L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

aku ini tulang rusuk siapa?

Aku ini tulang rusuk siapa? Pertanyaan menggelitik yang tiba-tiba mengambang diotakku sore ini..
benar juga ya..seumur-umur belum pernah kutahu tulang rusuk siapa yang berhasil menjelma menjadi perempuan cantik sepertiku (gdubrak..boleh dong narcis). Hm,,berawal dari rasa penasaran itu, kucari cara untuk tahu siapakah pemuda tampan yang beruntung mendapatkan kembali tulang rusuk bengkoknya yang telah berubah jelita (he..he,, narcis lagi).
Oya..sebelumnya, perkenalkan namaku tupin, sedikit unik untuk gadis seusiaku. Entahlah..aku juga bingung kenapa teman-teman gemar membaca.. Oops..maksudku kenapa teman-teman suka memanggilku tupin padahal aku tidak seimut upin-ipin apalagi semenarik dolphin. Hm..tapi biarlah, aku suka dan berterima kasih saja atas panggilan sayang mereka. Perkenalan cukup sampai disini sebab selanjutnya izinkan kuperkenalkan kisah indahku pada kalian (catatan: indah itu relative kawan..!)

Dia seorang mahasiswa, satu tingkat diatasku.. ‘mempesona’ itu penilaian awal dariku  tapi selanjutnya..aku mulai curiga bahwa dia seorang pencuri ulung sebab tak kutemukan lagi hatiku diposisi semula. (jangan berfikir bahwa ini kejahatan pencurian organ). Kecurigaanku mulai bertambah ketika dia berhasil mencuri pusat perhatian diseluruh neuronku. analisaku..dia baik (sepertiku) dia juga keren (cocok sekali denganku), pintar (sama persis denganku), alim (menyerupaiku)..sehingga aku kini benar-benar curiga bahwa aku memang tulang rusuknya. Maka suatu kali kusempatkan untuk berbincang dengannya (lebih tepatnya meminta kesempatan) sekedar untuk memperkenalkan diri agar dia segera sadar bahwa akulah tulang rusuknya yang terpisah sekian tahun lamanya. Beberapa detik pertama aku sadar bahwa dia tidak keren tapi benar-benar keren, menit selanjutnya aku sadar bahwa dia terlalu baik, beberapa jam kemudian (kesadaranku sedikit lama untuk hal ini) dia lumayan pintar. Dan beberapa hari kemudian (sulit bagiku untuk menyadarinya) bahwa dia tidak sealim yang kukira. Sekarang aku tidak curiga lagi..sebab logikanya..tidak mungkin satu organ (tulang rusuk) shalat sedangkan organ-organ lain tidak shalat. tidak mungkin satu organ puasa sunat sedangkan organ-organ lain kekenyangan. Tidak mungkin satu organ qiyamul lail sedangkan organ-organ lain pulas tertidur.
Hm..sekarang aku tahu dari tulang rusuk siapa aku dicipta, dari tulang rusuk seorang adam yang merupakan belahan pribadiku.. baiklah, aku akan menjaga diriku agar belahan diriku juga terjaga. Aku akan merawat hatiku agar belahan hatiku juga terawat sempurna. Aku akan mendidik sikapku agar belahan sikapku juga terdidik. Aku akan ... aku akan ...
He..he.. Tunggu tulang rusukmu kembali ya.. 

