Bismillah..
Kurasa
ini keputusan terbesar dalam hidupku, memilih untuk pindah ke sebuah kota asing
bersama seorang lelaki asing dalam hitungan tidak genap satu purnama kedepan..
Tidak satupun dan seorangpun yang kukenal disana kecuali dia, tentu saja.
Sejatinya
tidak menjadi soal seberapa lama kami saling mengenal, tetap saja ini keputusan
besar untukku, memilih untuk mempercayai seorang asing yang aku diwajibkan
patuh: yang ridhanya akan menjadi kunci dari ridha Allah. Aku tidak tahu apa
dia akan menyayangiku sebaik ayah, apa dia akan melindungiku sebaik
kakak-kakakku dan apa dia bisa menjadi sebaik ibu.. Ah,, tapi tidak_ kubuang
segera pikiran itu jauh. Dia tidak akan menjadi sebaik ayah, ibu atau
kakak-kakakku, dia akan menjadi satu-satunya imam terbaikku.
**
Suatu
kali, aku berjalan di pematang sawah bersama ayah, menikmati hijaunya daun muda
dari anak-anak padi yang baru tumbuh, ada butiran embun pucuknya.
“inilah
keluarga” ujar ayah tanpa menghentikan langkah.
“keluarga
yah?” ulangku memastikan.
“ya,,
anak padi baru itu adalah anak-anak yang menyejukkan pandangan mata” ujar
beliau
“jika
begitu, artinya tidak lama lagi dia akan menjadi anak-anak padi yang terpisah
satu dengan yang lain ditengah sawah” aku tidak setuju
“benar,
itulah hidup nak, rasanya memang berat untuk pindah.. mereka akan berteriak dan
tersedu ketika tangan petani mencabuti mereka dari tempat pembenihan, mereka
takut pada tempat baru yang akan mereka tempati, apa akan senyaman tempat
pertama mereka tumbuh” ayah tersenyum
“mereka
tidak tahu bahwa petani telah menyiapkan segalanya dengan begitu rapi, tempat
pindah mereka adalah sebaik-baik tempat yang disediakan petani, dengan
pengairan yang cukup, dengan tanah yang lembut untuk akar-akar baru mereka, pun
dengan pupuk terbaik yang dia punya”
Aku
mendengarkan sambil terus mengikuti langkah ayah
“ketika
hari perpisahan, tangan petani dengan cekatan membagi mereka, menempatkan
mereka dengan jarak yang tepat, si anak padi masih terus menangis.. merasakan
angin yang mulai tidak ramah menggoyang daun mereka, yang artinya jika tidak
buru-buru menancapkan akar maka dia akan tumbang. Hari demi hari si anak padi
lelah menangis lalu berbenah, hidupnya tidak akan berubah dengan kesedihan
berkepanjangan, si anak padi mulai merasakan angin yang ramah menggoyang
daun-daunnya yang kini sudah hijau sempurna, menikmati embun yangmenyapanya
setiap pagi, dan melihat petani dengan pandangan mengerti bahwa si petani tidak
sedang menganiayanya, toh setiap hari petani memperhatikannya, mencukupkan
airnya, memenuhi makanannya dan membersihakan rumput liar yang tumbuh
disekitarnya”
Aku
tertegun, mengambil kesimpulan dari cerita ayah.
“coba
lihat anak padi yang bertahan di tempat pertama dia di semai, berbuahkah?”
Aku
menggeleng, jangankan berbuah,, si anak padi malah menguning
Ayah
tersenyum “jangan pernah bosan belajar dari hidup. Ayah seorang petani, tidak punya cerita hebat
atau petuah dengan kalimat yang bagus, tapi sekali lagi nak, jangan pernah
bosan belajar dari kehidupan sebab ayat-ayatnya tidak hanya berada di
al-qur’an”
Aku
paham bahwa ayah tengah menyisipkan kekuatan dengan cara beliau sendiri padaku.
Baiklah yah, Aku yakin Dia juga telah menyiapkan tempat pindah baru untuk anak
padimu ini, yang cukup air, cukup pupuk dan cocok untuk akar baruku yang lunak.