L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

antara Aku, Femme dan Buci

“Wery…” teriakku dikamar kos ketika mendapati sebuah nama dan foto menunggu reaksi untuk di confirm … mouse-ku berlari kearah box confirm dan segera kubuka wall-nya..
“Miss u ry…kemana aja loe?” tulisku cepat dan segera kucari foto sahabat kecilku itu, terlihat dia dengan rambut pendek dan kaos longgar..ah,,dia masih tomboy seperti dulu..seperti ketika dia memanjat pohon mangga oma untuk menggambil layangannya yang nyangkut disana, seperti ketika dia menakutiku dengan cacing yang entah dari mana diambilnya. Pun seperti ketika dia pulang dengan dengan baju penuh lumpur namun masih sempat tersenyum padaku sebelum masuk kerumahnya.
Dia sahabat kecilku, Flowery dwiputri..nama lengkapnya, pertemuan kami tak disengaja, saat itu aku pindah kekotanya, ikut ayah yang dipindah tugaskan.. seperti halnya lingkungan baru bagi anak usia 7 tahun..semua hal tampak menarik sekaligus menakutkan dimataku jadi kuamati semuanya dari balik jendela kamar yang berada dilantai dua, sebuah bola kecil mendarat dikaca jendela.. aku segera berlari kedalam selimut dan menunggu kejadian selanjutnya.. tak ada..tak ada apapun yang terjadi setelah itu tapi aku masih belum berani melongokan kepala keluar sehingga sepanjang sore kuhabiskan waktu dalam selimut..
Esoknya sekali lagi kuamati lingkungan baruku dari balik jendela..dan mataku menangkap sosok gadis kecil sedang memanjat pohon mangga oma.. “oma…ada pencuri” teriakku panic dan kulihat dia juga panic mendengar teriakanku..”buummkk..” suara tak jelas itu berasal dari tubuh mungilnya yang tiba-tiba mendarat ditanah dengan posisi yang kurasa menyakitkan. oma segera keluar dan bergegas mendekati gadis kecil itu “wery gak apa-apa?” tutur oma lembut membantunya berdiri.. kulihat tangan dan kakinya berdarah tapi dia masih tersenyum melihat kearahku.. “gadis kecil yang aneh” gumamku beranjak dari jendela.
Kali ini aku tak mau berdiri dibalik jendela lagi maka kuikuti langkah kaki oma ditaman kecil samping rumah.. aku senang memperhatikan bunga-bunga milik oma sedang mekar dengan warna berbeda.. “oma..willa mau bunga itu” pintaku melihat mawar kuning, oma mendekat dan tersenyum kearahku “mau oma ambilkan?” aku segera mengangguk “jangan oma..itukan bunga kesayangan oma…” sebuah suara kecil berteriak dari atas pagar rumah kami.. aku bersembunyi dibalik tubuh oma, “jangan takut sayang..dia tetanggamu,, namanya wery” bisik oma. “pagi oma” gadis kecil itu mendekat kearahku setelah melompat dari pagar yang tingginya dua kali dari ukuran tubuhku.
“hai…nama kamu willa ya?” dia menyodorkan tangannya tapi aku tak ingin berjabatan.. ada bekas tanah disana dan aku yakin ada cacing juga.. “kenapa gak mau jabat tanganku?” dia sedikit memaksa “ada cacingnya” jawabku takut.. dia tersenyum dan berlari dariku.. tapi tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah cacing mengeliat ditangannya.. “oma…..” aku menjerit dan wanita setengah baya itu tergopoh-gopoh kearahku. Gadis kecil itu tertawa dan aku mulai membencinya.
Dua hari aku tak keluar kamar karena demam tinggi.. dan aku benci keadaan ini..keadaan dimana hanya ada aku dan oma.. papa seperti biasa sibuk dengan kerjanya dan mama,, entahlah..aku tak tahu dimana perempuan itu kini. “ada yang ingin bertemu willa” suara lembut oma memaksaku membuka mata “siapa oma?” suaraku terdengar seperti suara kodok.. “hai..” gadis kecil itu langsung melompat dari arah pinta kamar dengan keceriaan tanpa beban. Aku merenggut.. bersembunyi dibalik tangan oma karena aku yakin kali ini dia tidak hanya membawa cacing tapi ular.. “tidak ada apa-apa ditanganku” ujarnya mendekat sambil memperhatikan tangannya yang basah, aku yakin oma menyruhnya mencuci tangan sebelum menemuiku.. “baiklah..” aku kembali keposisi awal “semoga lekas sembuh ya…” dia menaruh setangkai bunga mawar kuning disebelah obat-obatan yang setiap hari harus kutelan. Hm..aku tak lagi membencinya hanya saja aku masih tidak menyukainya.