lelaki berwarna gelap

“Aku suka cowok yang berwarna gelap..” tuturku membuka halaman buku 6 tahun yang lalu, dia mendelik dengan bibir membentuk huruf O tak sempurna, “seperti umar yang meminta diberi seorang bidadari hitam manis??? lalu mengapa dulu kau putuskan hubungan dengannya?” hm,,,aku menghela nafas berat “aku masih suka dia, tapi ikatan rapuh itu tak mungkin kulanjutkan” jawabku lemah.. “karena kau memilih ikut ekstra Rohis??”
1 september 2004,
“kalau aku jadi pacarmu..boleh?” sepenggal kalimat itu membuat waktu sore seolah berhenti. aku masih baru memakai seragam abu-abu tapi seorang lelaki juga baru saja memperkenalkanku pada kehidupan yang kabarnya tak lepas dari seragam ini. takut, malu-malu, cemas dan rasa lain yang tak kumengerti bercampur aduk diudara dan tanpa suara aku meninggalkannya.. terlihat bodoh tapi biar saja, aku masih ragu untuk mengeja keadaan baru yang seolah memberi kebebasan lebih dari yang kubutuh, aku berani menjamin bahwa teman-teman baruku disini akan tertawa jika aku berkata merindukan sekolah ku yang dulu, sekolah yang punya agenda wajib shalat dzuhur berjamaah, sekolah yang terletak jauh dari kebisingan kendaraan, sekolah yang punya 17 mata pelajaran dan sekolah yang mengajarkanku untuk berani berbicara didepan berpasang-pasang mata dalam kegiatan muhadharah pada jum’at pagi. Dan kini, sore ini, aku bergegas meninggalkannya didepan gerbang sekolah baruku yang penuh debu kendaraan, yang disesaki oleh bising angkutan kota meneriaki penumpang, ditambah lagi ‘bendi’ yang lalu lalang. Sungguh, ini adalah hari bersejarah dalam hidupku karena untuk pertama kalinya aku diserang sebentuk rasa yang tak kumengerti pada seorang lelaki, rasa yang membuatku tertunduk malu ketika ditanyai ‘ada apa’ oleh ibu.. rasa yang membuatku membuntuti ayah untuk sekedar bertanya lebih banyak tentang ‘laki-laki’.
Esoknya, kudapati lagi dia berdiri didepan gerbang sekolah dengan sebuah bungkusan besar ditangannya, sekali lagi aku merindukan sekolahku yang dulu..yang dikelilingi sawah-sawah penduduk sehingga bisa pulang lewat pematang mana saja. Berbeda dengan sekolah ini yang Cuma punya satu gerbang keluar yang diawasi satpam jadi aku tak punya pilihan lain selain melewati gerbang itu dan bertemu dengannya, “hai” sapanya kaku, “boleh kuantar pulang?” lidahku terasa kelu jadi kujawab dengan gelengan “boleh kuantar sampai petak?” (petak adalah tempat mobil angkutan kearah kampungku) dan aku mengangguk..
Hening.. sepanjang perjalanan aku tak bersuara dan diapun tak berbicara tapi ketika hampir sampai dipetak, dia berhenti “aku punya sesuatu untukmu..”ujarnya menyodorkan bungkusan besar ditangannya, “apa?” suaraku akhirnya keluar “aku tahu, mungkin aku belum boleh jadi pacarmu, tapi aku ingin kau menyimpan ini untukku”. Aku diam..tak beranjak namun juga tak menerima bungkusan itu, “aku hanya ingin jadi seseorang yang pernah ada dihatimu, jadi jika belum dijawab..sejak kemaren, hari ini dan nanti aku akan terus bertanya, kalau aku jadi pacarmu, boleh?”
Ibu tersenyum melihatku mengeluarkan ‘hati’ itu dari bungkusan, beludrunya lembut dengan perpaduan antara pink dan merah jambu, dan ini ukuran hati terbesar yang pernah kutemui “dari siapa?” pertanyaan retoris ibu membuat pipiku merona, dan sore itu juga mereka tahu bahwa aku menjawab ‘boleh’ sebelum berangkat pulang.
Hari ini tanggal 2 september 2004 dan akan selalu kukenang.
“hei…apa karena kau ikut Rohis?” kembali dia mengusikku yang tengah membaca lembaran dihalaman buku itu, “entahlah” jawabku singkat.

22 september 2004,
Hari ini aku menemuinya lagi, sosok yang sungguh telah menjelma dengan sangat jelas disetiap hariku. “aku ingin semua berakhir hari ini” kalimat yang sudah kususun semenjak berangkat kesekolah dan berusaha kuucapkan dengan intonasi tegas itu berubah pilu dimatanya, baru kali kulihat sendu menggelayut diwajahnya “kenapa?” kalimat sederhana itu tak mampu kujawab meski sepanjang pelajaran dikelas tadi aku sudah menghafal alasan-alasan yang hendak kuberi, “apa aku ada salah?” tambahnya lagi, “aku minta maaf” tuturku menyodorkan bungkusan besar yang 20 hari lalu diberinya untukku. Dan tanpa suara aku meninggalkannya, aku tahu betapa kejamnya aku sore ini padanya, pada seorang lelaki yang sudah 20 hari menemaniku, yang begitu sabar menungguiku pulang sekolah hanya untuk berkata bahwa dia tak bisa mengantarku kepetak karena rapat pramuka juga tengah menunggunya, yang tulus menyayangi dengan segala tingkah anehku, yang menghormatiku sehingga tak pernah mau menyentuh tanganku, yang memintaku menunggunya membelikan payung agar aku tidak kehujanan.. dan aku juga tahu.. betapa egoisnya aku mengakhiri semua ini tanpa alasan yang bisa kujelaskan.
Hari ini tanggal 22 september2004, kulukai hati seseorang yang kusukai.
“Lalu karena apa?” tanyanya lagi

