L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

SM-3T

Mengikuti setiap langkah mereka disana, mereka yang kebanyakan tidak kukenal namun berhasil membuatku betah berlama-lama menyusuri tiap kalimat yang mereka buat, meski kadang singkat.

sungguh aku ingin berada diantara mereka, membagi sedikit bakti untuk negeri, untuk anak-anak dengan semangat belajar yang tinggi. sungguh aku ingin berada disana, bersama wajah-wajah polos yang mungkin belum berkenalan dengan gadget, tablet atau apapun yang kini bukan lagi barang mewah bagi pelajar di Ibu kota.

aku masih ingat betapa menggebunya keinginanku saat itu ketika berkata :ingin menjadi tenaga pendidik yang terdidik dan mendidik ditempat yang memang butuh pendidikan. tapi sekarang apa? aku harus menebang pohon keinginan yang sejak kecil kurawat dengan baik, aku harus mengikhlaskan bahwa kereta takdirku tidak melewati jalan itu. Dan terakhir.. aku harus belajar menerima bahwa semua yang terjadi sekarang adalah yang terbaik dari-Nya untukku, belajar meyakini bahwa Dia punya rencana Maha indah untukku, belajar sabar bahwa Dia sudah menyiapkan sesuatu yang lebih menarik dalam perjalananku.

selamat untuk mereka yang sekarang tengah menyemai benih pengetahuan disana.



sunday

minggu,,

aku masih betah di ruang kerja, hari liburku sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. bagiku akhir pekan itu dimulai sajak selasa petang dan kamis pagi aku sudah harus kembali lagi dengan rutinitas biasa.
sebelum bekerja disini aku sudah tahu bahwa aku akan sering bosan dengan segala jadwal sehingga kucoba sedikit bermain dengan kebiasaan.

setahuku kebiasaan itu tersimpan rapi dalam pikiran alam bawah sadar manusia, setara dengan memori jangka panjang, kreatifitas, kepribadian, intuisi dan kawan-kawan. aku yang biasanya cerewet (hingga sempat dipanggil 'murai' ) dan supel dalam bergaul (ha..ha.. semoga aku tidak sedang menfitnah diri sendiri) tiba-tiba 'berubah' jadi sosok pendiam yang tidak banyak bicara (pemborosan..! pendiam itu sama saja dengan tidak banyak bicara). awalnya sulit sekali, aku harus 'menahan diri' untuk tidak 'cuap-cuap' sekenanya, belum lagi keramahan verbal yang harus segera diganti dengan keramahan non verbal . tapi setelah jalan dua minggu, sepertinya aku berhasil..berhasil mengendalikan diri dan bicara seperlunya.
cihuy..aku berhasil jadi orang pendiam, tapi cuma ditempat kerja, sekali lagi cuma ditempat kerja, tidak di kos yang bagiku adalah tempat melepas semua kata yang seharian tertahan, tidak juga disini_ tempat dimana beberapa kisahku berlabuh

Pulang

Saya pulang..
pulang dari perjalanan panjang hampir empat bulan, hm.. sangat lama untuk ukuranku. Sangat lama untuk ukuran sejumlah kisah yang tidak sempat kubagi disini.
Tentang pengalaman rawat inap sebelum operasi yang lumayan membunuh mental, tentang operasi itu sendiri dan tentang pengalaman kerja pertama setelah mengundurkan diri secara lisan pada tempat kerja sebelumnya (dan sampai hari ini, surat pengunduran diri itu tidak kunjung kukirim), tentang setumpuk bahan yang harus kupelajari dengan cepat dan banyak hal lain yang terlewatkan untuk kukisahkan.
Hari ini, bukan secara kebetulan aku sempat singgah (dan pulang) kesini. Rindu yang membawaku kembali merapat ke catatan pelangi, tapi mungkin tak bisa lama sebab aku masih punya beberapa agenda lain yang menungguku kembali.

::Libur::



Ha.. akhirnya aku sampai di Sumatera Barat (lagi), aku suka kampungku.. suka dengan tebing curam dan perbukitan sunyi di Pangkalan 50 koto, suka dengan rumah bagonjong yang masih banyak di Payakumbuh, suka dengan kabut yang menuruni bukit pinus daerah baso, pun tidak ketinggalan merapi dan singgalang yang anggun bersanding di depan rumahku. (ha..ha..kampungan), Perjalanan panjang yang melelahkan segera menguap ketika adzan Dzuhur terdengar dari sebuah mushala ditepi jalan ketika memasuki Sumatera Barat, hm..betapa rindunya aku pada ‘panggilan’ itu, sebab sudah lama aku tidak mendengarnya.

Merapat di tepian payakumbuh, aku tidak langsung pulang menuju rumah.. bukankah ini liburan yang menyenangkan.. jadi tidak ada salahnya menunda kepulangan untuk semalam. disini, ada ‘pacu jawi’ (logat penduduk membuat bacaannya berubah) yang lucu, tapi entah sapinya atau orang yang berlari dibelakangnya.