Hari-hari berlalu bersama oma dan aku mulai sering bertemu dengannya.. gadis kecil yang aneh itu kini mulai mengambil tempat dihari-hariku.. aku mulai menyukainya..dia sahabat yang baik menurutku.. setidaknya aku tak lagi kesepian dirumah sebab dia sering berkunjung membawa cerita-cerita aneh yang baru kudengar.. maklum_sejak kecil aku tidak terbiasa dengan dunia luar karena penyakit bawaan yang mengharuskanku selalu diawasi.. jadi dia menjadi mata untukku menatap sisi lain dibalik pagar tinggi rumah oma.
“aku mau meminta pada oma untuk membawamu keluar..” katanya suatu hari ketika usiaku 12 tahun, dan aku mengangguk cepat penuh harap. Aku tak tahu apa yang dikatakannya pada oma tapi tak lama setelah itu oma menyiapakan baju yang akan kupakai, sebuah baju dengan rok panjang dan mengembang..atasan putih dengan lengan yang berenda. Dia tersenyum melihatku tapi tak ada komentar.. oma melepas kami dengan tatapan cemas yang berusaha disembunyikan. Aku menikmati hari itu, hari dimana aku berkenalan dengan anak-anak lain yang terlihat dekil tapi mereka baik, bermain dilapangan bola kampung pinggiran yang penuh lumpur.. aku tahu bahwa aku salah kostum tapi mereka menyukai baju yang kupakai sehingga rok mengembangku tak lagi berwarna hijau tapi berubah menjadi coklat warna tanah.. aku lupa bahwa ada cacing dilumpur itu. Sebelum pulang, salah seorang ibu dari teman-teman baruku meminjamkanku baju sebab baju yang kupakai tadi sudah berwarna coklat tanah. Oma panic mendapatiku dengan baju kaos dan celana kedodoran.. wery tersenyum kearahku sebelum meninggalkan pagar rumah.. oma segera memandikan dan menyuruhku makan serta menyodorkan obat seperti biasa “tadi siang willa ga minum obat” ucapnya cemas dan aku tersenyum.. “willa sudah sehat oma.. besok willa kan sudah sekolah di SMP, willa ga mau belajar dirumah lagi” jawabku setelah menelan obat.
Sejak hari itu aku tak lagi melihat wery, kata oma..dia pindah kekota lain bersama mamanya sedang ayahnya masih jadi tetanggaku, brokenhome.. masih kata oma..sebelum pergi dia sempat datang kerumahku tapi karena aku belum pulang sekolah maka dia hanya meninggalkan sebuah mawar kuning untukku.
“hei…bengong aja loe” pesan chat muncul disudut layar..
“wery……..” ketikku cepat
“he..he..kangen juga loe ma gue..”
“iya…dimana loe sekarang?”
“disamping rumah oma..”
“kok…?” aku mengernyit..
“dulu setelah loe pindah lagi ternyata mama n papa rujuk jadi gue kembali kerumah dulu”
**
Aku tersedak membaca judul album foto milik wery “My wife..” sejak kapan tu anak nikah..lagian kok my wife bukannya my husband ya? tapi tunggu dulu, kenapa dua-duanya cewek.. wah_pake handuk berdua,, tidak..tidak, astaghfirullah..itu bukan handuk tapi selimut. Aku pucat, udara disekitarku beranjak sehingga sulit untuk bernafas, tapi aku segera menguasai diri..dan mencari obat yang tersedia diatas meja kamar.
“OL mulu,,,” wery kembali hadir disudut layar
“ga juga…”
“pa kabar disana?” sapanya kemudian..
“badai….melihat foto loe…!” semburku
“ha..ha… sorry la, gue lupa bilang bahwa gue tu buci” jawabnya tenang..
“ow..” ketikku tak mengerti