01 oktober2004
Delapan hari aku tak bertemu dengannya tapi sebelum jum’at tadi aku sempat bertemu dengan temannya yang bergegas kemesjid, kulihat pancaran benci dari matanya.. sehingga aku tak banyak bicara, dia menyuruhku menunggunya jam 2 didepan sekolah maka itu yang kulakukan saat ini, menunggu teman mantan pacarku didepan sekolah yang berjarak 200 meter dari mesjid. “kenapa kalian putus?” aku benar-benar terkejut dengan hadirnya tapi segera aku menguasai diri “apa itu sebabnya aku diminta menunggu?” tanyaku balik dan dia mengangguk “aku memang bukan siapa-siapa dalam hubungan kalian, tapi aku tahu semua yang terjadi dalam hubungan itu” aku menghela nafas berat “bagaimana keadaannya?” kulihat dia tersenyum “apa pedulimu?” aku diam karena rasanya tak perlu kujawab “dia tidak masuk sekolah semenjak hari kamis” lanjutnya lagi. Kamis? Berarti sehari setelah aku memutuskan hubungan itu “dan kurasa, kau bertanggung jawab atas keadaan ini” dia menatapku tajam, aku menunduk “kenapa kalian putus?” tanyanya lagi dengan intonasi penekanan “aku hanya tak ingin berbohong pada diri sendiri dan aku lebih tak ingin membohonginya” jawabku pelan “aku tahu kalian tidak sedang berbohong dengan perasaan masing-masing” potongnya “dengarkan.. mungkin sedikit aneh tapi itulah alasannya..” dia bergeming “aku tak ingin berbohong pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa dia adalah jodohku, terlalu dini berbicara tentang pernikahan maka sebaiknya kujaga hatiku dan diriku untuk seseorang yang memang adalah orang yang ditakdirkan untukku, aku lebih tak ingin membohonginya dengan berkorban banyak untuk perempuan yang belum pasti akan menjadi miliknya” kalimat itu baru saja kudapat dari forum An-Nissa tadi, dia mengangguk dan kuharap menandakan bahwa dia paham “aku mengerti tapi dia mungkin tidak akan terima alasan ini” dia melunak.. tak sia-sia dia pernah sekolah pesantren (mantan pacarku pernah bercerita sedikit tentang sahabatnya ini) “aku juga tak ingin dia tahu alasan ini”gumamku “karena biarlah dia tahu bahwa aku memutuskan hubungan ini tanpa alasan dan biarlah dia berfikir bahwa aku tak benar-benar menyukainya” dia mengangguk “aku salah menilaimu, maaf..” ujarnya kemudian “dan kuharap hatimu memang benar-benar terjaga setelah ini karena kau akan sangat menyesal melepaskannya jika alasan itu tak bisa kau lakukan” tambahnya sambil beranjak pergi.
Hari ini tanggal 01 oktober 2004, mulai kujaga hatiku untuk seseorang yang ditakdirkan untukku.
“hei…kenapa dulu kau putuskan dia? Bukankah kau suka cowok berkulit gelap?” kali ini dia memutar duduk, pertanda bahwa dia benar-benar ingin tahu “karena aku menyukainya” jawabku sembari menutup diary SMK yang kutemukan siang ini. Sempat kulihat wajah tak puas sahabatku ketika dia kutinggal untuk berwudhu.

2007

Bismillah
Tahun empat,, begitu cepatnya waktu berlalu hingga ternyata kita telah jadi mahasiswa tertua dikalender akademik..
Ingat gak waktu kita desak-desakan ngurus kuliah untuk pertama kalinya, antri sepanjang-panjangnya untuk ngambil buku petunjuk. Setelah itu ngantri lagi ngambil foto untuk kartu pustaka n KTM, ngukur almamater, ngisi KRS yang tak satupun kita tahu tentang mata kuliah.. belum lagi nyari pembimbing akademik (PA) yang dengar namanya aja masih asing..
Dan hari ini,,adalah tahun keempat nama kita tercatat sebagai mahasiswa.
Padahal masih banyak hal yang belum kita mengerti dan masih banyak pengalaman yang belum kita dapat.. coba pikir, berapa banyak pertanyaan junior yang kita tak tahu jawabannya padahal masih tentang perkuliahan, berapa banyak pengetahuan kita yang bisa dibawa ketengah masyarakat dengan pengalaman yang masih sedikit ini padahal tak lama lagi kita tidak akan bergelar mahasiswa..
Dan saat ini, nikmatilah menjadi orang yang nyaris berangkat dari bangku kuliah, nyaris tak meninggalkan apa-apa untuk dikenang, dan nyaris terlupakan beberapa tahun kemudian..
Rasanya tanggal 3 september 2007 masih belum lama, ketika kita dijemur dipanas jam delapan saat pembukaan PKMB dan kemudian mengenal panitia senior dengan segala ulah cari perhatian mereka, dihukum dan dibentak-bentak oleh sigendut yang sampai sekarang nama aslinya belum dikenal, atau disuruh ngesot karena terlambat dan berbagai macam hukuman aneh lain yang rasanya nggak mendidik,, diancam untuk berenang di ‘sungai gangga’ yang mengalir disamping fakultas karena ada yang ngaduin senior pada dosen (dan sampai sekarang masih belum pasti apakah alasan itu benar).. jika sungai gangga di India adalah sungai yang suci maka sungai ini adalah antonimnya.
Ah…PKMB, memang masa pengenalan kampus seperti kepanjangannya, masa dimana kita mengenal bahwa ternyata kehidupan kampus itu tidak ramah, kehidupan yang jauh dari kata-kata terpelajar.. bahkan bisa dikatakan ‘mengenaskan’ ketika diakhir rangkaian acara, kita disuruh membuat surat cinta untuk senior bersama sebungkus coklat,, apa maksudnya setelah PKMB berakhir..kita memulai lagi sebuah hubungan sebagai kelanjutan dari surat cinta ketika penutupan..???
Tapi ada juga kejadian indah diawal perkuliahan.. dimana kita berkenalan hampir lima kali sehingga pada kali keenam.. kita tak lagi berani menyodorkan tangan untuk bertanya siapa namanya karena lupa.. dimana kita sok kenal sambil bertanya tugas padahal namanya saja belum tereja oleh memori.. dimana kita permisi masuk kelas karena terlambat padahal sebenarnya kelas kita belum dimulai sehingga dengan wajah merah padam tersenyum pada dosen dan berbalik kepintu keluar.. saling tukaran nomor hape dan ketika bertemu kembali..salah seorang menyodorkan tangan sambil menyebut namanya.. saling sapa ketika berjumpa padahal tidak saling mengenal nama.. membawa-bawa denah lokasi kampus, berlari-lari ketika pergantian jam tidak menyisakan waktu untuk pindah kelas dari sudut pembangunan ke pojok MKU. Dan banyak lagi kisah indah lain dalam memori masing-masing kita..
Kawan…jika hari wisuda kita tiba,, maka saat itu mari tanam rindu disini, diparkiran tempat kita melingkari pohon besar, ditaman yang ‘rindang’, disepanjang koridor fakultas, disudut pembangunan, dipojok MKU, kelas darurat, kelas GN yang membuat kita merasa menjadi satu dari lascar pelangi, dimushalla fakultas, di D89, dibelakang rektorat ketika cabut dari kelas ‘rebonding’, dan yang pasti di al-azhar.. mesjid kita menghabiskan semester dengan responsi agama..
Kawan..jika hari wisuda kita tiba,,maka ukirlah nama kita disini, disepanjang langkah kebersamaan yang akan kita kenang sebagai keindahan, meski kita tak mendapat semua yang kita inginkan tapi kita mendapatkan semua yang kita butuh..

