini mengandung karbohidrat, protein, lemak, kalsium dan vitamin A. Khasiat dari daun tumbuhan ini antara lain:

a.    Sebagai obat lemah lambung
b.    Sebagai penguat tulang
c.    Sebagai penambah nafsu makan
d.    Mengobati lemah jantung
e.    Mencegah kanker


Nah_ bunganya bermanfaat untuk obat gondokan dan juga obat pembengkakan pada payudara, caranya bunga kenikir ditumbuk dan dicampur dengan cuka, kemudian dioleskan pada bagian yang sakit. Bunga ini juga mampu mengusir serangga dengan aromanya (jangan-jangan semua jenis asteraceae mampu mengusir serangga dengan aroma dan kandungannya).

Setelah berburu di mesin pencari ternyata ada bunga ini ada yang berwarna coklat dengan aroma vanila, sayangnya jenis yang satu ini sudah nyaris punah sehingga urung kugunakan untuk menggoda teman-teman yang sedang berpuasa (syukurlah).

 


Rindu


Selasa, 23 juli 2013. 11:11
Sejak semalam aku rindu pulang, rindu bercengkerama dengan ibu menjelang tidur tentang banyak hal atau sekadar bergurau didapur kecil milik kami. Rindu menyejajarkan langkah dengan ayah menuju mushala yang berjarak 50 meter dari rumah.