“loe pasti ga ngerti..”
Aku diam..lama tak kutanggapi pesan itu karena google sedang mencarikan makna kata itu untukku.
“ga usah repot mikir la.. gue jelasin aja..”
Kembali dia hadir..
“gue ini sebenarnya cowok, gue yakin gue nie cowok.. dasar tuhan aja yang salah buat tubuh gue..”
Sempat ingin protes tapi logikaku segera mengambil tempat..ya derita lo.. punya tuhan kok digantung gitu..
“siapa dia?” singkat dan jelas
“namanya giya..kami dah pacaran setahun..”
“gila aja loe… ga nyadar bahwa dia tuh cewek?”
“karena gue nyadar bahwa dia cewek makanya gue mau pacaran ma dia..”
“jeruk makan jeruk…! Belok….!” Makiku marah
“dia itu femme..”
“pa an lagi tuh…!” cepat kutanggapi
“dia tuh cewek dan memang jadi cewek… gitu kalimat sederhananya..”
“ada berapa istilah sih …?” sengaja tak kutulis kata lesbi untuknya karena aku masih menghormati persahabatan dulu.
“banyak la.. ada femme, buci, androw, no labels..” dia menjabarkan panjang lebar tentang hidup yang selama ini tak pernah kusangka akan sedekat itu denganku..
“hidup loe aneh mulu ya..!” aku menutup windows dengan kekesalan tingkat tinggi.. bagaimana bisa sahabat kecilku menempatkan diri sebagai laki-laki dan pacaran dengan perempuan yang memang menempatkan diri sebagai perempuan.,. belum lagi penjelasan yang ga masuk akal tentang androw dan no labels yang membuatku serasa kembali kekehidupan dulu, kehidupan dimana aku tak mengenal dunia kecuali dibalik tembok pagar oma.
***
“loe willa kan? Kuliah di UNPAD? Berani loe ngambil pacar gue…!” sebuah pesan didinding FB segera kuhapus “maaf..ada apa ya?” kukirimi saja pesan ke akun itu “ga usah sok lugu deh..tolol…!” aku masih belum mengerti “maaf ya mbak..salah gue apa?” beuh_aku baru tahu bahwa perempuan itu memiliki sebuah kebun binatang sehingga kudapati dia mengabsen isinya diwallku, mulai dari yang berkaki empat, berbulu hingga makhluk melata.. “tunggu gue di UNPAD” tuturnya setelah lelah mengabsen.
Wwhhaa…aku panic..benar-benar panic. Mau ditaruh dimana wajah manisku jika dilabrak lesbong.. lebih parah lagi kalo dia ngejambak, cakar dan ngeludahin..iue…!
“Wery…ada apa nie.. pacar loe tuh_urusin..!” aku marah-marah
“ma’af la..dia salah sangka, udah gue jelasin sih tapi loe tau sendiri kalo femme itu cemburunya keg mana” gubbrak…
“mana gue tahu…, loe kira gue belok juga..!” aku benar-benar kesal.
“ma’af ya la…ma’af banget..”
Aku diam
“ya udah..gue bunuh diri aja..” kirimnya lagi.
“eh belok.. gue yang sekarat malah loe yang bunuh diri, selesaiin dulu masalah nie,,baru ntar mati disalib” aku rasa ada tanduk dikepalaku saat ini.
‘”iya..iya..willa sayang, giya akan segera nurut..kan gue suaminya”
“ga usah pake sayang-sayang belok…!! Urus istri loe sana” kembali kututup jendela itu dengan perasaan kesal.
**
Aku mundur dari masalah mereka, terlalu bodoh jika aku bertahan.. “willa... gue udah baikan. Loe bisa tenang sekarang” seperti biasa wery datang dari sudut layar
“syukurlah..” jawabku tak ikhlas.
“tapi gue udah ga da feel lagi ma tu femme”
“trus…loe dah insyaf? Dah nyadar bahwa loe tu cewek? Dah nyadar bahwa tuhan loe ga salah? Syukurlah..” jawabku lumayan panjang..
“bukan willa…!”
“so..?”
“tuhan gue masih salah…”
“ya iya lah…kan loe yang bilang bahwa dia yang nanggung semua dosa..ha..ha” jawabku cepat
“tapi gue yakin perasaan gue ga salah la..”
“??” aku penasaran
“gue yakin perasaan gue ga salah bahwa gue suka ma loe.. sejak umur 7 tahun gue yakin loe tu emang jodoh gue la..”
Wwhaaa….udara disekitarku kembali hilang, dan sayangnya obat terakhir yang kupunya telah kuminum tadi pagi.