antara Aku, Femme dan Buci

“Wery…” teriakku dikamar kos ketika mendapati sebuah nama dan foto menunggu reaksi untuk di confirm … mouse-ku berlari kearah box confirm dan segera kubuka wall-nya..
“Miss u ry…kemana aja loe?” tulisku cepat dan segera kucari foto sahabat kecilku itu, terlihat dia dengan rambut pendek dan kaos longgar..ah,,dia masih tomboy seperti dulu..seperti ketika dia memanjat pohon mangga oma untuk menggambil layangannya yang nyangkut disana, seperti ketika dia menakutiku dengan cacing yang entah dari mana diambilnya. Pun seperti ketika dia pulang dengan dengan baju penuh lumpur namun masih sempat tersenyum padaku sebelum masuk kerumahnya.
Dia sahabat kecilku, Flowery dwiputri..nama lengkapnya, pertemuan kami tak disengaja, saat itu aku pindah kekotanya, ikut ayah yang dipindah tugaskan.. seperti halnya lingkungan baru bagi anak usia 7 tahun..semua hal tampak menarik sekaligus menakutkan dimataku jadi kuamati semuanya dari balik jendela kamar yang berada dilantai dua, sebuah bola kecil mendarat dikaca jendela.. aku segera berlari kedalam selimut dan menunggu kejadian selanjutnya.. tak ada..tak ada apapun yang terjadi setelah itu tapi aku masih belum berani melongokan kepala keluar sehingga sepanjang sore kuhabiskan waktu dalam selimut..
Esoknya sekali lagi kuamati lingkungan baruku dari balik jendela..dan mataku menangkap sosok gadis kecil sedang memanjat pohon mangga oma.. “oma…ada pencuri” teriakku panic dan kulihat dia juga panic mendengar teriakanku..”buummkk..” suara tak jelas itu berasal dari tubuh mungilnya yang tiba-tiba mendarat ditanah dengan posisi yang kurasa menyakitkan. oma segera keluar dan bergegas mendekati gadis kecil itu “wery gak apa-apa?” tutur oma lembut membantunya berdiri.. kulihat tangan dan kakinya berdarah tapi dia masih tersenyum melihat kearahku.. “gadis kecil yang aneh” gumamku beranjak dari jendela.
Kali ini aku tak mau berdiri dibalik jendela lagi maka kuikuti langkah kaki oma ditaman kecil samping rumah.. aku senang memperhatikan bunga-bunga milik oma sedang mekar dengan warna berbeda.. “oma..willa mau bunga itu” pintaku melihat mawar kuning, oma mendekat dan tersenyum kearahku “mau oma ambilkan?” aku segera mengangguk “jangan oma..itukan bunga kesayangan oma…” sebuah suara kecil berteriak dari atas pagar rumah kami.. aku bersembunyi dibalik tubuh oma, “jangan takut sayang..dia tetanggamu,, namanya wery” bisik oma. “pagi oma” gadis kecil itu mendekat kearahku setelah melompat dari pagar yang tingginya dua kali dari ukuran tubuhku.
“hai…nama kamu willa ya?” dia menyodorkan tangannya tapi aku tak ingin berjabatan.. ada bekas tanah disana dan aku yakin ada cacing juga.. “kenapa gak mau jabat tanganku?” dia sedikit memaksa “ada cacingnya” jawabku takut.. dia tersenyum dan berlari dariku.. tapi tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah cacing mengeliat ditangannya.. “oma…..” aku menjerit dan wanita setengah baya itu tergopoh-gopoh kearahku. Gadis kecil itu tertawa dan aku mulai membencinya.
Dua hari aku tak keluar kamar karena demam tinggi.. dan aku benci keadaan ini..keadaan dimana hanya ada aku dan oma.. papa seperti biasa sibuk dengan kerjanya dan mama,, entahlah..aku tak tahu dimana perempuan itu kini. “ada yang ingin bertemu willa” suara lembut oma memaksaku membuka mata “siapa oma?” suaraku terdengar seperti suara kodok.. “hai..” gadis kecil itu langsung melompat dari arah pinta kamar dengan keceriaan tanpa beban. Aku merenggut.. bersembunyi dibalik tangan oma karena aku yakin kali ini dia tidak hanya membawa cacing tapi ular.. “tidak ada apa-apa ditanganku” ujarnya mendekat sambil memperhatikan tangannya yang basah, aku yakin oma menyruhnya mencuci tangan sebelum menemuiku.. “baiklah..” aku kembali keposisi awal “semoga lekas sembuh ya…” dia menaruh setangkai bunga mawar kuning disebelah obat-obatan yang setiap hari harus kutelan. Hm..aku tak lagi membencinya hanya saja aku masih tidak menyukainya.
