Hati perempuan laksana danau
kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan
Perjalanan...
Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah
Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka
ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi
Indah?
...dan surga jauh lebih Indah
Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?
Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai
Karena manisnya hidup, kita yang tentukan.
Tentang seorang lelaki muda
Bagiku yang jadi ibu rumah tangga, tanggal tidak lagi menjadi sesuatu yang harus kuingat, pekerjaanku jauh lebih penting daripada bilangan yang berjejer rapi di kalender. Tapi aku ingat tanggal 12, selasa di januari. Setelah dua rakaat subuh, aku tertidur kembali, kelelahan menghadapi anakku yang rewel semalaman. Jam setengah delapan aku terbangun mendengar suara motor yang sangat kukenal, kudapati suamiku dipintu kamar ketika membuka mata.
Atjeh
Inilah negeri yang penduduknya tergolong ramah untuk sebuah ibu kota provinsi, mereka dapat segera mengenali warga baru sambil menghadiahkan senyuman selamat datang, dapat segera akrab pada pertemuan pertama dan bertanya tentang betah tidaknya aku di kota ini pada pertemuan selanjutnya. ah.. bagaimana aku tidak betah berada di lingkungan menyenangkan, tetangga yang kerap mengantarkan makanan yang mereka buat dan tidak pernah merasa berat untuk membersihkan terasku yang dikotori oleh ayam mereka, aku saja yang merasa segan ketika mereka membawa sapu dan menarik slang air ke terasku.
inilah negeri yang beberapa tahun silam dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM), aku tidak habis pikir, bagaimana bisa pemerintah republik ini memberlakukan 'kebijakan' itu di daerah yang penduduknya taat beragama, daerah yang jangan harap bisa berbelanja ketika maghrib tiba sebab semua toko tutup hingga isya, daerah yang nyaris semua penduduk wanitanya mengenakan penutup kepala (jika menemukan perempuan dengan rambut digerai, maka boleh jadi itu non muslim atau pendatang).
inilah negeri yang beberapa tahun silam disapa gelombang besar, kata tetanggaku: "pembersihan" sebab ketika itu syariat islam sudah mulai luntur dikalangan muda, hm.. kupikir benar mengingat beberapa keajaiban yang terjadi ketika itu serta melihat kenyataan sekarang.
inilah negeri yang bagi kebanyakan orang akan berfikir dua kali untuk berkunjung kesini, hehe,, andai mereka tahu bahwa daerah ini tidak seperti yang gencar diberitakan oleh media, tidak seperti yang pernah dianggap pemerintah pusat sebagai pemberontak, mereka yang memerintah tentu lupa bahwa daerah ini pernah menyumbangkan emas dan uang sebanyak gunung seulawah untuk ibu kota negara pasca kemerdekaan, daerah ini pula yang memiliki banyak pejuang pejuang wanita yang hebat yang disamarkan dalam buku sejarah di sekolah.
inilah negeri yang sudah kutempati selama hampir lima bulan, negeri yang namanya tertera dalam kartu tanpa pendudukku kini, negeri yang seolah tidak peduli dengan kenaikan BBM, sebab harga bahan kebutuhan pokok tidak begitu berubah, negeri yang tidak peduli dengan operasi zebra dan dengan apapun yang namanya razia kendaraan bermotor, negeri yang lampu hijau bagi pengendara adalah ketika hitungan lampu merah berada di angka tiga pada rambu lalu lintas, negeri yang malamnya cepat sekali sepi untuk sebuah kota.
inilah negeri itu, salah satu dari tiga kerajaan Darussalam: Atjeh.
