L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

Kejutan Hangat

Diluar hujan lebat dalam gelap, 100215.
Kali ini tentang Hauna, apa?? Belum ada nama HAUNA KANISYA di catatan pelangi? Hm..baiklah, selalu ada kali pertama untuk berkenalan: itulah Hauna (bayi montok yang kini tergolek memunggungiku),  perempuan yang lahir 25 mei tahun lalu dengan berat 4,1 lewat jendela (padahal pintu sudah terbuka setengahnya). Cukup sekian.

Petang ini aku mendengar teriakan histeris Hauna ketika di dalam kamar, segera aku berlari ke ruang depan dan mendapatinya tengah duduk dan memberi senyum manis dengan delapan gigi mungil, gantian aku yang berteriak histeris. Aku masih ingat ketika meninggalkannya dengan posisi tengkurap dan kini mendapatinya sudah bisa duduk sendiri entah bagaimana caranya.
“waaah.. anak Bundo udah pintar duduk sendiri” kupeluk dia erat dan tawanya terdengar renyah.
Petang ini pula jalan terjauh untuk Hauna, biasanya hanya berputar2 di dalam rumah tapi sore ini aku membawanya ke warung yang berjarak 100 meter.. sepanjang jalan dia berteriak girang, melangkahkan kakinya dengan langkah maksimal kemudian memperhatikan sepatu pink yang dikenakannya, sehingga waktu yang dihabiskan untuk mencapai warung menjadi berkali lipat lamanya, tapi tidak masalah: toh aku memang berniat jalan-jalan sore dengannya. Masalahnya ada di PINGGANGku..! aku membayangkan bunyi gemeretuk tulang ketika meluruskan pinggang setelah membantunya berjalan, ah.. tentu saja itu hanya bayanganku sebab kenyataannya adalah bunyi terikan hauna menolak penghentian bantuan,
“masih mau jalan, bundo” ujar matanya menatapku saat berteriak.
Baiklah anakku, mungkin yang dialami nenek lebih parah dari ini ketika bundo kecil. Dan saat ini tidak akan lama, bundo juga tidak ingin melewatkannya: melewatkan mengajarimu banyak hal dengan izin-Nya
“ayoklah” kembali kubungkukkan badan seiring semangatnya yang kurasakan menjalari tanganku.

Karena manisnya hidup, kita yang tentukan.

Mengutip pesan Tropicana,, mamang sejatinya kita yang menentukan manisnya hidup_ mungkin pernah suatu kali kita merasa hidup ini sangat pahit seperti kopi. Tapi jika kita berani sedikit saja menoleh,, ada hal yang akan membuat hidup kita terasa lebih manis, nama gula tersebut adalah orang-orang yang menyayangi kita, orang-orang yang tidak pernah menenggelamkan kita ketika terjatuh, orang-orang yang selalu punya senyum penyeka air mata kita, orang-orang yang selalu punya semangat ketika kita nyaris putus asa. Orang-orang dengan gelas penuh cinta untuk kita.

Namun dibalik itu semua, tetaplah diri kita sendiri sebagai kuncinya, diri kitalah yang menentukan apakah sang gula akan kita gunakan sebagai penawar pahit atau memilih mengabaikan manisnya gula dan tenggelam dalam pekatnya pahit. Apakah memilih untuk bangkit lagi dengan bekal bergelas-gelas cinta dari orang-orang yang menyayangi kita atau memilih berputus asa tanpa peduli bahwa pilihan tersebut menyakiti mereka,, sang gula.

Tentang seorang lelaki muda


Bagiku yang jadi ibu rumah tangga, tanggal tidak lagi menjadi sesuatu yang harus kuingat, pekerjaanku jauh lebih penting daripada bilangan yang berjejer rapi di kalender. Tapi aku ingat tanggal 12, selasa di januari. Setelah dua rakaat subuh, aku tertidur kembali, kelelahan menghadapi anakku yang rewel semalaman. Jam setengah delapan aku terbangun mendengar suara motor yang sangat kukenal, kudapati suamiku dipintu kamar ketika membuka mata.

“Bundo, Hauna sudah tidur di ayunan, setelah mandi sepertinya dia mengantuk sekali, jadi belum makan. Abi pergi kantor dulu, istirahat ya” ujar beliau yang sudah rapi dan bersiap pergi. Lelahku menguap ketika syukur datang memeluk, nikmat mana yang pantas kudustakan? aku yang seharusnya menyiapkan keperluannya sebelum berangkat kerja, aku yang seharusnya menyiapkan sarapan pagi, aku yang seharusnya.. Ah, Betapa seringnya aku lalai bersyukur untuk sosok lelaki yang Engkau pilihkan untukku (atau aku yang Engkau pilihkan untuknya?). Lelaki yang sering kali kurepotkan dengan hal-hal remeh, lelaki yang begitu sabar menghadapi kecerewetan dan emosiku yang meletup-letup, bahkan hingga suatu kali ketika mencuci piring berdua, sambil berseloroh beliau berkata “Abi kira Bundo adalah sosok perempuan yang penyabar, anggun dan keibuan”.