Hari-hari berlalu bersama oma dan aku mulai sering bertemu dengannya.. gadis kecil yang aneh itu kini mulai mengambil tempat dihari-hariku.. aku mulai menyukainya..dia sahabat yang baik menurutku.. setidaknya aku tak lagi kesepian dirumah sebab dia sering berkunjung membawa cerita-cerita aneh yang baru kudengar.. maklum_sejak kecil aku tidak terbiasa dengan dunia luar karena penyakit bawaan yang mengharuskanku selalu diawasi.. jadi dia menjadi mata untukku menatap sisi lain dibalik pagar tinggi rumah oma.
“aku mau meminta pada oma untuk membawamu keluar..” katanya suatu hari ketika usiaku 12 tahun, dan aku mengangguk cepat penuh harap. Aku tak tahu apa yang dikatakannya pada oma tapi tak lama setelah itu oma menyiapakan baju yang akan kupakai, sebuah baju dengan rok panjang dan mengembang..atasan putih dengan lengan yang berenda. Dia tersenyum melihatku tapi tak ada komentar.. oma melepas kami dengan tatapan cemas yang berusaha disembunyikan. Aku menikmati hari itu, hari dimana aku berkenalan dengan anak-anak lain yang terlihat dekil tapi mereka baik, bermain dilapangan bola kampung pinggiran yang penuh lumpur.. aku tahu bahwa aku salah kostum tapi mereka menyukai baju yang kupakai sehingga rok mengembangku tak lagi berwarna hijau tapi berubah menjadi coklat warna tanah.. aku lupa bahwa ada cacing dilumpur itu. Sebelum pulang, salah seorang ibu dari teman-teman baruku meminjamkanku baju sebab baju yang kupakai tadi sudah berwarna coklat tanah. Oma panic mendapatiku dengan baju kaos dan celana kedodoran.. wery tersenyum kearahku sebelum meninggalkan pagar rumah.. oma segera memandikan dan menyuruhku makan serta menyodorkan obat seperti biasa “tadi siang willa ga minum obat” ucapnya cemas dan aku tersenyum.. “willa sudah sehat oma.. besok willa kan sudah sekolah di SMP, willa ga mau belajar dirumah lagi” jawabku setelah menelan obat.
Sejak hari itu aku tak lagi melihat wery, kata oma..dia pindah kekota lain bersama mamanya sedang ayahnya masih jadi tetanggaku, brokenhome.. masih kata oma..sebelum pergi dia sempat datang kerumahku tapi karena aku belum pulang sekolah maka dia hanya meninggalkan sebuah mawar kuning untukku.
“hei…bengong aja loe” pesan chat muncul disudut layar..
“wery……..” ketikku cepat
“he..he..kangen juga loe ma gue..”
“iya…dimana loe sekarang?”
“disamping rumah oma..”
“kok…?” aku mengernyit..
“dulu setelah loe pindah lagi ternyata mama n papa rujuk jadi gue kembali kerumah dulu”
**
Aku tersedak membaca judul album foto milik wery “My wife..” sejak kapan tu anak nikah..lagian kok my wife bukannya my husband ya? tapi tunggu dulu, kenapa dua-duanya cewek.. wah_pake handuk berdua,, tidak..tidak, astaghfirullah..itu bukan handuk tapi selimut. Aku pucat, udara disekitarku beranjak sehingga sulit untuk bernafas, tapi aku segera menguasai diri..dan mencari obat yang tersedia diatas meja kamar.
“OL mulu,,,” wery kembali hadir disudut layar
“ga juga…”
“pa kabar disana?” sapanya kemudian..
“badai….melihat foto loe…!” semburku
“ha..ha… sorry la, gue lupa bilang bahwa gue tu buci” jawabnya tenang..
“ow..” ketikku tak mengerti
“loe pasti ga ngerti..”