Mitsaqan Ghaliza
Lelakiku
Sebenarnya sekarang sudah tanggal 28 september, mendekati dua bulan pernikahanku. (ternyata aku sudah jadi seorang istri). Sudah lama aku tidak menulis meski banyak hal yang ingin kutulis, kesibukan baru yang kujalani sungguh menyita waktuku, bagaimana tidak? Tanggal 1 agustus kemaren aku menandatangani kontrak kerja maha keren: waktu kerja tidak terbatas, bisa dilakukan dengan santai tanpa tekanan tapi rutin mendapat gaji bulanan, jaminan fasilitas hidup seperti makan dan tempat tinggal serta kenyamanan. Tidak berhenti sampai disana, kontrak kerja kali ini memiliki reward yang sungguh mengesankan: pahala yang tidak terbilang asal patuh.. hanya dengan ‘patuh’ saudara-saudara..! dan yang tidak kalah penting adalah,, tanpa PHK (insyaallah).
Anak Padi
Bismillah..
Sejatinya tidak menjadi soal seberapa lama kami saling mengenal, tetap saja ini keputusan besar untukku, memilih untuk mempercayai seorang asing yang aku diwajibkan patuh: yang ridhanya akan menjadi kunci dari ridha Allah. Aku tidak tahu apa dia akan menyayangiku sebaik ayah, apa dia akan melindungiku sebaik kakak-kakakku dan apa dia bisa menjadi sebaik ibu.. Ah,, tapi tidak_ kubuang segera pikiran itu jauh. Dia tidak akan menjadi sebaik ayah, ibu atau kakak-kakakku, dia akan menjadi satu-satunya imam terbaikku.
“inilah keluarga” ujar ayah tanpa menghentikan langkah.
“keluarga yah?” ulangku memastikan.
“jika begitu, artinya tidak lama lagi dia akan menjadi anak-anak padi yang terpisah satu dengan yang lain ditengah sawah” aku tidak setuju
“benar, itulah hidup nak, rasanya memang berat untuk pindah.. mereka akan berteriak dan tersedu ketika tangan petani mencabuti mereka dari tempat pembenihan, mereka takut pada tempat baru yang akan mereka tempati, apa akan senyaman tempat pertama mereka tumbuh” ayah tersenyum
“mereka tidak tahu bahwa petani telah menyiapkan segalanya dengan begitu rapi, tempat pindah mereka adalah sebaik-baik tempat yang disediakan petani, dengan pengairan yang cukup, dengan tanah yang lembut untuk akar-akar baru mereka, pun dengan pupuk terbaik yang dia punya”
Aku mendengarkan sambil terus mengikuti langkah ayah
“ketika hari perpisahan, tangan petani dengan cekatan membagi mereka, menempatkan mereka dengan jarak yang tepat, si anak padi masih terus menangis.. merasakan angin yang mulai tidak ramah menggoyang daun mereka, yang artinya jika tidak buru-buru menancapkan akar maka dia akan tumbang. Hari demi hari si anak padi lelah menangis lalu berbenah, hidupnya tidak akan berubah dengan kesedihan berkepanjangan, si anak padi mulai merasakan angin yang ramah menggoyang daun-daunnya yang kini sudah hijau sempurna, menikmati embun yangmenyapanya setiap pagi, dan melihat petani dengan pandangan mengerti bahwa si petani tidak sedang menganiayanya, toh setiap hari petani memperhatikannya, mencukupkan airnya, memenuhi makanannya dan membersihakan rumput liar yang tumbuh disekitarnya”
Aku tertegun, mengambil kesimpulan dari cerita ayah.
“coba lihat anak padi yang bertahan di tempat pertama dia di semai, berbuahkah?”
Aku menggeleng, jangankan berbuah,, si anak padi malah menguning
Ayah tersenyum “jangan pernah bosan belajar dari hidup. Ayah seorang petani, tidak punya cerita hebat atau petuah dengan kalimat yang bagus, tapi sekali lagi nak, jangan pernah bosan belajar dari kehidupan sebab ayat-ayatnya tidak hanya berada di al-qur’an”
Aku paham bahwa ayah tengah menyisipkan kekuatan dengan cara beliau sendiri padaku. Baiklah yah, Aku yakin Dia juga telah menyiapkan tempat pindah baru untuk anak padimu ini, yang cukup air, cukup pupuk dan cocok untuk akar baruku yang lunak.
Puisi (??)