Jam 7.30 aku berangkat ke Bukittinggi, kota Dahlia. Perjalanan tidak kalah menyenangkan, kabut masih tebal menutupi gonjong rumah yang kulalui, juga tebing curam bermotif garis coklat yang masih samar. Ada jaring laba-laba berembun di daun padi, ada gembala yang berjalan pelan dipematang sawah, ada anak-anak berlarian dengan seragam sekolah,  ada terowongan bambu dan yang paling aku suka:  kabut tipis dipuncak-puncak bukit berpinus.

Sampai di kampungku ketika Dhuha, ketika matahari menghangatkan permukaan tanah berembun. Pun sekali lagi aku tidak langsung pulang menuju rumah, kulangkahkan kaki menuju ‘mudiak’.. tempat dimana kenangan-kenangan masa kecil berserakan disetiap jengkal tanah. Ketika seluncuran dengan pelepah kelapa, ketika memanjat jambu biji didalam hutan, ketika mencoba buah-buahan yang dimakan burung (ada yang manis, dan ada juga yang teramat pahit).

Sekian kalimat pembuka untuk liburan kali ini..


*alangkah menyenangkannya menjadi guru dengan status single, bisa ikut libur ketika kenaikan kelas tanpa harus memikirkan banyak hal. I’m single n i’m happy

Jakarta

Hm..jakarta

Satu-satunya kota yang tidak ingin kukunjungi. Kota dimana hampir semua teman-teman baikku berada disana, dan ketika mereka pamit untuk berangkat, ketika itu pula aku mengikhlaskan untuk tidak bertemu mereka lagi, bukan tidak ingin tapi aku sadar bahwa aku tak akan lagi menemukan mereka yang biasa kukenal. Jelaga kota itu seolah merubah mereka menjadi sosok asing, sedangkan aku masih anak kampung yang suka bermain layangan ketika kemarau, aku masih anak kampung yang suka berlarian di pematang sawah ketika musim panen tiba.. mana kukenal dengan Patung Selamat Datang, mana kutahu dengan Bundaran HI, apalagi Puncak Monas yang katanya berwarna emas.

Ah..aku cuma anak kampung yang tidak kenal dengan hiruk pikuk kemacetan ibu kota, yang tidak tahu betapa tercemarnya kota itu sehingga disebut-sebut sebagai salah satu penyumbang global dimming (pendinginan global) sebagai kelanjutan dari  global warming (pemanasan global). Pun mana kutahu tentang penurunan permukaan tanah kota itu setiap tahunnya karena tingginya beban bangunan dan eksploitasi air tanah yang berlebihan tentu saja. Yang aku tahu adalah kota itu sudah menahan teman-teman masa kecilku, mereka yang biasanya selalu kujahili. Teman-teman sekolahku, mereka yang sering kurepotkan. Teman-teman kuliahku, tempat pikiran-pikiran liarku berlabuh.


“kami tunggu di Jakarta” ujar mereka ketika kukatakan betapa ‘bencinya’ aku pada kota itu. “tidak perlu repot-repot menungguku yang tidak akan datang” ketus kujawab. “hanya kamu yang belum disini” lanjut mereka lagi. “Phuufft.. sampai saat ini aku belum tertarik, entah esok..” jawabku mengakhiri pembicaraan.

Sebuah Tanya*

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

*Soe Hok Gie


sisi lain

Ketika pertanyaan ini kuajukan pada beberapa orang laki-laki. Kebanyakan mereka tidak bisa (atau malah tidak mau) menjawabnya: jika perempuan tidak menyukai poligami karena sulit bagi mereka untuk ikhlas berbagi suami, maka apa kerugian bagi laki-laki sehingga ikut tidak menyukai poligami?

Jawaban yang sempat diterima:

  • Ø  Saudari tega sekali, jangankan punya istri dua, tiga Atau empat.. satupun saya belum punya
  • Ø  Tidak, terima kasih.. aku lebih suka setia pada satu hati (iya..selagi belum ada hati kedua)
  • Ø  Allah tidak menciptakan dua hati dalam satu rongga, mengapa harus kuisi ronggaku dengan dua hati.
  • Ø  Aku tidak menolak, jika ada yang mau jadi istri kedua
  • Ø  Tidak ada kerugian.. karena dasarnya sudah jelas.. saya malah sedang mencari istri kedua.
  • Ø  Berminat jadi istri kedua?
  • Ø  Aku setuju dengan poligami, tidak ada manusia yang sempurna bukan?
  • Ø Kerugiannya,,? entahlah.. saya cenderung memikirkan keuntungan dari pada kerugian

*teruntuk saudariku yang tengah berduka.. aku juga ingin tahu alasan yang menyebabkannya menguji ‘keadilan’ itu.. sehingga kukumpulkan sisi lain dari poligami bagi laki-laki, meski belum menemukan jawaban yang membuatnya mengurungkan niat.