Aku diam..lama tak kutanggapi pesan itu karena google sedang mencarikan makna kata itu untukku.
“ga usah repot mikir la.. gue jelasin aja..”
Kembali dia hadir..
“gue ini sebenarnya cowok, gue yakin gue nie cowok.. dasar tuhan aja yang salah buat tubuh gue..”
Sempat ingin protes tapi logikaku segera mengambil tempat..ya derita lo.. punya tuhan kok digantung gitu..
“siapa dia?” singkat dan jelas
“namanya giya..kami dah pacaran setahun..”
“gila aja loe… ga nyadar bahwa dia tuh cewek?”
“karena gue nyadar bahwa dia cewek makanya gue mau pacaran ma dia..”
“jeruk makan jeruk…! Belok….!” Makiku marah
“dia itu femme..”
“pa an lagi tuh…!” cepat kutanggapi
“dia tuh cewek dan memang jadi cewek… gitu kalimat sederhananya..”
“ada berapa istilah sih …?” sengaja tak kutulis kata lesbi untuknya karena aku masih menghormati persahabatan dulu.
“banyak la.. ada femme, buci, androw, no labels..” dia menjabarkan panjang lebar tentang hidup yang selama ini tak pernah kusangka akan sedekat itu denganku..
“hidup loe aneh mulu ya..!” aku menutup windows dengan kekesalan tingkat tinggi.. bagaimana bisa sahabat kecilku menempatkan diri sebagai laki-laki dan pacaran dengan perempuan yang memang menempatkan diri sebagai perempuan.,. belum lagi penjelasan yang ga masuk akal tentang androw dan no labels yang membuatku serasa kembali kekehidupan dulu, kehidupan dimana aku tak mengenal dunia kecuali dibalik tembok pagar oma.
***
“loe willa kan? Kuliah di UNPAD? Berani loe ngambil pacar gue…!” sebuah pesan didinding FB segera kuhapus “maaf..ada apa ya?” kukirimi saja pesan ke akun itu “ga usah sok lugu deh..tolol…!” aku masih belum mengerti “maaf ya mbak..salah gue apa?” beuh_aku baru tahu bahwa perempuan itu memiliki sebuah kebun binatang sehingga kudapati dia mengabsen isinya diwallku, mulai dari yang berkaki empat, berbulu hingga makhluk melata.. “tunggu gue di UNPAD” tuturnya setelah lelah mengabsen.
Wwhhaa…aku panic..benar-benar panic. Mau ditaruh dimana wajah manisku jika dilabrak lesbong.. lebih parah lagi kalo dia ngejambak, cakar dan ngeludahin..iue…!
“Wery…ada apa nie.. pacar loe tuh_urusin..!” aku marah-marah
“ma’af la..dia salah sangka, udah gue jelasin sih tapi loe tau sendiri kalo femme itu cemburunya keg mana” gubbrak…
“mana gue tahu…, loe kira gue belok juga..!” aku benar-benar kesal.
“ma’af ya la…ma’af banget..”
Aku diam
“ya udah..gue bunuh diri aja..” kirimnya lagi.
“eh belok.. gue yang sekarat malah loe yang bunuh diri, selesaiin dulu masalah nie,,baru ntar mati disalib” aku rasa ada tanduk dikepalaku saat ini.
‘”iya..iya..willa sayang, giya akan segera nurut..kan gue suaminya”
“ga usah pake sayang-sayang belok…!! Urus istri loe sana” kembali kututup jendela itu dengan perasaan kesal.
**
Aku mundur dari masalah mereka, terlalu bodoh jika aku bertahan.. “willa... gue udah baikan. Loe bisa tenang sekarang” seperti biasa wery datang dari sudut layar
“syukurlah..” jawabku tak ikhlas.
“tapi gue udah ga da feel lagi ma tu femme”
“trus…loe dah insyaf? Dah nyadar bahwa loe tu cewek? Dah nyadar bahwa tuhan loe ga salah? Syukurlah..” jawabku lumayan panjang..
“bukan willa…!”
“so..?”
“tuhan gue masih salah…”
“ya iya lah…kan loe yang bilang bahwa dia yang nanggung semua dosa..ha..ha” jawabku cepat
“tapi gue yakin perasaan gue ga salah la..”
“??” aku penasaran
“gue yakin perasaan gue ga salah bahwa gue suka ma loe.. sejak umur 7 tahun gue yakin loe tu emang jodoh gue la..”
Wwhaaa….udara disekitarku kembali hilang, dan sayangnya obat terakhir yang kupunya telah kuminum tadi pagi.