*based on true story

ketua..

Ketua?
Hufft..demi apapun aku berani bersumpah bahwa amanah yang satu itu sungguh sangat kutakuti, sebab kutahu betapa beratnya pertanggung jawaban darinya.. belum lagi memikirkan rencana dan pembagian tugas seadil mungkin, atau memastikan bahwa semua hal berjalan baik-baik saja.
Tolong pahami bahwa aku belum pantas untuk jadi pemimpin, bahwa amalanku bahkan jauh dibawah orang yang kupimpin..bahwa aku belum cukup bijak untuk sebuah tanggung jawab sebesar ini..
“tugas ketua kan tidak berat, Cuma menyuruh dan mengkondisikan anggota sesuai posisinya masing-masing” hibur salah seorang dari mereka.. “tidak sesederhana kalimat itu..” gumamku mencoba tersenyum padahal rasa takut masih menjalari setiap sendiku.
Percayalah bahwa kepercayaan yang kalian berikan padaku membuatku tak percaya bahwa semua akan berjalan baik. Yakinlah bahwa sebenarnya kalian belum bisa meyakinkanku untuk sekedar yakin dengan kemampuanku sendiri. Dan selagi semua belum benar-benar dimulai, ada baiknya memilih seseorang yang memang pantas untuk amanah ini.
Jika air mata bisa menebus keputusan ini maka aku bersedia menangis seharian dari pada menangis dihadapan-Nya untuk sesuatu yang telah kulalaikan selama memimpin kalian. Jadi sekali lagi kupinta tolong jangan beri aku amanah terberat itu sebab pundakku tak sekuat yang terlihat.

backstreet....!

Miris?
Sangat..
Sakit hati?
Mungkin,,
Pertanyaan itu yang rasanya tepat untuk menggambarkan suasana hati perempuan itu saat ini, baru saja sebuah pesan singkat masuk ke HaPenya, “jangan pernah urus urusan orang lain”..perkara sebenarnya hanya kesalahpahaman tapi karena dibumbui sediit rasa terlarang maka seolah menyangkut masalah keselamatan penduduk dunia.



Backstreet….! Kata yang dibenci perempuan itu yang membuatnya harus berurusan dengan perkara ini, bukan sebagai pelaku tapi perempuan tersebut bertindak sebagai gudang rahasia dari hubungan yang (berusaha) disembunyikan itu? Dan malam tadi, tanpa sengaja rahasia tersebut teucap olehnya maka sepasang kawannya pun menguliti perempuan itu lewat pesan singkat.



“ayolah..jika kalian tahu bahwa islam tidak mengenal pacaran sebelum pernikahan maka mengapa menghubungkan perasaan yang belum halal itu dalam sebuah ikatan yang berusaha disembunyikan? Jika kalian tahu bahwa hubungan itu lebih banyak mengandung ketakutan maka mengapa harus menikmati rasa yang belum saatnya kalian satukan? Dan jika kalian sedikit lebih menghargai orang yang kalian harap akan menjadi pasangan kalian maka mengapa memilih untuk menodai hatinya terlebih dahulu’ monolog perempuan itu ketika membaca pesan-pesan singkat berima ancaman yang diterimanya.



Hufft…tak ada yang bisa diperbuatnya setelah perkataan yang tidak ditanggapi mengenai perkara itu selain do’a untuk mereka yang berfikir bahwa mereka mampu menyembunyikan hubungan itu, jangan bodoh kawan, ada perancang hidup Maha Teliti dan Maha Mengetahui segala urusan yang kalian lupakan dalam perkara ini.. dan ketakutan yang kalian rasa sekarang adalah buah dari dosa itu (dosa adalah apa-apa yang membuat hati tidak tenang).



