L

Header Ads
Tiny Star

Hati perempuan laksana danau

kau tak akan tahu isinya kalau hanya sekadar mendayung perahu dipermukaan

Perjalanan...

Bersamamu ternyata jalan ini lebih indah, meski kadang tak mudah

Ketika kau bertanya apa warna yang kusuka

ketahuilah, bahwa aku suka sekali warna langit ketika matahari hendak bersembunyi

Indah?

...dan surga jauh lebih Indah

Menurutmu mana yang lebih kuat antara karang atau ombak?

Bagiku Ombak lebih kuat sebab meski tahu akan pecah tetapi dia tetap memenuhi janji pada pantai

:: teman masa kecil ::

Wow.. kejutan yang menyenangkan.. bertemu dengan teman masa kecil, yang dulu pernah kubuat menangis hanya karena perkara gantungan kunci. Ckckck.. sekarang dia sudah jadi penulis, hebat bukan? Tentu saja.. bagiku penulis itu selalu hebat, penulis adalah mereka yang bisa membangun rumah dengan rangkaian kata-kata, rumah berpintu lebar dimana tamu bisa masuk dan keluar, rumah dimana imajinasi dipersilakan tumbuh dan berbunga hingga mekar.

Sekilas tentang dia: tujuh tahun disekolah yang sama, tentu tidak semua cerita itu menjadi suka. Ada juga terselip tangis dan pertengkaran kecil.. (namanya juga anak-anak) ada juga persaingan nilai dimana aku selalu kalah.. haha.. terakhir bertemu disebuah warung bakso didekat rumah sakit. Kala itu dia dengan sang suami {sudah bersuami dia sekarang, kembali aku kalah (baca: tertinggal)}. Setelah itu tanpa kabar,, dan baru saja.. sebuah judul buku miliknya hadir di wall jejaring sosialku, Buku tulisannya mengenai indonesia-gaza. Hebat bukan??

He.. sejatinya aku kurang percaya diri membicarakannya apalagi jika nanti dia membaca tulisanku yang belum ada apa-apanya. Tapi biarlah.. bagaimanapun aku senang mendapati teman-temanku jadi orang hebat. Minimal untuk jaga-jaga ketika aku ragu untuk menjawab pertanyaan malaikat “apa kamu orang hebat?”, aku bisa sedikit berdalih “teman-temanku orang hebat, mala”. He..he..

The last.. Semoga tulisanmu dicatat sebagai amal dalam dakwah.. yang terus hidup melebihi usiamu, teman (amiin..)

Teruntuk Nina*

Kutulis surat ini ketika nina (mungkin) sedang makan siang. Ah.. hari ini aku tidak bisa memesan rangkap dua lagi seperti biasa. Disini lengang,, cocok sekali untuk menulis surat cinta (sudah lebih sepekan aku diminta)

Kumulai dari kebersamaan kita, dahulu kala.. kita sempat berkenalan di kampus. Itupun masing-masing sering lupa namatapi medium akhir september kemaren.. ketika kota bengkuang dan wilayah indonesia mulai menikmati hujan. Kita mulai juga untuk berkenalan lagi. Berkenalan tentang kebiasaan masing-masing, ah.. nina ingat ketika minggu awal aku hadir? Betapa pemarahnya aku, betapa kekanak-kanakannya, dan betapa lemahnya kontrol emosi kala itu. Namun semua berjalan, semua berjalan sambil terus membuatku belajar banyak hal,, darimu.

Aku ingat tentang perhatianmu ketika salah seorang adik kos kita menangis, aku juga ingat tentang kehadiranmu ketika salah seorang adik kos kita sakit, (betapa cueknya aku) Dan yang selalu kuingat adalah kesediaanmu menungguiku didepan pintu kamar mandi,, ketika aku ketakutan dengan suara hujan tapi belum gosok gigi dan berwudhu’ untuk tidur. 

Maaf kalo aku sering asal bicara, asal protes juga tentang sikapmu tanpa mempertimbangkan situasi hati saat itu, maaf sering mengisengimu, memaksamu mendengarkan celotehanku sebelum tidur padahal aku tahu bahwa matamu sudah sangat mengantuk.

baiklah nina.. terimakasih untuk semuanya.. 

*teruntuk: ‘tidak sengaja’ untuk

" Alif "


Baiklah.. akhirnya kubuatkan kamu sebuah surat lif.. surat terbuka yang aku yakin akan segera kamu baca,,

Maafkan aku (entah untuk kali keberapa). Maafkan aku karena telah membajak kebahagiaanmu, maafkan aku karena mengisi hari-harimu dengan rasa sakit setiap kali kerinduan itu dibunuh.

Berhentilah..

Sebab hanya akan melukaimu (dan juga aku). Cinta itu tidak rumit,, seperti yang sering aku dengungkan,, cinta itu sederhana lif. Aku tidak tahu bagaimana, tapi perasaan adalah perasaan: semakin kamu biarkan dia, semakin dia menguasaimu. Jadilah tuan untuk dirimu sendiri lif. Mungkin kamu akan berkata bahwa aku tidak mengerti, atau kamu katakan bahwa hanya Dia yang bisa menghentikan semuanya. Tapi tolonglah lif.. tolong jangan bebani aku dengan rasa bersalah, jangan buat aku merasa telah memadamkan dian yang kamu nyalakan petang itu.

Berbenahlah..