*based on true story

ketua..

Ketua?
Hufft..demi apapun aku berani bersumpah bahwa amanah yang satu itu sungguh sangat kutakuti, sebab kutahu betapa beratnya pertanggung jawaban darinya.. belum lagi memikirkan rencana dan pembagian tugas seadil mungkin, atau memastikan bahwa semua hal berjalan baik-baik saja.
Tolong pahami bahwa aku belum pantas untuk jadi pemimpin, bahwa amalanku bahkan jauh dibawah orang yang kupimpin..bahwa aku belum cukup bijak untuk sebuah tanggung jawab sebesar ini..
“tugas ketua kan tidak berat, Cuma menyuruh dan mengkondisikan anggota sesuai posisinya masing-masing” hibur salah seorang dari mereka.. “tidak sesederhana kalimat itu..” gumamku mencoba tersenyum padahal rasa takut masih menjalari setiap sendiku.
Percayalah bahwa kepercayaan yang kalian berikan padaku membuatku tak percaya bahwa semua akan berjalan baik. Yakinlah bahwa sebenarnya kalian belum bisa meyakinkanku untuk sekedar yakin dengan kemampuanku sendiri. Dan selagi semua belum benar-benar dimulai, ada baiknya memilih seseorang yang memang pantas untuk amanah ini.
Jika air mata bisa menebus keputusan ini maka aku bersedia menangis seharian dari pada menangis dihadapan-Nya untuk sesuatu yang telah kulalaikan selama memimpin kalian. Jadi sekali lagi kupinta tolong jangan beri aku amanah terberat itu sebab pundakku tak sekuat yang terlihat.

backstreet....!

Miris?
Sangat..
Sakit hati?
Mungkin,,
Pertanyaan itu yang rasanya tepat untuk menggambarkan suasana hati perempuan itu saat ini, baru saja sebuah pesan singkat masuk ke HaPenya, “jangan pernah urus urusan orang lain”..perkara sebenarnya hanya kesalahpahaman tapi karena dibumbui sediit rasa terlarang maka seolah menyangkut masalah keselamatan penduduk dunia.



Backstreet….! Kata yang dibenci perempuan itu yang membuatnya harus berurusan dengan perkara ini, bukan sebagai pelaku tapi perempuan tersebut bertindak sebagai gudang rahasia dari hubungan yang (berusaha) disembunyikan itu? Dan malam tadi, tanpa sengaja rahasia tersebut teucap olehnya maka sepasang kawannya pun menguliti perempuan itu lewat pesan singkat.



“ayolah..jika kalian tahu bahwa islam tidak mengenal pacaran sebelum pernikahan maka mengapa menghubungkan perasaan yang belum halal itu dalam sebuah ikatan yang berusaha disembunyikan? Jika kalian tahu bahwa hubungan itu lebih banyak mengandung ketakutan maka mengapa harus menikmati rasa yang belum saatnya kalian satukan? Dan jika kalian sedikit lebih menghargai orang yang kalian harap akan menjadi pasangan kalian maka mengapa memilih untuk menodai hatinya terlebih dahulu’ monolog perempuan itu ketika membaca pesan-pesan singkat berima ancaman yang diterimanya.



Hufft…tak ada yang bisa diperbuatnya setelah perkataan yang tidak ditanggapi mengenai perkara itu selain do’a untuk mereka yang berfikir bahwa mereka mampu menyembunyikan hubungan itu, jangan bodoh kawan, ada perancang hidup Maha Teliti dan Maha Mengetahui segala urusan yang kalian lupakan dalam perkara ini.. dan ketakutan yang kalian rasa sekarang adalah buah dari dosa itu (dosa adalah apa-apa yang membuat hati tidak tenang).



‘Saudariku’ ketiknya cepat ‘jika dia mencintaimu maka dia tidak akan menawarkan ikatan rapuh tanpa status itu padamu, jika dia mencintaimu maka dia akan meminta pengalihan tanggung jawab dari ayahmu, jika dia belum sanggup untuk itu maka dia akan menjaga hatimu dengan berusaha menjaga hatinya terlebih dahulu.. jika dia mencintaimu maka dia akan memohonkan penjagaan-Nya untukmu, bukan malah ‘menjagamu’ dari aturan-Nya’..segaris bening telihat diwajah perempuan itu.



‘saudaraku’ ketiknya lagi ‘jika memang engkau mencintainya maka belajarlah untuk mencintai-Nya terlebih dahulu karena dengan begitu engkau tak akan melangar bentuk cinta-Nya berupa aturan jelas tentang ‘pacaran’, jika memang engkau mencintainya maka berjanjilah dengan menggengam tangan ayahnya dihadapan saksi dunia akhirat. Jika memang engkau mencintainya, jangan buat dia menangis karena hubungan terlarang kalian diketahui orang lain. jika memang engkau mencintainya namun belum sanggup menggenapkan dien-mu maka jangan rusak dien orang yang engkau cintai. Dan terakhir saudaraku..jika engkau memang mencintainya, maka minta Dia menjaganya dengan terlebih dahulu menjaga dirimu dengan puasa’ perempuan itu menyeka air matanya, tak sanggup menahan miris dihatinya ketika menyadari cinta-Nya diduakan dengan makhluk-Nya sendiri.