‘Saudariku’ ketiknya cepat ‘jika dia mencintaimu maka dia tidak akan menawarkan ikatan rapuh tanpa status itu padamu, jika dia mencintaimu maka dia akan meminta pengalihan tanggung jawab dari ayahmu, jika dia belum sanggup untuk itu maka dia akan menjaga hatimu dengan berusaha menjaga hatinya terlebih dahulu.. jika dia mencintaimu maka dia akan memohonkan penjagaan-Nya untukmu, bukan malah ‘menjagamu’ dari aturan-Nya’..segaris bening telihat diwajah perempuan itu.



‘saudaraku’ ketiknya lagi ‘jika memang engkau mencintainya maka belajarlah untuk mencintai-Nya terlebih dahulu karena dengan begitu engkau tak akan melangar bentuk cinta-Nya berupa aturan jelas tentang ‘pacaran’, jika memang engkau mencintainya maka berjanjilah dengan menggengam tangan ayahnya dihadapan saksi dunia akhirat. Jika memang engkau mencintainya, jangan buat dia menangis karena hubungan terlarang kalian diketahui orang lain. jika memang engkau mencintainya namun belum sanggup menggenapkan dien-mu maka jangan rusak dien orang yang engkau cintai. Dan terakhir saudaraku..jika engkau memang mencintainya, maka minta Dia menjaganya dengan terlebih dahulu menjaga dirimu dengan puasa’ perempuan itu menyeka air matanya, tak sanggup menahan miris dihatinya ketika menyadari cinta-Nya diduakan dengan makhluk-Nya sendiri.



‘memang tidak mudah menahan rasa itu saudariku tapi Fatimah az Zahra sudah memulainya berabad yang lalu, memang sulit untuk membungkam rasa itu saudaraku tapi perjuangan Ali mengikhlaskan perempuan yang dicintainya untuk orang-orang terpilih mengantarkannya pada makna agung sebuah pernikahan suci dengan buah hati kekasih-Nya’ ketiknya mengakhiri kisah pagi ini.

mEnunggu

Menunggu…
Kata yang akhirnya menjadi akrab bahkan lebih karib dari sahabat..
Dan itu yang sedang kulakukan sekarang..mengusir bosan dengan pensil dan sebuah buku yang nyaris penuh dengan coretan-coretan tanpa judul, ah_biar kucoba memaknai kegiatan ini dari sisi indahnya..
Baiklah.. pelajaran pertama yang kudapat selama menjadi penunggu aktif adalah ‘orang yang menjadikan ‘menunggu’ sebagai kebiasaan adalah orang yang ramah’ bukan tanpa sebab kesimpulan itu kutarik.. cobalah jika tak percaya, sapa mereka meski tidak kenal kemudian bertanyalah dengan sopan siapa yang sedang mereka tunggu dan telah berapa lama maka lima menit kemudian akan kau dapati kenalan barumu seperti sahabat lama yang baru saja dijumpai.. saran yang bisa kuberi untuk ini..siapkan telingamu mendengar curhat mereka dan juga pelajari karakteristik saran yang mereka butuh.

Pelajaran selanjutnya.. ‘kadang seseorang tidak butuh jawaban tepat kecuali penguatan’.. baru saja seorang kawan duduk disampingku, se-BP dan juga sekelas.. tiba-tiba saja dia bertanya mana yang lebih baik memilih sekolah eksperimen yang tepat untuk judul yang sedang dikerjakannya..jujur _aku tidak terlalu mengerti tentang pemilihan tersebut dan kuyakin diapun tahu bahwa aku tidak begitu mengerti maka dengan kesabaran penuh..perlahan dia mengajariku mengenai hal tersebut dan akhirnya.. sebuah kesimpulan ditariknya sendiri bahwa lebih baik dia memilih sekolah dipadang dan dikampungnya agar metode yang diterapkan tidak saling bercampur dan juga mempertimbangkan standar sekolah yang harus disamakan .. tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk dan memberi penguatan dengan kalimat sendiri berdasarkan penjelasan yang baru saja kudapat.. hufft…akhirnya dia berlalu dengan wajah puas.

‘kekecewaan bisa datang dalam hitungan detik tapi kesabaran penantian tidak mengenal satuan ukur’ tak perlu ada penjelasan kurasa.