Dan aku langsung menimpali, sengit “Jadi Abi menyesal?”

“Tidak, Allah selalu tahu mengapa Bundo yang ditakdirkan untuk Abi”

Dan nikmat mana yang pantas kudustakan?
“Kadang-kadang Bundo penyabar, anggun dan keibuan kok Bi” ujarku pura-pura merajuk.
****

Kutulis kisah ini disini, agar suatu hari nanti ketika kami sudah menua.. aku punya jejak tentang seorang lelaki muda yang meminangku pada jarak ribuan kilometer.

Atjeh

Inilah negeri yang penduduknya tergolong ramah untuk sebuah ibu kota provinsi, mereka dapat segera mengenali warga baru sambil menghadiahkan senyuman selamat datang, dapat segera akrab pada pertemuan pertama dan bertanya tentang betah tidaknya aku di kota ini pada pertemuan selanjutnya. ah.. bagaimana aku tidak betah berada di lingkungan menyenangkan, tetangga yang kerap mengantarkan makanan yang mereka buat dan tidak pernah merasa berat untuk membersihkan terasku yang dikotori oleh ayam mereka, aku saja yang merasa segan ketika mereka membawa sapu dan menarik slang air ke terasku.

inilah negeri yang beberapa tahun silam dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM), aku tidak habis pikir, bagaimana bisa pemerintah republik ini memberlakukan 'kebijakan' itu di daerah yang penduduknya taat beragama, daerah yang jangan harap bisa berbelanja ketika maghrib tiba sebab semua toko tutup hingga isya, daerah yang nyaris semua penduduk wanitanya mengenakan penutup kepala (jika menemukan perempuan dengan rambut digerai, maka boleh jadi itu non muslim atau pendatang).

inilah negeri yang beberapa tahun silam disapa gelombang besar, kata tetanggaku: "pembersihan" sebab ketika itu syariat islam sudah mulai luntur dikalangan muda, hm.. kupikir benar mengingat beberapa keajaiban yang terjadi ketika itu serta melihat kenyataan sekarang.

inilah negeri yang bagi kebanyakan orang akan berfikir dua kali untuk berkunjung kesini, hehe,, andai mereka tahu bahwa daerah ini tidak seperti yang gencar diberitakan oleh media, tidak seperti yang pernah dianggap pemerintah pusat sebagai pemberontak, mereka yang memerintah tentu lupa bahwa daerah ini pernah menyumbangkan emas dan uang sebanyak gunung seulawah untuk ibu kota negara pasca kemerdekaan, daerah ini pula yang memiliki banyak pejuang pejuang wanita yang hebat yang disamarkan dalam buku sejarah di sekolah.

inilah negeri yang sudah kutempati selama hampir lima bulan, negeri yang namanya tertera dalam kartu tanpa pendudukku kini, negeri yang seolah tidak peduli dengan kenaikan BBM, sebab harga bahan kebutuhan pokok tidak begitu berubah, negeri yang tidak peduli dengan operasi zebra dan dengan apapun yang namanya razia kendaraan bermotor, negeri yang lampu hijau bagi pengendara adalah ketika hitungan lampu merah berada di angka tiga pada rambu lalu lintas, negeri yang malamnya cepat sekali sepi untuk sebuah kota.

inilah negeri itu, salah satu dari tiga kerajaan Darussalam: Atjeh.

Mitsaqan Ghaliza


1 agustus 2014

Aku menikah..!

Hehe,, aku bahkan masih tidak menyangka akan menikah jam dua nanti. Apa yang kurasakan? Sebentar.. aku coba dulu merasa-rasainya, ah.. sepertinya kali ini (yang merupakan kali kesekian) teman-temanku benar: aku tidak punya perasaan,, buktinya aku tidak merasakan apa-apa..! Grogi? Tidak. Panas-dingin? Tidak,, suhu tubuhku baik-baik saja. Senang? Mungkin iya, sebab aku sudah punya kamar sendiri dan dihias dengan cantik. Complicated? Nah.. ini jawaban yang sering kugunakan untuk pertanyaan teman-teman,, dan mereka puas.