‘memang tidak mudah menahan rasa itu saudariku tapi Fatimah az Zahra sudah memulainya berabad yang lalu, memang sulit untuk membungkam rasa itu saudaraku tapi perjuangan Ali mengikhlaskan perempuan yang dicintainya untuk orang-orang terpilih mengantarkannya pada makna agung sebuah pernikahan suci dengan buah hati kekasih-Nya’ ketiknya mengakhiri kisah pagi ini.

mEnunggu

Menunggu…
Kata yang akhirnya menjadi akrab bahkan lebih karib dari sahabat..
Dan itu yang sedang kulakukan sekarang..mengusir bosan dengan pensil dan sebuah buku yang nyaris penuh dengan coretan-coretan tanpa judul, ah_biar kucoba memaknai kegiatan ini dari sisi indahnya..
Baiklah.. pelajaran pertama yang kudapat selama menjadi penunggu aktif adalah ‘orang yang menjadikan ‘menunggu’ sebagai kebiasaan adalah orang yang ramah’ bukan tanpa sebab kesimpulan itu kutarik.. cobalah jika tak percaya, sapa mereka meski tidak kenal kemudian bertanyalah dengan sopan siapa yang sedang mereka tunggu dan telah berapa lama maka lima menit kemudian akan kau dapati kenalan barumu seperti sahabat lama yang baru saja dijumpai.. saran yang bisa kuberi untuk ini..siapkan telingamu mendengar curhat mereka dan juga pelajari karakteristik saran yang mereka butuh.

Pelajaran selanjutnya.. ‘kadang seseorang tidak butuh jawaban tepat kecuali penguatan’.. baru saja seorang kawan duduk disampingku, se-BP dan juga sekelas.. tiba-tiba saja dia bertanya mana yang lebih baik memilih sekolah eksperimen yang tepat untuk judul yang sedang dikerjakannya..jujur _aku tidak terlalu mengerti tentang pemilihan tersebut dan kuyakin diapun tahu bahwa aku tidak begitu mengerti maka dengan kesabaran penuh..perlahan dia mengajariku mengenai hal tersebut dan akhirnya.. sebuah kesimpulan ditariknya sendiri bahwa lebih baik dia memilih sekolah dipadang dan dikampungnya agar metode yang diterapkan tidak saling bercampur dan juga mempertimbangkan standar sekolah yang harus disamakan .. tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk dan memberi penguatan dengan kalimat sendiri berdasarkan penjelasan yang baru saja kudapat.. hufft…akhirnya dia berlalu dengan wajah puas.

‘kekecewaan bisa datang dalam hitungan detik tapi kesabaran penantian tidak mengenal satuan ukur’ tak perlu ada penjelasan kurasa.

‘aku yakin menunggu adalah sarana untuk saling mengenal’ he..he..aku bukan termasuk mahasiswa populer tapi aku suka berkenalan dengan banyak orang meski kadang jenuh juga ketika ingin sendiri malah tak ada tempat untuk itu. Sejak menunggu menjadi sebuah keharusan maka sejak itu pula kenalanku bertambah jadi kuyakin..bahwa menunggu adalah sarana untuk saling berkenalan.

‘media untuk melatih kesabaran dan keikhlasan’ terkesan sedikit memaksa tapi percayalah, para penunggu adalah orang-orang yang sabar luar biasa, mereka bisa mengundur jadwal makan dan beberapa jadwal lainnya..bahkan mungkin jadwal shalat (miris) demi seseorang yang kadang hanya tersenyum dan berucap “hari ini saya capek sekali, saudara kembali besok saja” atau redaksi lain “tinggalakan saja dimeja saya” dan berlalu tanpa sedikitpun senyum.

kulihat seseorang disamping yang wajahnya tidak kukenali dan sambil tersenyum aku menyapa, “nunggu siapa b’?” beliau menyebutkan salah seorang nama dengan nada datar, aku mulai tertarik ketika tahu bahwa beliau nyaris DO sebab BP 2004, alasannya? masalah pribadi dengan pembimbing yang sedkit ‘pendendam’, Sebab lainnya? Perkara penulisan karya ilmiah –skripsi- , solusinya? MENUNGGU jadi kupikir kegiatan ini adalah ‘sarana untuk belajar makna empati’.

Selanjutnya..aku juga ‘belajar untuk tertawa diatas penderitaan orang lain’ () ma’af jika pelajaran ini sedikit kontroversi,, maksudnya disini, dari sekian banyak penderitaan yang kudengar selama jadi penunggu aktif maka perlahan aku tertawa (baca: bersyukur) bahwa ternyata ujian-Nya untukku masih lebih ringan ketimbang ujian yang mereka dapat..
Sudah dulu pelajaran hari ini karena orang yang kutunggu sudah datang..meski tanpa senyum tapi kuyakin beliau ramah..
Oke_do’akan aku..
Bismillah..

NB: kita tak pernah tahu kemana nasib akan membawa namun jika esok engkau jadi dosen.. perlakukan mahasiswa sebagai mana engkau ingin diperlakukan ketika jadi mahasiswa, kawan..