‘aku yakin menunggu adalah sarana untuk saling mengenal’ he..he..aku bukan termasuk mahasiswa populer tapi aku suka berkenalan dengan banyak orang meski kadang jenuh juga ketika ingin sendiri malah tak ada tempat untuk itu. Sejak menunggu menjadi sebuah keharusan maka sejak itu pula kenalanku bertambah jadi kuyakin..bahwa menunggu adalah sarana untuk saling berkenalan.

‘media untuk melatih kesabaran dan keikhlasan’ terkesan sedikit memaksa tapi percayalah, para penunggu adalah orang-orang yang sabar luar biasa, mereka bisa mengundur jadwal makan dan beberapa jadwal lainnya..bahkan mungkin jadwal shalat (miris) demi seseorang yang kadang hanya tersenyum dan berucap “hari ini saya capek sekali, saudara kembali besok saja” atau redaksi lain “tinggalakan saja dimeja saya” dan berlalu tanpa sedikitpun senyum.

kulihat seseorang disamping yang wajahnya tidak kukenali dan sambil tersenyum aku menyapa, “nunggu siapa b’?” beliau menyebutkan salah seorang nama dengan nada datar, aku mulai tertarik ketika tahu bahwa beliau nyaris DO sebab BP 2004, alasannya? masalah pribadi dengan pembimbing yang sedkit ‘pendendam’, Sebab lainnya? Perkara penulisan karya ilmiah –skripsi- , solusinya? MENUNGGU jadi kupikir kegiatan ini adalah ‘sarana untuk belajar makna empati’.

Selanjutnya..aku juga ‘belajar untuk tertawa diatas penderitaan orang lain’ () ma’af jika pelajaran ini sedikit kontroversi,, maksudnya disini, dari sekian banyak penderitaan yang kudengar selama jadi penunggu aktif maka perlahan aku tertawa (baca: bersyukur) bahwa ternyata ujian-Nya untukku masih lebih ringan ketimbang ujian yang mereka dapat..
Sudah dulu pelajaran hari ini karena orang yang kutunggu sudah datang..meski tanpa senyum tapi kuyakin beliau ramah..
Oke_do’akan aku..
Bismillah..

NB: kita tak pernah tahu kemana nasib akan membawa namun jika esok engkau jadi dosen.. perlakukan mahasiswa sebagai mana engkau ingin diperlakukan ketika jadi mahasiswa, kawan..

fall'n luv

Aku sadar aku telah jatuh cinta..
Kini kupercaya bahwa cinta itu adalah awal dari musim semi sebab semua hal tampak bertunas, berbunga dan menawan.. aroma udara juga tercium sangat khas sehingga segurat senyum selalu mengambang dihariku. Indah..jika ada kata yang lebih baik dari itu aku ingin memakainya untuk gambarkan rasa ini..

Selama ini aku terbiasa menertawai ketololan tingkah orang yang sedang disapa cinta maka kali ini harus kutertawai juga sikap bodohku yang menghabiskan waktu hanya untuk bercengkrama dengan imajinasiku sendiri. Menikmati lirik-lirik cinta sembari membayangkan sosoknya.
Tapi…ada sesuatu yang berbeda dari hari-hari yang lalu, ada sesuatu yang tak kutemukan dari rangkaian bunga musim semi cintaku.. dan akhirnya aku sadar bahwa aku kehilangan Dia.. aku kehilangan damai-Nya.. akupun kehilangan prinsip yang selama ini kujaga..
Hei apa ini…! Kenapa sosoknya membuat Dia terlihat samar, kenapa hadirnya membuat Dia terasa tiada, kenapa cinta ini memudarkan cinta untuk-Nya?
Cukup lama aku memilih, harus berada diantara Dia yang makin samar dan dia yang mulai nyata. Antara menikmati cintanya sekarang atau menunggu cinta itu purna atas izin-Nya. Antara indah yang sedang kurasa saat ini bersamanya atau sakit yang harus kujalani jika meninggalkannya. Antara halal yang ditawarkannya ataukah halal yang memang diberikan-Nya.. dan pilihan terakhir tadi membuat semuanya tampak jelas.. aku sadar aku telah jatuh cinta tapi aku juga sadar bahwa aku harus segera membangun kembali cinta itu untuk-Nya.