Pukul sepuluh aku diusir dari dapur, padahal aku tengah menggiling bumbu masak “ayo bergegas mandi dan berbenah” ujar mereka dengan senyum ganjil. Dan setelah itu aku dipingit didalam kamar, disuruh berbaring kemudian mereka sibuk menghias wajahku dengan aneka warna, dan aku? Yaph.. aku tertidur dengan pulas.
Mendekati dzuhur aku dibangunkan dan wajahku purna berwarna pelangi, ada merah dibibirku, kuning diujung mataku dan hijau disampingnya (sebagaimana kita tahu lewat lagu, bahwa warna pelangi adalah merah kuning hijau.. sedikit mirip dengan lampu rambu di jalan).

“saya berwudhu dulu untuk dzuhur” ujarku memandangi wajah asing didalam cermin yang mengeluarkan kata-kata persis dengan yang kuucapkan.

“jadi belum wudhu?” intonasi semangat dari pelukis pelangi (aku tidak tahu kenapa mereka semangat sekali), aku menggeleng dengan senyum polos.

Mendekati pukul 14.00,

Shalat jum’at telah usai dan rumahku dipenuhi oleh orang-orang cantik dengan baju-baju bagus, mereka bersiap untuk pergi ke mesjid. Aku tiba-tiba dehidrasi melihat keriuhan di rumahku sendiri.

Tak lama kami dijemput menuju mesjid, dan apa yang kurasakan? alhamdulillah masih sehat. Tidak merasa jantungku berdetak lebih cepat, tidak merasa pusing atau mual, aku merasa baik-baik saja.

Sesampai di Mesjid, kupasang sendal hak tinggi yang dibelikan untukku (ini pertama kalinya aku merasa tidak nyaman, bukan karena aku sudah melihat calon suamiku dengan jas rapi dan wajah bersih, bukan juga karena aku melihat mahar putih dikejauahan.. tapi karena aku harus berjalan hati-hati dengan sendal yang memantulkan sinar matahari).

Pukul 14.25

“Mohd Abd Arif”

“ya pak”

“saya nikahkan anak kandung saya yang bernama Nova Riati dengan engkau dengan maharnya seperangkat alat shalat dibayar tunai karena Allah”

“saya terima menikahi anak kandung bapak yang bernama Nova Riati dengan maharnya seperangkat alat shalat dibayar tunai karena Allah”

phhuufft.. alhamdulillah,, baru saja Mitsaqan Ghaliza diikrarkan, perjanjian kokoh yang mampu mengguncang arsy. Apa yang kurasakan?? Ah.. entahlah, complicated (aku suka jawaban yang tidak menimbulkan pertanyaan lagi).

Pukul 21.00

Hehe,, sudah malam. Aku baru saja membuatkan secangkir kopi untuk Uda Sutan Mudo, seperti adat di daerahku, lelaki yang sudah menikah tidak lagi dipanggil dengan nama kecilnya, tapi dipanggil sesuai ‘gala’ yang ditetapkan bersama. Baiklah,, sementara cerita cukup sampai disini.

Lelakiku


Sebenarnya sekarang sudah tanggal 28 september, mendekati dua bulan pernikahanku. (ternyata aku sudah jadi seorang istri). Sudah lama aku tidak menulis meski banyak hal yang ingin kutulis, kesibukan baru yang kujalani sungguh menyita waktuku, bagaimana tidak? Tanggal 1 agustus kemaren aku menandatangani kontrak kerja maha keren: waktu kerja tidak terbatas, bisa dilakukan dengan santai tanpa tekanan tapi rutin mendapat gaji bulanan, jaminan fasilitas hidup seperti makan dan tempat tinggal serta kenyamanan. Tidak berhenti sampai disana, kontrak kerja kali ini memiliki reward yang sungguh mengesankan: pahala yang tidak terbilang asal patuh.. hanya dengan ‘patuh’ saudara-saudara..! dan yang tidak kalah penting adalah,, tanpa PHK (insyaallah).

Sedikit kuceritakan tentang seorang yang tanda tangannya tepat disebelah tanda tanganku di kontrak kerja sama kami: namanya Mohd Abd Arif, pernah menjadi inspirasi beberapa ceritaku disini, bagi banyak orang beliau adalah sosok pendiam (hellow??). kami berkenalan dengan cara yang ajaib ketika semester dua perkuliahan, dibalik kain pembatas atau lebih dikenal sebagai ‘hijab’ di mushala fakultasku ketika kami sedang rapat. Beliau aktivis? Yaph.. tentu saja, aktivis dakwah kampus. Sedangkan aku?? Juga aktivis: aktif meninggalkan ruang kuliah dan kembali ketika jam perkuliahan hampir habis (aku tidak ingin absenku tidak ditandatangani), aktif menyalin tugas perkuliahan ditaman kampus (aku juga tidak ingin nilai tugasku kosong hanya karena aku malas membuat sendiri). Ah,, kembali lagi ke suamiku (heh..aku sudah bersuami???). beliau orang paling penyabar yang pernah kukenal, kali ini aku serius. Tingkahku yang ‘kreatif’ dan sifatku yang ‘amazing’ tidak terlalu membuat emosi beliau terusik, tapi entah: belum genap dua bulan aku mengenali beliau.