Simpan hatimu untuk seorang yang kelak bersedia jadi ibu bagi anak-anakmu, tata lagi dengan rapi semua yang mungkin pernah kuacak disana. Ayolah,, aku tidak ingin membuat bidadarimu nanti mencemburuiku. Dan jika dengan meninggalkanku (atau aku meninggalkanmu) adalah langkah terbaik, maka jangan ragu.. dan jika berat bagimu melakukannya,, biarkan aku.

Jika setelah ini kamu membenciku, tidak apa.. sebab setiap kisah selalu memiliki dua sisi, bukan?



Cs'an

Mengenal mereka akhir tahun.. ketika nasib mempertemukan kami di sebuah bimbingan belajar. Kami bukan sebuah ‘geng’, pun bukan sebuah kelompok kecil.. kami hanya merasa ada kesamaan kebutuhan, kepentingan dan kemudian keinginan.. hahaha,, terserahlah apapun namanya dan apapun penjelasannya.. nyatanya sekarang kami lebih sering berbagi cerita, berbagi weekend, termasuk berbagi es krim..


Orang pertama yang kukenali adalah diriku sendiri.. seorang yang cuek dan lebih sering ditoleransi karena jadwalku yang padat. Orang kedua adalah dewi,, jum’at siang kami bertemu.. orang ketika adalah anaknya bu yosa,, bertemu hari sabtu dan langsung kusadari betapa cerewetnya dia. Dan akhirnya kutemukan yuli.. ketika ujian tertulis di ITB 02.

Perjalanan pertama kami dimulai ke parak karakah.. aku baru tahu daerah itu ketika mencari bakso rasa soal kesana, dan dengan perut kenyang, kami masih saja disuguhi kue basah dan kue panggang.. benar-benar perjalanan rasa yang membuatku ingin mengeluarkan isi perut disepanjang ‘tapi aia’.. sungguh sangat kenyang.

Ah.. kebersamaan yang berhasil mengusir bosan akibat padatnya jadwal pekerjaan.. bersama berburu es krim, berburu baju batik, berburu waktu (antara jadwal kosongku dengan jadwal mengajar privat yang lain).

Masih ingat candle light dinner kita? Mujahidah es krim? Atau laskar pelangi?? Hahaha,.. moment yang membuat kita menyadari betapa konyolnya Cs’an. Ayo tebak,, kemana lagi loncatan kodok kita teman??

Gerimis

Mendung menggelayuti langit kota ketika adzan maghrib membawa langkahku kesebuah mushalla. Beberapa jamaah telah bersiap dengan mukena rapi.. berdiri disepanjang sajadah sambil sesekali melirik kiri-kanan. Aku segera berwudhu, tidak ingin tertinggal meski satu ruku’pun.

Selepas shalat aku langsung menuju tempat yang dituju, sebuah toko buku bertingkat tiga di jalan pemuda. Ada beberapa buku yang sedang kucari untuk tugas akhir kakakku. Langkahku sempat terhenti ketika informasi aroma sate dipinggir jalan sampai di otakku,, perutku berbunyi. Ah,, nanti saja pikirku dan meneruskan langkah.

Mendekati pukul 9 malam, aku masih belum menemukan buku yang kucari. Toko buku mulai sepi, beberapa orang mulai beranjak pulang mumpung hujan sudah sedikit reda. Kuputuskan juga untuk pulang.. tak ada gunanya aku berlama-lama disini.

“dilla?” sapa seseorang

Aku menoleh segera “ya?”

“kamu pasti sudah lupa denganku,, sudah lama kita tidak bertemu”

Bagaimana aku bisa lupa dengan mata itu, mata yang sempat menghanyutkanku. Bagaimana aku bisa lupa dengan tangan itu, tangan yang membuatku sangat ingin menyentuhnya.

“aku ingat” jawabku singkat, dan dia mengambil tempat disebelahku, sedikit jarak. Aku tidak suka situasi ini, situasi dimana hanya ada aku dan dia di halte lengang serta gerimis yang melambat ketika melewati lampu jalan.

“apa kabarmu?” suara beratnya kembali terdengar. Apa yang harus kujawab? Apa aku harus berkata bahwa aku masih merasa sakit ketika tanpa kabar dia menghilang.

“baik” satu kata yang membuat suasana beku..

“maaf tidak datang wisudamu, dimana kerja sekarang?”

Aku meliriknya lewat ujung mata, mengukur seberapa penyesalan yang ada ketika dia mengucapkan kata maaf. Tapi yang kudapati adalah tubuh kurus dengan wajah tirus.. dan baru kusadari,, dia berbeda jauh dengan terakhir kali kulihat.

“kamu sehat?” sedikit menyesal kalimat itu terlontar. Apa peduliku..!.

“alhamdulillah..” jawabnya tersenyum.

Hening sejenak, dan sebuah angkot menepi.

“aku duluan” tanpa menoleh aku meninggalkannya.. malam membawa kembali dia padaku, dia yang harus punya alasan mengapa tiba-tiba menghilang.

*bersambung

Djakarta


Kembali kota itu menjadi bayang-bayangku hari ini.
Baru saja abi menawarkan (baca: memberitahukan_red) bahwa jadwal ujianku kemungkinan pertengahan april,, dan kau sudah bisa menebak lokasinya bukan? Yaph.. tebakanmu tepat apabila berkata: jakarta.
Kota sumpek.. kota polusi.. kota yang nyaris tenggelam.. dan disana nanti aku ujian.
hm.. apa menariknya kota itu..!!!

Red Maple

setelah teratai.. aku ingin menanamnya.. meski kutahu, daerahku hanya dua musim.