Memang perih ketika pilihan itu kuambil, bunga cintaku mulai gugur perlahan dan itu sakit, musim semi dihariku tak lagi indah karena terik keputusan yang kupilih membuat tunas dan kuncup-kuncup muda mulai meranggas dan akhirnya kering tak bersisa.. tapi aku percaya..musim semi akan kembali hadir bersama ridha-Nya, bersama halal-Nya dan bersama kejutan berupa setengah dari agama..
maafkan aku cinta, bukan aku tak mau jatuh bersamamu sekarang tapi aku memilih untuk bangun bersamamu nanti.. bukan aku tak ingin kau menyapa tapi aku ingin kau menjaga. Kupilih Dia yang menciptakanmu..bukan dia yang mengundangmu.. kau tahu cinta..sungguh teramat sakit menyadari bahwa belum saatnya engkau hadir disini tapi aku senang pernah mengenalmu dalam keterbatasan yang indah. Pergilah perlahan cinta..jemput Dia agar hadir kembali. Meski aku menginginkannya tapi aku lebih membutuhkan-Nya. Jangan lupa sampaikan pada-Nya bahwa air mata ini bukan untuknya tapi untuk-Nya..

Perempuan Lili Air


Perempuan itu terdiam beberapa lama memandangi deretan angka yang menjadi nilai semesternya bulan januari esok.. segera buku itu disimpannya dalam tas dan beranjak kekamar mandi.. hal yang selalu dilakukan ketika emosinya sedang terganggu.. kecipak air terdengar beberapa kali dan wajahnya basah oleh wudhu ketika pintu itu terbuka namun jika diperhatikan..bukan hanya air wudhu yang ada diwajahnya tapi siapa peduli..tak ada yang memperhatikan tingkahnya disini.
Ia melangkah menuju tasnya sambil tersenyum getir.. “Saya pamit dulu, pak” sapanya pada pria seperuh baya yang terduduk didepan laptop 14”.. tak ada jawaban ketika dia beranjak keluar.. sempat ia berucap salam tapi tak jelas ada jawaban atau tidak..
Hal yang paling biasa ia lakukan ketika sedih, kecewa dan bentuk emosi lain yang menguaras energi positif adalah bermain air.. dulu ketika ibunya memarahi maka ia akan berlari ke bak air dan bermain air disana, ketika pindah rumah maka hal yang dilakukannya adalah mengisi baskom dengan air kran dan ia bermain dengannya.. namun kini sedikit ada perubahan.. ia hanya perlu memandangi air dan mendengar kecipaknya. Hal yang menurutku aneh tapi bukankah dia bagian dari keanehan semesta, dimana kemustahilan adalah sesuatu yang mustahil tak ada. Lihat saja nilai yang diperoleh perempuan itu..deretan digit yang tak mungkin namun menjadi mungkin. Angka-angka tanpa belas kasih bertengger diatas garis yang akan menjadi penentu target yang disusunnya.
Siang telah mulai tua sehingga pendar sinar tak lagi garang.. perempuan itu menghentikan langkah dikolam teratai yang secara tak sengaja ditemukannya dulu maka segera ia mengambil posisi ditepi kolam.. tak ada siapa-siapa disana karena sekali lagi_tak banyak orang yang mengahabiskan hari dengan memandangi lili air..pun tak ada yang menaruh perhatian pada kolam tak terawat, bukan. Disana perempuan itu menghabiskan petang, melempar air dengan tanah-tanah kecil agar terdengar kecipak. Memandangi daun teratai yang selalu membuatnya takjub pada pencipta semesta yang mempunyai seni paling indah. Meski hanya kuncup lili air yang ditemuinya sore ini tapi imajinasinya bekerja seperti biasa_menciptakan bunga itu dengan berbagai warna hingga deretan nilai yang baru saja diterimanya tersebut berubah menjadi kelopak jingga.
Mengingati perjalanannya selama 5 bulan yang lalu hingga hari ini, menikmati sakit yang akhirnya tak dirasa lagi, memangku lelah yang kian menggerogoti berat tubuh, dan sesekali menjemput semangat ditelaga bernama keluarga.. ia percaya bahwa tak ada yang sia-sia maka berbekal kalimat sederhana ‘ketika malam puas dengan gelapnya maka fajar datang dengan terang cahayanya’.. ia jalani hari meski tertatih hingga hari ini.. Hari yang menjadi puncak dari gelap malamnya jadi esok pasti fajar menjelang dengan terang cahaya.. ‘ah lotus…kau membuatku iri, diair keruh engkau tetap cantik, diair jernih engkau tambah memukau, ketika tak satupun bunga bertahan didinginnya es..kau sambut matahari beku dengan kelopakmu. Selalu kau awali subuh dengan mekar dan kau mundur teratur diwaktu dhuha. Tak pernah kudengar daunmu terbakar diterik siang..pun tak pernah kudapati akarmu terbawa arus.. Lalu imbalan apa yang kau tagih dari katak yang betengger didaunmu? Dari embun yang setia berkunjung? Dari capung yang menjadikanmu tempat melirik jenisnya?’
Petang datang menjemput, segera ia beranjak kerumah sederhana yang telah ditinggalinya dua tahun belakangan..dan lagi,,hal pertama yang dilakukannya adalah memutar kran dan bermain air dikamar mandi sempit tapi tak lama karena adzan magrib berkumandang ketika sedihnya mengalir bersama air yang mengalir dari kran..