Itulah sedikit tentang lelaki yang mengambil tanggung jawab dari ayahku dan menyampirkannya dipundaknya, lelaki yang aku diwajibkan patuh dengan atau tanpa paksaan, lelaki yang ridhanya kini menjadi kunci ridha-Nya padaku. Dan lelaki yang selalu membuatku bersyukur telah dipilihkan untuknya.

Anak Padi


Bismillah..


Kurasa ini keputusan terbesar dalam hidupku, memilih untuk pindah ke sebuah kota asing bersama seorang lelaki asing dalam hitungan tidak genap satu purnama kedepan.. Tidak satupun dan seorangpun yang kukenal disana kecuali dia, tentu saja.

Sejatinya tidak menjadi soal seberapa lama kami saling mengenal, tetap saja ini keputusan besar untukku, memilih untuk mempercayai seorang asing yang aku diwajibkan patuh: yang ridhanya akan menjadi kunci dari ridha Allah. Aku tidak tahu apa dia akan menyayangiku sebaik ayah, apa dia akan melindungiku sebaik kakak-kakakku dan apa dia bisa menjadi sebaik ibu.. Ah,, tapi tidak_ kubuang segera pikiran itu jauh. Dia tidak akan menjadi sebaik ayah, ibu atau kakak-kakakku, dia akan menjadi satu-satunya imam terbaikku.

**


Suatu kali, aku berjalan di pematang sawah bersama ayah, menikmati hijaunya daun muda dari anak-anak padi yang baru tumbuh, ada butiran embun pucuknya.

“inilah keluarga” ujar ayah tanpa menghentikan langkah.

“keluarga yah?” ulangku memastikan.

“ya,, anak padi baru itu adalah anak-anak yang menyejukkan pandangan mata” ujar beliau

“jika begitu, artinya tidak lama lagi dia akan menjadi anak-anak padi yang terpisah satu dengan yang lain ditengah sawah” aku tidak setuju

“benar, itulah hidup nak, rasanya memang berat untuk pindah.. mereka akan berteriak dan tersedu ketika tangan petani mencabuti mereka dari tempat pembenihan, mereka takut pada tempat baru yang akan mereka tempati, apa akan senyaman tempat pertama mereka tumbuh” ayah tersenyum

“mereka tidak tahu bahwa petani telah menyiapkan segalanya dengan begitu rapi, tempat pindah mereka adalah sebaik-baik tempat yang disediakan petani, dengan pengairan yang cukup, dengan tanah yang lembut untuk akar-akar baru mereka, pun dengan pupuk terbaik yang dia punya”

Aku mendengarkan sambil terus mengikuti langkah ayah

“ketika hari perpisahan, tangan petani dengan cekatan membagi mereka, menempatkan mereka dengan jarak yang tepat, si anak padi masih terus menangis.. merasakan angin yang mulai tidak ramah menggoyang daun mereka, yang artinya jika tidak buru-buru menancapkan akar maka dia akan tumbang. Hari demi hari si anak padi lelah menangis lalu berbenah, hidupnya tidak akan berubah dengan kesedihan berkepanjangan, si anak padi mulai merasakan angin yang ramah menggoyang daun-daunnya yang kini sudah hijau sempurna, menikmati embun yangmenyapanya setiap pagi, dan melihat petani dengan pandangan mengerti bahwa si petani tidak sedang menganiayanya, toh setiap hari petani memperhatikannya, mencukupkan airnya, memenuhi makanannya dan membersihakan rumput liar yang tumbuh disekitarnya”

Aku tertegun, mengambil kesimpulan dari cerita ayah.

“coba lihat anak padi yang bertahan di tempat pertama dia di semai, berbuahkah?”

Aku menggeleng, jangankan berbuah,, si anak padi malah menguning

Ayah tersenyum “jangan pernah bosan belajar dari hidup.  Ayah seorang petani, tidak punya cerita hebat atau petuah dengan kalimat yang bagus, tapi sekali lagi nak, jangan pernah bosan belajar dari kehidupan sebab ayat-ayatnya tidak hanya berada di al-qur’an”

Aku paham bahwa ayah tengah menyisipkan kekuatan dengan cara beliau sendiri padaku. Baiklah yah, Aku yakin Dia juga telah menyiapkan tempat pindah baru untuk anak padimu ini, yang cukup air, cukup pupuk dan cocok untuk akar baruku yang lunak.