I luv Friday

Bismillah
Aku suka jum’at, meski sebagian orang mengatakan bahwa jum’at adalah hari yang singkat tapi aku suka melihat jemaah yang melimpah hingga keluar mesjid, aku suka mendengar khutbah jum’at dan selalu kurasa bahwa jum’at adalah hari kedamaian karena melihat kebanyakan orang memakai baju muslim (:
Baru saja acara perpisahan akan dimulai ternyata gempa sudah duluan memisahkan, anak-anak berhamburan keluar kelas dan yang paling kucemaskan adalah keadaan mereka menuruni tangga sempit..jangan sampai ada yang terjatuh dan terinjak-injak. Aku berteriak-teriak agar mereka berhati-hati meski mungkin tidak terdengar tapi biarlah peringatan itu menjadi do’a agar anak-anakku baik-baik saja. Beberapa dari mereka menghampiriku dengan wajah panic maka baru kali ini kurasakan kedewasaan itu berlipat-lipat hingga posisi guru memang harus kupikul “tenang saja, jangan panic dan istighfar ya” tuturku pada siswa yang mencangkram erat lenganku.. pandanganku segera beredar mencari ruang segitiga keselamatan yang pernah kupelajari untuk siswa yang berada disekitarku dan ketika ruang imajinasi itu kutemukan, gempa sudah mereda hingga kusuruh mereka agar segera meninggalkan kelas namun malah beberapa siswa kembali kekelas untuk mengajakku keluar..ah anak-anakku_cinta ini untuk kalian..
Untuk menutup perpisahan maka kukumpulkan lagi mereka karena berdasarkan firasatku yang seadanya, gempa susulan tidak akan terjadi 15 menit kedepan.. ajaib_35 orang anakku berada dikelas pada tepat setelah gempa terjadi meski dengan wajah pucat, cemas dan sebagian yang lain masih bias tersenyum meski pias.. tapi siketua kelas kulihat bersiap melanjutkan tidurnya.. Dian_janjimu akan selalu ibu tagih setiap selasa..!

Acara berakhir dengan foto-foto, arah lensa kamera menjadi tempat paling menarik untuk tersenyum maka kini kudapati lagi mereka dengan keceriaan seperti biasa.. trauma pasca gempa? Entahlah..entah kemana ia, mungkin pergi bersama bus kota yang sesak penumpang, bersama klakson kendaraan dikemacetan atau pergi bersama suara wali kota yang menenangkan warganya.

Ah..aku suka jum’at meski kali ini duduk sendiri ditaman sekolah menyaksikan kepanikan luar biasa,,buan karena gempa tapi lebih karena isu-isu miring yang sudah beradar sebelumnya dikota ini tentang gempa dan tsunami. Hm…apa yang kurasa saat ini? Damai? Mungkin..sebab tak ada detak cemas dihatiku setelah pesan untuk ortu, uda dan uni dilaporkan terkirim.
Aku suka jum’at..apapun kejadiannya namun dimataku selalu indah..